{"id":42554,"date":"2020-05-23T01:53:10","date_gmt":"2020-05-22T18:53:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=42554"},"modified":"2020-05-21T01:07:52","modified_gmt":"2020-05-20T18:07:52","slug":"tradisi-kupatan-sebagai-tanda-berakhirnya-hari-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tradisi-kupatan-sebagai-tanda-berakhirnya-hari-lebaran\/","title":{"rendered":"Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di kota kita bisa beli ketupat sayur kapan pun kita mau, hal tersebut tidak akan bisa dilakukan di desa saya. Pasalnya, ketupat tergolong makanan yang langka di sini. Makan ketupat di desa saya itu sudah seperti ramainya masjid saat salat Ied, momen langka yang jarang ditemui. Hal ini disebabkan oleh sebuah tata nilai tak tertulis di sini bahwa ketupat itu hanya boleh dihidangkan pada hari ketujuh lebaran atau tanggal 7 bulan Syawal. Kalau ada yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngeyel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> makan atau masak ketupat di waktu yang lain, pasti akan kena sanksi sosial, minimal dihakimi dengan, \u201cKesambet apa? Hari gini kok masak ketupat? Lebaran masih lama.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun ketupat tergolong dalam makanan yang bisa dimasak kapan pun dengan bahan yang sangat mudah didapat, tetapi bagi warga di desa saya makan ketupat itu tidak sama dengan makan makanan yang lain. Ketupat di desa saya tidak digunakan sebagai hidangan hari pertama lebaran seperti yang ada di iklan televisi, melainkan pada hari ketujuh lebaran. Tentu hal ini bukan terjadi tanpa alasan, melainkan justru sarat makna dan simbol kesakralan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemilihan tanggal 7 Syawal sebagai hari untuk memakan ketupat adalah cara untuk menghormati dan turut berbahagia kepada orang-orang yang telah menyelesaikan puasa sunah bulan Syawal yang dilakukan pada tanggal 2-7 Syawal. Meskipun kalau saya lihat-lihat, sebenarnya tidak banyak tetangga saya yang ikut berpuasa Syawal, tetapi mereka tetap menaruh hormat bahkan mengharapkan keberkahan dari disunahkannya puasa Syawal enam hari tersebut. Oleh karena itu, mereka kemudian berbondong-bondong memasak ketupat untuk dibagikan kepada tetangga sekitar, dengan harapan barangkali ada salah seorang tetangganya yang sedang berpuasa dan memakan sedekah berupa ketupat tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daun kelapa yang masih hijau atau biasa disebut janur pun juga tidak sembarangan digunakan. Konon kosa kata bahasa Jawa \u201cjanur\u201d tersebut berasal dari gabungan kata dalam bahasa arab <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ja\u2019a nuur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang artinya kedatangan cahaya. Sehingga, membungkus ketupat menggunakan janur ini melambangkan harapan warga desa supaya kedatangan cahaya Ilahi dalam berbagai bentuk seperti jodoh, rezeki yang berlimpah, kebahagiaan, dan lain-lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ketupat sendiri dalam bahasa Jawa disebut \u201ckupat\u201d yang katanya merupakan kependekan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngaku lepat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau mengaku bersalah kepada sesama manusia, khususnya dalam kehidupan bertetangga. Oleh karena itu, memasak dan membagikan ketupat di hari ketujuh lebaran juga digunakan sebagai simbol perasaan saling memaafkan atas kesalahan atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kalepatan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> satu sama lain selama bertetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sekaligus sebagai penanda berakhirnya masa anjangsana atau saling berkunjung ke rumah-rumah. Kalaupun ada tamu yang masih silaturahmi, mungkin ya hanya tinggal satu dua orang. Tidak seperti tujuh hari pertama bulan Syawal yang memang disiapkan waktu dan tenaga untuk menerima berapa pun tamu yang datang. Bahkan, jika masih ada satu dua orang penting yang terlewat kita kunjungi atau belum mengunjungi kita, di hari ketujuh lebaran itu biasanya akan muncul rasa gundah gulana. Mirip seperti anak remaja yang menunggu balasan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari pacarnya. Akan ada pertanyaan di dalam diri, \u201cKenapa ya, apa dia marah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, karena momen saling mengantar ketupat ini hanya terjadi sekali dalam satu tahun, hal ini terkadang membuat semua orang berupaya memasak ketupat sebanyak-banyaknya untuk kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga. Tak jarang kemudian membuat orang-orang dengan kondisi ekonomi pas-pasan merasa sungkan jika tidak ikut memasak ketupat dan membagikan kepada tetangga. Padahal mestinya tradisi bagi-bagi ketupat ini menjadi momen bahagia, bukan ajang pamer kemampuan ekonomi. Tapi ya begitulah warga desa, kadang kohesivitasnya yang tinggi membawa keuntungan karena melahirkan rasa gotong royong, tetapi kadang juga membawa dampak yang kurang baik terhadap ketimpangan kondisi ekonomi warganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, tradisi kupatan ini tetap membahagikan, karena tidak hanya satu dua buah ketupat yang akan tersedia di atas meja. Makan seharian bahkan sudah dapat di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">supply <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dari tradisi saling berbagi ketupat ini. Untungnya lagi, karena dimasak dengan cara pemanasan yang lama, ketupat tidak mudah basi bahkan masih bisa dimakan hingga hari berikutnya tanpa berubah bentuk dan rasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ketupat yang lezat ini bisa menjadi penanda berakhirnya perayaan lebaran, masa penanda berakhirnya hubungan kita harus pakai orang ketiga, sih? Duh.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketupat di desa saya tidak digunakan sebagai hidangan hari pertama lebaran seperti yang ada di iklan televisi, melainkan pada hari ketujuh lebaran.<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":40506,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[342,6305,6832],"class_list":["post-42554","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-lebaran","tag-terminal-ramadan","tag-tradisi-kupatan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42554","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42554"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42554\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42554"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42554"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42554"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}