{"id":424804,"date":"2026-11-02T12:24:54","date_gmt":"2026-11-02T05:24:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=424804"},"modified":"2026-11-02T12:24:54","modified_gmt":"2026-11-02T05:24:54","slug":"pasangan-yang-males-bahas-politik-itu-memang-red-flag","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasangan-yang-males-bahas-politik-itu-memang-red-flag\/","title":{"rendered":"Pasangan yang males bahas politik itu memang red flag"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan buru-buru menikahi seseorang yang menganggap politik tidak penting. Bisa jadi, kelak kamu akan menghabiskan sisa hidup bersama orang yang tidak pernah tertarik mengetahui mengapa hidup kalian semakin mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedengarannya berlebihan? Saya juga tidak sedang menyarankan siapa pun mencari pasangan berdasarkan pilihan presiden atau partai politik. Namun, ada sesuatu yang patut dicemaskan dari orang yang selalu menghindar setiap kali persoalan publik dibicarakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu malam di warkop, saya makan ayam geprek bersama seorang teman dan gandengannya. Harga ayamnya naik lagi. Saya nyeletuk soal harga-harga di negeri ini yang senang sekali naik jegleg tanpa permisi. Si gandengan langsung menyahut, &#8220;Udah ah, males bahas politik,&#8221; lalu kembali menggulir video kucing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya diam. Entah mengapa, respons itu membuat saya berpikir lebih jauh. Jangan-jangan, memilih pasangan yang tidak peduli politik adalah salah satu keputusan yang kelihatannya sepele, tetapi bisa merepotkan di kemudian hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ini bukan soal harus jadi pengamat politik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang bilang pasanganmu wajib fasih membedah anggaran negara atau hafal semua nama menteri. Tidak perlu. Kita bicara hal yang lebih sederhana, yaitu apakah dia mau peduli pada hal-hal yang menyentuh hidup kalian berdua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang tidak paham politik itu wajar. Yang patut dipikirkan adalah orang yang menolak mau tahu, karena yang pertama bisa diajak belajar dan yang kedua sudah menutup pintu sebelum kamu sempat mengetuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bedanya tipis, tetapi dampaknya besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, politik sesungguhnya tidak tinggal di gedung parlemen, ruang sidang, atau layar televisi. Ia hadir di tempat-tempat yang mungkin tidak pernah kita anggap politis: struk belanja bulanan, tagihan listrik, harga beras, biaya pendidikan, sampai ongkos perjalanan untuk pulang ke rumah orang tua. Keputusan pemerintah bisa menentukan berapa banyak uang yang tersisa setelah gajian dan seberapa jauh rencana hidup yang bisa kita wujudkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, ketika seseorang berkata tidak mau membahas politik, saya selalu ingin bertanya: politik yang mana? Kalau yang dimaksud adalah pertengkaran antarpenggemar tokoh, saling lempar makian di media sosial, atau perdebatan yang berakhir dengan saling blokir, saya bisa memahami kejenuhannya. Namun, kalau yang dihindari adalah percakapan mengenai kebijakan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, persoalannya menjadi lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak sedang meminta pasangan menjadi komentator politik. Kita hanya berharap ia memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia yang sama-sama kita tinggali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kelak, persoalan rumah tangga tidak selalu selesai dengan uang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan kalian sudah menikah. Suatu ketika, harga kebutuhan pokok naik, biaya sekolah anak semakin mahal, atau salah seorang dari kalian kehilangan pekerjaan. Penghasilan yang sebelumnya cukup mendadak terasa pas-pasan. Kalian mulai menghitung ulang pengeluaran, menunda liburan, bahkan mengurangi kebutuhan yang sebelumnya dianggap biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam situasi seperti itu, politik tidak lagi menjadi bahan obrolan yang jauh dari kehidupan rumah tangga. Kebijakan ekonomi, kondisi lapangan pekerjaan, sistem pendidikan, dan layanan kesehatan ikut menentukan pilihan-pilihan yang tersedia bagi keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, tidak semua persoalan rumah tangga disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Ada