{"id":425054,"date":"2026-11-04T08:38:53","date_gmt":"2026-11-04T01:38:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=425054"},"modified":"2026-11-04T00:59:39","modified_gmt":"2026-11-03T17:59:39","slug":"makanan-nias-yang-serba-pedas-menyiksa-lidah-solo-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-nias-yang-serba-pedas-menyiksa-lidah-solo-saya\/","title":{"rendered":"Makanan Nias yang serba pedas menyiksa lidah Solo saya yang terbiasa rasa manis dan gurih"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">T<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">idak terasa sudah setahun saya merantau di Nias. Bagi saya, tidak ada hal lain yang bikin kepikiran di tempat ini kecuali urusan perut. Saya ingat betul, bagaimana seporsi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-dosa-makan-rendang-yang-jarang-disadari-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rendang<\/a> yang tampak pedas disuguhkan di hadapan saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Nias.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspresi saya pada waktu begitu ketara. Betapa takutnya saya memakan rendang itu. \u201cNggak apa-apa, nanti juga terbiasa,\u201d ucap tuan rumah meyakinkan saya untuk harus mencoba. Satu suapan, dua suapan, lalu saya meneguk air dingin. Tapi, saya tetap lanjut makan hingga sekujur tubuh mandi keringat, bibir memerah, desisan ular mulai nyaring, dan perut mulai mules.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setahun di Nias, saya bisa mengonfirmasi bahwa saya masih belum terbiasa dengan masakannya. Saya sudah banyak mencoba berbagai kuliner di rumah makan dan di pesta-pesta makan di sana. Lagi-lagi lidah ini masih perlu beradaptasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini membuat saya jadi rindu dengan masakan di Solo. Saya kangen makanannya yang manis, legit, gurih, dan cenderung tidak pedas. Berbeda dengan di Nias, rasanya cenderung asin, gurih, asam segar, dan ada pilihan pedas. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Disclaimer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan bermaksud merendahkan makanan tetapi ini hanya preferensi saya yang tentu berbeda dengan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut beberapa alasan yang membuat saya jadi rindu masakan khas Kota Batik ini, menurut keyakinan saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makanan di Nias mayoritas pedas, tidak seperti Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan apa pun pasti selalu terselip rasa pedas, padahal kita tidak memintanya. Seperti nasi goreng, lontong, bumbu sate, gulai, rendang, dan masih banyak lagi. Bahkan, ketika masih dirasa belum pedas, mereka menambah sendiri takarannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat bertanya mengapa mayoritas makanan rasanya pedas semua. Jawabannya sederhana saja, di lidah mereka, makanan tidak pedas rasanya hambar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah setiap masakan yang dibuat itu sudah dijadikan satu bumbu saja. Misalnya lontong, kita tidak bisa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">request<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak pedas. Penjual hanya membuat satu kuah yang dibuat dan itu pedas. Sama halnya dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/gulai-tambusu-dan-hal-hal-lain-yang-membedakan-nasi-kapau-dengan-nasi-padang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gulai<\/a> dan rendang yang sudah tersusun rapi di lemari pajangan lauk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga makanan yang dasarnya tidak pedas, tapi dicampur sambal. Seperti nasi uduk, sudah sering saya memesan agar tidak diberi sambal. Namun, karena tidak terbiasa, tangan penjual otomatis menambahkan sambel di atas nasi uduk itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada orang yang mengalami <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan kuliner Solo yang serba manis. Sebaliknya, saya malah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan berbagai makanan yang serba pedas di Nias.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sarapan mi putih atau mie kuning<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya berat sekali ketika pagi-pagi langsung mengonsumsi mi. Bayangkan, lambung baru saja bekerja keras menguraikan bekas makanan semalam, paginya dia langsung ekstra lagi untuk memproses mie. Herannya itu sangat laku dijual dan sering habis menjelang siang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, menu sarapan pagi selain mie sih masih ada. Seperti nasi uduk, nasi padang, bubur putih, bubur kacang hijau, dan kue-kue. Namun, mie putih dan kuning selalu memahami isi dompet kita. Dengan harga Rp. 3000 saja sudah bisa mengenyangkan perut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang untuk alasan menghemat, saya terpaksa membeli mie untuk mengganjal perut di pagi hari meskipun berujung mules.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu saya jadi rindu dengan kuliner-kuliner sarapan pagi ketika di Solo. Seperti, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nasi_kucing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sego kucing<\/a>, nasi liwet, nasi kuning, tempe mendoan, yang ramah kantung dan tentunya lambung aman.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Gulai harus menjadi santapan rutin setiap hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan saya dekat dengan salah satu rumah makan di Nias. Setiap ke sana saya selalu diberikan makanan secara gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Untuk menunya hampir semua yang dihidangkan adalah gulai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, hampir setiap selesai makan saya selalu absen di kamar mandi. Bukannya tidak bersyukur tetapi ini lah kenyataan pahit yang saya harus terima. Bahkan ketika saya konsultasi ke dokter terkait perut saya yang sering mules, dokter pun menyarankan untuk mengurangi mengonsumsi gulai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, solusi paling aman untuk menjaga agar lambung tetap terjaga adalah dengan memasak sendiri. Tentu saya hanya bisa memasak telur dengan berbagai model, seperti orak-arik, dadar, mata sapi, dan omelet. Bosan sih, tapi ya mau bagaimana lagi, saya bukan master chef yang bisa memasak apa pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar kata Dilan \u201cJangan rindu. Ini berat. Kau takkan kuat\u201d. Ketika pikiran ini mulai rindu dengan masakan khas Solo, saya hanya bisa menelan air liur. Langsung terbayang betapa nikmatnya duduk di Waduk Cengklik sambil menyantap soto ayam, atau pergi ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/9-rekomendasi-kuliner-di-pasar-gede-solo-yang-sayang-untuk-dilewatkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Gede<\/a> dan mencicipi setiap kuliner yang dijual di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurrahman Assa Adah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kebiasaan-warga-solo-yang-awalnya-saya-kira-aneh-tapi-lama-lama-saya-ikuti-juga\/\"><b><i>6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga<\/i><\/b><\/a><b> dan artikel menarik lainnya di <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\"><b>TERMINAL MOJOK<\/b><\/a><b>.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lidah Solo yang terbiasa dengan rasa manis, gurih, legit ini kaget mencicipi makanan Nias yang kebanyakan pedas. <\/p>\n","protected":false},"author":294,"featured_media":425125,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[438,462,35519,2240,33868,19411,2284],"class_list":["post-425054","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kuliner","tag-makanan","tag-makanan-nias","tag-makanan-pedas","tag-makanan-solo","tag-nias","tag-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425054","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/294"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=425054"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425054\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":425124,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425054\/revisions\/425124"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/425125"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=425054"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=425054"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=425054"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}