{"id":425505,"date":"2026-11-05T15:09:07","date_gmt":"2026-11-05T08:09:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=425505"},"modified":"2026-11-05T15:10:15","modified_gmt":"2026-11-05T08:10:15","slug":"sego-kucing-angkringan-yogyakarta-dari-logistik-perang-menjadi-kuliner-rakyat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sego-kucing-angkringan-yogyakarta-dari-logistik-perang-menjadi-kuliner-rakyat\/","title":{"rendered":"Cerita di balik sego kucing khas angkringan Yogyakarta: dari logistik perang menjadi kuliner rakyat"},"content":{"rendered":"<p><em>Sego kucing bukan cuma makanan murah penyelamat perut mahasiswa. Makanan ini punya peran penting dalam Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya mampir ke sebuah angkringan pinggir jalan untuk menikmati kuliner yang ramah di kantong. In this economy, ketika harga bahan pokok mengalami kenaikan, ada satu makanan yang tetap bertahan dengan harga bersahabat: <\/span><b>sego kucing<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Meski namanya terdengar seperti makanan untuk kucing, kuliner sejuta umat ini ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih besar. Di balik porsinya yang mungil dan harganya yang murah, tersimpan kisah tentang sejarah, ketahanan pangan, dan perjuangan rakyat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berasal dari Yogyakarta, sego kucing kini mudah dijumpai di berbagai daerah melalui warung-warung angkringan. Porsinya yang mungil, hanya sekepal nasi dengan secuil bandeng dan sedikit sambal. Malam itu, saya membeli dua bungkus karena rasanya satu saja tidak cukup untuk mengganjal perut. Ditambah gorengan tempe, sate usus, dan segelas es teh manis, semuanya hanya menghabiskan Rp10.000. Murah, sederhana, tetapi cukup mengenyangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menikmati sego kucing di angkringan, ditemani suasana malam Kota Sragen, mengingatkan saya pada beberapa tahun silam ketika melakukan riset mengenai kuliner ini untuk Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) di Universitas Padjadjaran pada 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu, Pak Aan, dosen kami yang berasal dari Yogyakarta, meminta saya dan dua teman lainnya yakni Jami dan mbak Iin meneliti sejarah kuliner pada masa perang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kami, topik ini terdengar tidak biasa. Selama ini, sejarah perjuangan kemerdekaan lebih sering diceritakan melalui pertempuran, strategi militer, tokoh-tokoh besar, dan peristiwa diplomasi. Jarang sekali makanan dibicarakan sebagai bagian penting dari perjuangan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami yakin hal ini pasti sangat menarik untuk ditulis sekaligus menantang karena selain sulit juga pasti seru. Jalan-jalan ke Jogja sambil mengulik kisah di balik makanan sederhana yang dahulu menjadi bagian dari logistik perjuangan bisa bertransformasi menjadi kuliner rakyat yang masih dinikmati hingga sekarang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mencari data seputar Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2019, sekitar 7 tahun yang lalu aku masih samar-samar ingat. Di sela-sela kuliah, kami jadi semakin sibuk mencari berbagai literatur, mengunjungi sejumlah tempat, dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah terkait judul tulisan untuk LKTIN kami. Beruntungnya saat itu belum masuk pandemi jadi kami bisa bebas pergi ke mana pun tanpa takut terkena lockdown.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yogyakarta menjadi tujuan utama penelusuran kami, karena kuliner ini memang berasal dari kota ini. Di sini kami menemukan banyak sekali arsip terkait terjadinya peristiwa besar yang pernah mengguncang Yogyakarta tahun 1948. Dalam sejarah Indonesia pun tercatat bahwa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kedatangan Jepang hingga Belanda, kemerdekaan Indonesia masih terasa semu. Belanda saat itu masih berupaya kembali menguasai Indonesia melalui berbagai cara, mulai dari jalur diplomasi hingga kekuatan militer. Singkat cerita, akhirnya pada 19 Desember 1948 Belanda <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Agresi_Militer_Belanda_II\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menyerang<\/a> Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam serangan inilah, para gerilyawan dan masyarakat sipil yang namanya bahkan tidak pernah tercatat dalam buku sejarah berusaha mati-matian untuk mengambil alih tanah kesultanan Yogyakarta. Mereka bekerja dalam senyap, jauh dari sorotan sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka adalah orang-orang yang membantu menyediakan kebutuhan para gerilyawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena ketahanan pangan pada saat itu sangat penting untuk amunisi para gerilyawan sehingga di sinilah peran perempuan dan masyarakat sipil menjadi sangat berarti. Mereka memasak, membungkus nasi beserta lauk menggunakan daun pisang, kemudian mendistribusikannya kepada para gerilyawan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kisah nasi nuk: makanan sederhana untuk para gerilyawan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika proses mencari data berlanjut, rasa penasaran kami tidak cukup melalui buku atau arsip saja. Lalu kami menemukan seorang pelaku sejarah yang terlibat dalam kejadian tersebut. Namanya Ibu Djuwariyah, veteran pasukan SWK 101.