urusan pengelolaan keuangan, kebiasaan konsumsi, dan keputusan pribadi yang harus dipertanggungjawabkan. Namun, menganggap seluruh kesulitan hidup semata-mata sebagai akibat kurang pandai mengatur uang juga sama kelirunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah pentingnya memiliki pasangan yang bersedia memahami keadaan. Kalian mungkin tidak selalu sepakat mengenai penyebab suatu persoalan, apalagi mengenai siapa yang harus disalahkan. Namun, setidaknya ada kemauan untuk mencari tahu sebelum mengambil kesimpulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membayangkan betapa melelahkannya hidup bersama seseorang yang selalu menganggap pembicaraan tentang keadaan negara sebagai gangguan suasana hati. Setiap kali ada kebijakan yang merugikan masyarakat, kamu ingin membicarakannya, sementara dia merasa percakapan itu tidak ada gunanya. Setiap kali kamu mengkhawatirkan masa depan, dia menganggapmu terlalu banyak pikiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-lama, yang bermasalah bukan lagi perbedaan pandangan politik. Yang bermasalah adalah perasaan sendirian ketika berusaha memahami keadaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika ketidakpedulian berubah menjadi sikap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada perbedaan antara seseorang yang lelah mengikuti berita dan seseorang yang merasa tidak perlu mengetahui apa pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua punya batas energi. Tidak setiap hari orang sanggup membaca kabar buruk, mengikuti perdebatan publik, atau memikirkan persoalan negara. Mengambil jarak dari berita sesekali justru bisa menjadi cara menjaga kesehatan pikiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, mengambil jeda berbeda dengan memelihara ketidakpedulian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang sedang lelah masih bisa diajak bicara pada kesempatan lain. Ia mungkin belum tahu persoalannya, tetapi bersedia mendengarkan. Ia bisa berkata, &#8220;Aku belum ngikutin beritanya. Emangnya ada apa?&#8221; Kalimat sesederhana itu menunjukkan bahwa pintu percakapan masih terbuka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, ada orang yang setiap kali mendengar persoalan publik langsung memasang tembok. Belum tahu duduk perkaranya, sudah malas mendengar. Belum memahami persoalannya, sudah menganggap orang yang membicarakannya sebagai manusia yang terlalu serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sikap semacam ini patut diperhatikan karena ketidakpedulian jarang berhenti pada satu topik. Ia bisa merembet ke persoalan lain yang membutuhkan kepekaan sosial. Ketika tetangga mengalami kesulitan, ketika ada ketidakadilan di lingkungan sekitar, atau ketika seseorang diperlakukan semena-mena, apakah ia juga memilih untuk tidak mau tahu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu, kita tidak bisa menilai seluruh karakter seseorang hanya dari satu respons di warung kopi. Namun, pola yang berulang layak menjadi bahan pertimbangan. Apalagi jika setiap percakapan yang menuntut sedikit kepekaan selalu dianggap sebagai sesuatu yang merepotkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira, dalam hubungan jangka panjang, kita membutuhkan seseorang yang tidak mudah berpaling dari kenyataan hanya karena kenyataan itu membuatnya tidak nyaman.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak harus sepakat perkara politik, yang penting mau berpikir bersama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya justru tidak terlalu khawatir apabila pasangan memiliki pandangan politik yang berbeda. Perbedaan pilihan dalam pemilu, misalnya, masih bisa dibicarakan selama masing-masing mampu menjelaskan alasannya dengan masuk akal dan menghormati hak orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, perbedaan pandangan bisa menjadi ruang belajar yang menarik. Kamu mungkin melihat suatu kebijakan dari sudut pandang ekonomi, sementara pasanganmu mempertimbangkannya dari sisi sosial. Kamu punya informasi yang belum dia baca, begitu pula sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percakapan seperti itu membutuhkan kesediaan untuk mendengar dan keberanian untuk mengoreksi diri. Tidak ada keharusan memenangkan setiap perdebatan. Ada kalanya kita memang perlu mengakui bahwa argumen pasangan lebih masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, hubungan yang sehat semestinya menyediakan ruang bagi dua orang untuk