{"id":425415,"date":"2026-11-05T13:43:29","date_gmt":"2026-11-05T06:43:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=425415"},"modified":"2026-11-05T13:43:29","modified_gmt":"2026-11-05T06:43:29","slug":"nyumbang-hajatan-budaya-gotong-royong-yang-berakhir-jadi-beban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nyumbang-hajatan-budaya-gotong-royong-yang-berakhir-jadi-beban\/","title":{"rendered":"Nyumbang hajatan, budaya gotong royong yang berakhir jadi beban"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan masyarakat Jawa tidak dapat dilepaskan dari serangkaian tradisi yang berkaitan dengan kegiatan saling membantu. Salah satunya ada tradisi di desa yang mungkin sudah sangat akrab dengan kehidupan kita: nyumbang hajatan, hajatan apa pun itu. Tetangga menikahkan anaknya, nyumbang. Saudara mengadakan khitanan, nyumbang. Kenalan jauh menggelar hajatan, tetap saja nyumbang. Ada bayi baru lahir, nyumbang lagi. Pokoknya, selama ada tenda berdiri dan undangan mampir ke rumah, dompet harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, nggak ada yang salah sama tradisi ini. Nyumbang adalah bentuk kepedulian dan gotong royong antarmasyarakat. Ketika seseorang mengadakan hajatan, kita sebagai tetangga, teman, dan saudara pasti datang membantu dengan membawa sembako, seperti beras, gula, dan minyak goreng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tak sedikit juga orang yang lebih memilih nyumbang sejumlah uang. Ada juga yang datang membantu dengan tenaga, seperti memasak dan mendirikan tenda. Harapannya, ketika kita mengadakan hajatan nanti, orang-orang juga akan melakukan hal yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedengarannya bagus dan berjiwa solidaritas, bukan? Namun, sayangnya dalam praktik kehidupan sehari-hari di desa, tradisi yang awalnya bertujuan meringankan beban orang lain ini justru terkadang menjadi beban baru bagi orang yang menyumbang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nominal nyumbang hajatan, bahan bakar nyinyir warga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan. Dalam satu bulan, ada empat undangan pernikahan yang mampir ke rumah. Belum termasuk undangan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/hikmah\/khazanah\/d-7395784\/khitanan-pengertian-hukum-dalil-dan-tata-caranya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">khitanan,<\/a> syukuran, dan hajatan lainnya. Kalau setiap undangan harus disertai amplop berisi uang Rp50.000, berarti sudah ada Rp200.000 yang harus direlakan. Itu pun belum menghitung ongkos bensin dan kebutuhan lain selama menghadiri acara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang yang penghasilannya cukup besar, mungkin nominal tersebut nggak jadi masalah. Namun, untuk mereka yang penghasilannya pas-pasan, uang Rp50.000 bisa saja berarti satu kali belanja kebutuhan dapur. Bahkan, mungkin cukup untuk membeli lauk selama beberapa hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya begini, di lingkungan masyarakat desa, kalau kita tidak datang ke kondangan terkadang dianggap anti-sosial dan kurang menghargai orang yang punya hajatan. Datang tanpa membawa sumbangan juga bisa membuat orang yang diundang merasa nggak enak hati. Kalau datang dengan sumbangan yang fantastis, malah pemilik hajatan yang jadi nggak enak hati. Sebab, mau berapa pun nominalnya, mau itu terlalu besar atau terlalu kecil, nama kita tetap masuk dalam top 5 trending topic gosip ibu-ibu tetangga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semua yang kita sumbangkan akan menentukan nasib kita di masa depan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih menarik lagi, tradisi nyumbang hajatan ini terkadang punya sistem pencatatan yang tidak kalah rapi dari administrasi perkantoran. Siapa menyumbang berapa, siapa membawa beras berapa kilogram, barang apa yang dibawa, semuanya bisa diingat dan dicatat oleh pemilik hajatan. Bahkan, ada semacam peraturan tidak tertulis bahwa orang yang dahulu menyumbang Rp100.000 sebaiknya menerima nominal yang kurang lebih sama ketika mengadakan hajatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, ini bukan lagi sekadar tradisi saling membantu. Rasanya seperti sistem tabungan bersama, tapi kita nggak pernah tahu kapan uangnya bisa dicairkan. Bedanya, nggak ada bunga, yang ada tekanan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih menyedihkan, kemampuan seseorang nyumbang hajatan terkadang dijadikan ukuran kepedulian. Padahal, kondisi ekonomi setiap orang tentu berbeda, kan? Ada yang bisa memasukkan uang ratusan ribu ke dalam amplop tanpa berpikir panjang, tapi ada juga yang harus berpikir berkali-kali hanya untuk mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, apakah orang yang menyumbang sedikit berarti tidak peduli? Tentu saja tidak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lihatlah sekeliling kita, kemampuan finansial semua orang tuh berbeda-beda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang mengajak kalian untuk menghapus tradisi nyumbang hajatan. Tradisi ini tetap baik dan layak dipertahankan. Namun, alangkah baiknya kalau kita juga belajar memahami kondisi ekonomi orang lain. Jangan sampai seseorang harus berutang atau menjual aset berharganya hanya demi menghadiri hajatan tetangganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh, membantu tidak selalu harus dengan uang. Ada yang bisa membantu memasak, membereskan kursi, mencuci piring, atau sekadar datang memberikan doa dan ucapan selamat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukankah itu juga bentuk kepedulian?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, hajatan seharusnya menjadi tempat orang-orang berbagi kebahagiaan, bukan tempat menguji ketebalan dompet. Jangan sampai orang yang menerima undangan justru merasa tertekan antara memikirkan isi kantong untuk membeli kebutuhan sehari-hari atau memasukkan uang ke amplop yang akan diberikan kepada pengantin.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Annisa Agrifina N Rofi&#8217;ah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/sumbangan-pernikahan-di-jogja-bikin-nelangsa-dan-menderita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Amplop Sumbangan Pernikahan: Utang Sosial di Jogja yang Bikin Nelangsa dan Tidak Bisa Disudahi Begitu Saja<\/a> <\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nyumbang hajatan ini lama-lama jadi beban yang memberatkan para tamu yang diundang. Sebab, kemampuan ekonomi orang beda-beda.<\/p>\n","protected":false},"author":3361,"featured_media":425495,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[363,12663,35543,11827],"class_list":["post-425415","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-hajatan","tag-khitanan","tag-nyumbang-hajatan","tag-sumbangan-pernikahan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425415","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3361"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=425415"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425415\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":425497,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425415\/revisions\/425497"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/425495"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=425415"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=425415"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=425415"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}