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu Djuwariyah saat itu sudah berusia lanjut. Usianya mungkin sekitar 70\u201380 tahun saat kami temui. Kondisi fisiknya tidak lagi begitu baik dan kesulitan berjalan. Namun, ada satu hal yang membuat kami cukup terkesan, ingatannya masih sangat baik dan beliau mampu menceritakan pengalaman masa lalunya dengan lancar. Sehingga sepanjaang proses wawancara dengan kami sangat memuaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhamdulillah ketika hadir di sana, kami disambut dengan hangat. Kami bahkan disuguhi cemilan oleh anaknya sehingga rasanya jadi sungkan. Percakapan yang awalnya terasa seperti wawancara penelitian perlahan berubah menjadi sebuah sesi mendengarkan cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau bercerita seperti seorang nenek yang menceritakan kisah jaman perang kepada cucunya. Kami menyimak setiap cerita, sesekali mengajukan pertanyaan, mencatat informasi penting, dan merekam percakapan agar tidak ada detail yang terlewat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari penuturan beliau, kami mulai memahami bahwa nasi nuk, sebutan sego kucing zaman dulu bukan sekadar makanan biasa. Ada cerita tentang bagaimana makanan tersebut disiapkan, siapa yang membuatnya, dan bagaimana keberadaannya sangat membantu para gerilyawan dalam mempertahankan perjuangan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kembali ke Yogyakarta di masa genting<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kami, pengalaman itu terasa berbeda dari sekedar membaca buku sejarah. Ada sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan dalam tulisan yakni intonasi ketika bercerita, jeda ketika mengingat masa lalu, serta ekspresi ketika kenangan itu muncul kembali saat diceritakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui cerita Ibu Djuwariyah, kami seperti diajak kembali ke masa ketika Yogyakarta berada dalam situasi genting. Ketika perang tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga di dapur-dapur rumah penduduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah situasi perang yang serba tidak menentu, menyediakan makanan untuk para gerilyawan bukanlah perkara mudah. Bahan pangan pada saat itu tidak selalu tersedia, sementara kebutuhan konsumsi para pejuang harus tetap terpenuhi. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat Yogyakarta bahu-membahu mengumpulkan bahan makanan dari apa yang mereka miliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang menyumbangkan hasil panen dari sawah, ada pula yang membawa hasil kebun untuk diolah bersama. Tempe, sayuran, dan berbagai bahan pangan lainnya dikumpulkan, kemudian dimasak di dapur umum. Dari bahan-bahan sederhana itulah nasi nuk disiapkan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sesuai ketersediaan pangan di daerah masing-masing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menu yang disajikan pun sangat sederhana dan bergantung pada ketersediaan pangan di daerah masing-masing sesuai kondisi geografisnya. Tidak selalu berupa nasi, terkadang makanan yang disediakan berupa umbi-umbian, jagung, atau cantel (tepung yang dihaluskan sebagai pengganti beras).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu cerita menarik yang kami peroleh dari kisah Bu Djuwariyah. Dalam membangun dapur umum di Kota Yogyakarta mereka tidak boleh menetap di satu tempat saja, jadi harus sering berpindah-pindah agar tidak mudah diketahui oleh pihak Belanda. Karena jika sekalinya ketahuan mungkin dapur tersebut tidak akan boleh beroperasi lagi dan para gerilyawan tidak akan bisa melanjutkan perjuangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah tersebut menunjukkan betapa pentingnya keberadaan dapur umum dalam mendukung Gerilyawan. Sebungkus nasi mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka yang berjuang di tengah perang, makanan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari makanan perjuangan menjadi kuliner rakyat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perang pada akhirnya selesai. Kota Yogyakarta yang dahulu dipenuhi ketegangan akibat perang perlahan kembali ke kehidupan yang normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring berjalannya waktu, kita jadi mengenal sego kucing sebagai salah satu kuliner khas angkringan Yogyakarta sebagai bagian dari perjuangan para perempuan dan masyarakat yang terlibat. Porsinya memang kecil, lauknya sederhana, dan harganya terjangkau. Namun, dibalik sederhananya makanan ini ternyata memiliki sejarah yang begitu besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan pun hadir di berbagai tempat dengan menghadirkan makanan dengan ciri khas yang sama \u201csederhana\u201d. Sego kucing yang kita lihat hari ini ternyata bentuk perjuangan para pahlawan yang bahkan tidak kita kenal namun semangat gotong royong yang diwariskan tetap hidup, bahkan dalam sebungkus nasi kecil yang kini kita nikmati di angkringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, tidak semua perjuangan harus dikenang melalui monumen atau nama jalan. Ada pula yang jejaknya tertinggal dalam tradisi sederhana masyarakat, yang terus hidup selamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun melalui pertempuran, diplomasi, atau keberanian para tokoh besar. Ada pula perjuangan dari rakyat kecil yang ikut andil dalam kemerdekaan Indonesia. Sejatinya Indonesia memang milik rakyat bukan segelintir penguasa dan tokoh besar saja.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Anis Fatimah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-kucing-satire-terbaik-untuk-pemerintah-yogyakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nasi Kucing, Satire Terbaik untuk Pemerintah Yogyakarta<\/a> <\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sego kucing bukan cuma makanan murah penyelamat perut mahasiswa. Makanan ini punya peran penting dalam Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta<\/p>\n","protected":false},"author":3386,"featured_media":425511,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[35546,1641,13753,35545],"class_list":["post-425505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-agresi-militer-belanda-ii","tag-angkringan","tag-angkringan-jogja","tag-sego-kucing"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3386"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=425505"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425505\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":425515,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425505\/revisions\/425515"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/425511"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=425505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=425505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=425505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}