bertumbuh secara intelektual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu tidak harus memiliki pasangan yang selalu membenarkan pendapatmu. Kamu justru membutuhkan seseorang yang bisa mengajakmu memeriksa kembali keyakinanmu tanpa merendahkanmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang patut dikhawatirkan adalah ketika perbedaan pendapat selalu dianggap ancaman. Ketika pertanyaan sederhana dibalas dengan kemarahan, kritik dianggap sebagai serangan pribadi, dan setiap percakapan serius berakhir dengan permintaan agar semuanya diam saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau begitu, persoalannya sudah melampaui politik. Itu sudah harus memikirkan gimana caranya mengajak pasanganmu ke psikolog karena dia benar-benar batu!<\/span><\/p>\n<h2><b>Sebab, mencintai seseorang juga berarti peduli pada dunia yang akan kalian tinggali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, memilih pasangan adalah memilih seseorang yang akan menemani kita menghadapi kehidupan dalam waktu yang panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan itu tidak hanya berisi makan malam romantis, obrolan sebelum tidur, dan rencana liburan akhir tahun. Ada urusan pekerjaan, pendidikan anak, kesehatan orang tua, lingkungan tempat tinggal, sampai berbagai perubahan sosial yang tidak bisa kita kendalikan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita akan hidup di tengah masyarakat yang kebijakannya terus berubah. Ada keputusan yang menguntungkan, ada pula yang membuat hidup semakin sulit. Dalam keadaan seperti itu, rasanya menyenangkan memiliki pasangan yang bisa diajak membicarakan apa yang sedang terjadi tanpa harus merasa sedang mengganggu ketenangan rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak membutuhkan seseorang yang setiap pagi membangunkan saya dengan analisis <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Geopolitik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">geopolitik.<\/a> Saya hanya ingin seseorang yang ketika harga ayam geprek naik, tidak buru-buru menyuruh saya berhenti membicarakan politik. Setidaknya, ia mau bertanya mengapa harga itu naik dan siapa saja yang terdampak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh, kita tidak sedang memilih pasangan untuk menjadi teman makan ayam geprek seumur hidup. Kita sedang memilih seseorang untuk menjalani kehidupan yang persoalannya jauh lebih rumit daripada harga seporsi ayam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau ada yang menganggap malas membahas politik sebagai tanda kedewasaan, saya kira anggapan itu perlu diperiksa kembali. Ketenangan memang penting dalam hubungan, tetapi ketenangan yang dibangun dengan menutup mata terhadap keadaan sekitar patut dicurigai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, pasangan yang baik semestinya bisa diajak membicarakan masa depan. Dan masa depan, suka atau tidak, selalu punya urusan dengan politik.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Sayyid Muhamad<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/demo-date-ide-kencan-yang-romantis-dan-revolusioner\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Demo Date Jadi Pilihan Kencan Menggairahkan, Ciptakan Momen Romantis dan Ingin Jadi Saksi Revolusi Bersama Pasangan<\/a>\u00a0<\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, kalau ada yang menganggap malas membahas politik sebagai tanda kedewasaan, saya kira anggapan itu perlu diperiksa kembali.<\/p>\n","protected":false},"author":3038,"featured_media":424810,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[35493,35492,238,19730],"class_list":["post-424804","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-calon-pasangan-yang-baik","tag-pasangan-red-flag","tag-politik","tag-red-flag"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424804","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3038"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=424804"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424804\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":424812,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424804\/revisions\/424812"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/424810"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=424804"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=424804"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=424804"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}