{"id":425321,"date":"2026-11-05T12:21:46","date_gmt":"2026-11-05T05:21:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=425321"},"modified":"2026-11-05T12:21:46","modified_gmt":"2026-11-05T05:21:46","slug":"pengalaman-perjalanan-surabaya-jogja-menggunakan-bus-eka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-perjalanan-surabaya-jogja-menggunakan-bus-eka\/","title":{"rendered":"Pengalaman perjalanan Surabaya-Jogja menggunakan Bus Eka: cepat, nyaman, dan lebih hemat ketimbang Kereta Sancaka"},"content":{"rendered":"<p><em>Bus Eka memberikan saya sensasi perjalanan Surabaya-Jogja yang berbeda dari Kereta Sancaka, andalan saya membelah Jawa<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya adalah tim naik kereta kalau ingin pergi ke Jogja. Sebagai warga Surabaya, kereta andalan saya adalah Sancaka. Keretanya nyaman, harga masih masuk akal, dan titik akhirnya adalah Stasiun Tugu yang berdekatan dengan pusatnya Jogja, Malioboro. Ibarat kata, perjalanan saya ke Jogja jadi lebih sat-set.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi di kesempatan lalu, saya akhirnya mencoba pergi ke Jogja dengan moda transportasi lain. Kali ini saya memilih naik bus AKAP, yaitu Bus Eka. Bus yang identik dengan tulisan \u201cCEPAT\u201d pada bodi atau kaca depannya. Bermodal keyakinan kalau pada akhirnya saya akan sampai di Jogja. Ternyata perjalanan itu jauh melebihi ekspektasi saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Biaya perjalanan jadi lebih irit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan paling utama saya memuji perjalanan menggunakan Bus Eka ini adalah soal biaya. Sebagai masyarakat desil menengah ke bawah, jika ada opsi jalan-jalan dengan biaya lebih murah, tentu saya akan memilihnya. Apalagi dengan fasilitas yang terbilang cukup setara\u2014sama-sama punya embel-embel eksekutif\u2014harga tiket KA Sancaka dan Bus Eka terpaut hampir 2 kali lipat untuk tujuan akhir Jogjakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bedanya, satu dikemudikan masinis dengan sensasi tenang, satunya dikemudikan sopir dengan sensasi salip-menyalip yang kadang bikin tegang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saya terkesan dengan perjalanan itu. Selain lebih irit soal biaya, waktu tempuh yang dibutuhkan juga tidak begitu jauh berbeda. Barangkali hanya sekitar satu jam. Bagi saya tidak masalah, sebagai petualang dengan dana kadang-kadang, saya tidak perlu membeli waktu. Hal paling penting adalah sampai tujuan dengan selamat. Tapi untungnya, selain tiba dengan selamat, perjalanan menggunakan Bus Eka juga tetap terasa nikmat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ternyata naik bus tetap menyenangkan walau tetap ada kurangnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi harus saya sampaikan kalau perjalanan ke Jogja dengan Bus Eka itu menyenangkan. Tapi, tetap ada beberapa hal yang menurut saya membuat KA Sancaka lebih superior. Pertama adalah soal kepastian jadwal keberangkatan. Kedua, situasi stasiun yang cenderung lebih aman daripada terminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, bus nggak punya toilet yang proper dan gerbong restorasi kayak kereta. Keempat, ini sangat subjektif, bagi saya suasana di kereta itu lebih estetik. Itulah beberapa hal yang menurut saya membuat kereta lebih superior. Meskipun demikian, kalau fokus kita hanya sampai di tujuan, fasilitas yang ditawarkan bus juga masih terbilang cukup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Naik Bus Eka memberikan pengalaman kalau di Jogja ada sudut lain bernama Terminal Giwangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah saya singgung di bagian pembuka, kalau naik KA Sancaka kita akan langsung tiba di pusat Kota Jogja. Bus Eka punya cerita berbeda, kalian yang masih awam dengan peta Jogja akan turun di sebuah terminal bernama Giwangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Terminal_Giwangan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Giwangan<\/a>, suasana khas terminal langsung menyambut. Bagi sebagian orang yang terbiasa dengan keteraturan stasiun kereta, hiruk-pikuk Giwangan mungkin terasa sedikit mengejutkan. Bau khas bensin bercampur aroma debu jalanan, suara tawaran dari para sopir angkutan lanjutan, hingga lalu-lalang penumpang dengan berbagai bawaannya menciptakan pemandangan kehidupan jalanan yang sesungguhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah letak seni dari perjalanan darat. Jika naik KA Sancaka membuat kita dimanjakan oleh keteraturan dan langsung mendarat di jantung kota, naik Bus Eka justru memaksa kita untuk beradaptasi sejak detik pertama kaki menjejak aspal terminal. Kita diajak untuk kembali membumi\u2014berinteraksi langsung dengan moda transportasi lokal, tawar-menawar harga angkutan, atau sekadar memilih rehat sejenak di angkringan yang tersebar sekitar terminal sambil memulihkan tenaga setelah berjam-jam duduk di kursi bus bagaikan raja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, pilihan antara kereta atau bus bukan lagi sekadar soal mana yang lebih superior secara fasilitas. Ini tentang bagaimana kita menikmati perjalanannya. Bus Eka mungkin tidak memberikan pengalaman berupa keestetikan, gerbong restorasi, atau toilet yang memadai. Tetapi ia memberikan kesan lain seperti biaya yang lebih ramah di kantong, serta pengalaman otentik yang membuat perjalanan ke Jogja punya cerita yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rahadi Siswoyo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/bus-eka-surabaya-jogja-lahir-untuk-menebus-dosa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bus Eka Surabaya Jogja Lahir untuk \u201cMenebus Dosa\u201d Tragedi Maut 1981, 30 Tahun Lebih Mengaspal Tak Berkhianat Soal Waktu <\/a><\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bus Eka memberikan saya sensasi perjalanan Surabaya-Jogja yang berbeda dari Kereta Sancaka, andalan saya membelah Jawa.<\/p>\n","protected":false},"author":2225,"featured_media":425472,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[31580,35541,35540,35542],"class_list":["post-425321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-bus-eka","tag-bus-surabaya-jogja","tag-kereta-sancaka","tag-kereta-surabaya-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2225"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=425321"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425321\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":425476,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425321\/revisions\/425476"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/425472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=425321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=425321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=425321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}