{"id":424358,"date":"2026-10-29T09:41:47","date_gmt":"2026-10-29T02:41:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=424358"},"modified":"2026-10-29T09:41:48","modified_gmt":"2026-10-29T02:41:48","slug":"15-tanda-kamu-sudah-muak-tinggal-di-jogja-dan-pengin-pindah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/15-tanda-kamu-sudah-muak-tinggal-di-jogja-dan-pengin-pindah\/","title":{"rendered":"15 tanda kamu sudah muak tinggal di Jogja dan pengin pindah demi hidup yang lebih baik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang yang ingin hengkang dari Jogja itu sebenarnya nggak benci sama kota ini. Mereka cuma <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berat-merantau-di-jogja-diserang-umr-rendah-dan-kesepian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lelah dan butuh hidup yang lebih baik aja<\/a>. Saya rasa, orang dalam dari pemerintahan bernama Jogja pasti paham akan masalah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu tahap dalam hidup sebagai warga Jogja yang jarang bareng bisa jadi cerita. Bukan soal macet, bukan juga tahap ketika kamu berhenti percaya pada janji penataan trotoar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap yang saya maksud adalah ketika kamu mulai membuka portal lowongan kerja untuk kota lain. Sekali lagi, bukan karena nggak sayang Jogja, tapi karena kamu sudah kehabisan cara untuk membenarkan angka-angka di rekeningmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah melewati tahap itu. Dan kalau kamu merasa tulisan ini terlalu dekat dengan isi hatimu, mungkin kamu juga sudah ada di tahap yang sama.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kamu lupa kapan terakhir gajimu cukup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiap Desember kamu menunggu pengumuman upah minimum seperti orang menunggu keajaiban. Tahun 2026, angka itu keluar: Rp2.417.495. Naik 6,78%, atau bertambah Rp153.414 dari tahun sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu hafal angka itu karena selalu kamu bandingkan diam-diam dengan temanmu yang kerja di Jakarta. Di sana, UMP-nya Rp5.729.876. Artinya, satu bulan kerja di Jakarta setara 2,37 bulan kerja di Jogja dengan standar upah minimum.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kamu mulai curiga kamunya yang nggak tumbuh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2025, ekonomi DIY tumbuh 5,49%. Angka itu tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan nasional. Hebat. Kita semua boleh bangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di rilis yang sama, BPS juga menyebut 422,79 ribu warga DIY masih hidup di bawah garis kemiskinan, atau 10,08% dari total penduduk. Angka kemiskinan nasional saat itu 8,47%. Jadi, kita punya provinsi yang ekonominya tumbuh paling kencang di Jawa sekaligus punya proporsi penduduk miskin yang lebih tinggi daripada rata-rata Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu mulai bertanya. pertumbuhan itu tumbuh di mana, dan siapa yang ikut naik?<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kamu sadar mesin pertumbuhan kota ini adalah proyek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendorong utama ekonomi DIY 2025 adalah konstruksi, yang tumbuh 8,12% berkat tol Jogja\u2013Solo, tol Jogja\u2013Bawen, gedung DPRD, sampai revitalisasi sekolah. Sebuah kajian di Jurnal REGION UNS (2026) bahkan menghitung, investasi tol di DIY mencapai Rp18,99 triliun dan berpotensi menyerap 203.567 tenaga kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedengarannya bagus, sampai kamu sadar bahwa 130.819 dari angka itu bekerja di sektor konstruksi. Sebuah sektor yang hidup selama proyek jalan, lalu selesai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara kamu bekerja di kantor, kafe, hotel, atau toko yang tidak pernah muncul di siaran pers investasi. Kamu menonton mesin pertumbuhan itu dari balik pagar proyek. Sambil nangis karena kamu udah bingung mau utang sama siapa lagi buat nutup operasional harian sampai gajian berikutnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kamu merasa nggak dekat sama Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maret 2024, gini ratio DIY 0,435 dan menjadi yang tertinggi se-Indonesia. Maret 2025, angkanya 0,426 dan masih peringkat dua nasional setelah Jakarta, sementara rata-rata nasional hanya 0,375. September 2025 angkanya turun ke 0,414, tapi posisinya tetap di tiga besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu tidak perlu membaca gini ratio untuk merasakannya. Kamu cuma perlu melihat satu jalan. Di ujung sana ada kafe dengan kopi Rp35 ribu, di ujung sini ada warung dengan nasi Rp10 ribu, dan keduanya berjarak 500 meter.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Gaji minimummu naik Rp153 ribu, harga rumah seken di Jogja naik 10,9%<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan perbandingan yang adil, dan justru itu masalahnya. Rumah123 Flash Report Mei 2025 mencatat, harga rumah seken di Jogja naik 10,9% secara tahunan. Angka itu tertinggi di antara 13 kota besar yang mereka pantau, jauh di atas rata-rata 1,1%. Selisih antara <a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/6038478\/harga-rumah-second-di-yogyakarta-naik-paling-tinggi-pakualaman-favorit-kelas-atas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kenaikan harga properti<\/a> Jogja dan inflasi kota ini mencapai 8,9%, juga tertinggi nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu inflasi DIY pada September 2026 sebesar 3,18% secara tahunan. Kamu bisa menghitung sendiri siapa yang menang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Kamu sudah tahu rumah di bawah Rp300 juta itu cuma mitos<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketua DPD REI DIY bilang terus terang. Rumah di bawah Rp300 juta stoknya habis, dan kalau masih ada, lokasinya sudah masuk Klaten. Sementara plafon rumah subsidi di DIY hanya Rp166 juta, dan tipe yang masuk kategori itu tinggal tipe 30.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, para pengembang menilai kenaikan nilai tanah di Jogja lebih cepat daripada bunga bank. Artinya, kota ini sudah lama berhenti menjadi tempat tinggal dan mulai berubah menjadi aset. Kamu tinggal di dalam aset orang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Kamu mulai menghitung bensin sebagai pos pengeluaran serius, bukan sisa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juli 2026, kelompok transportasi di DIY mencatat inflasi 4,51% dengan andil 0,58% terhadap inflasi, dan pemicu utamanya harga bensin. Sementara beras masih jadi komoditas penyumbang inflasi bulanan pada September 2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu kamu motoran tanpa mikir. Sekarang kamu menghitung. Kalau naik motor ke kantor 20 kilometer pulang-pergi, biaya bensin bulan ini setara dua kali makan di tempat yang layak. Dan kamu mulai mempertimbangkan untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-warga-kota-jogja-kena-gusur-terpaksa-pindah-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pindah kos lebih dekat<\/a>, walau kos dekat kantor harganya sudah tembus Rp1 juta per bulan untuk kamar yang benar-benar layak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Kamu kerja, tapi di laporan statistik statusmu &#8220;informal&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Februari 2026, BPS DIY mencatat proporsi pekerja formal di Jogja hanya 46,02%, bahkan turun 1,10 poin dari tahun sebelumnya. Artinya lebih dari separuh pekerja di provinsi ini bekerja di sektor informal. Sebelumnya, Februari 2025, angkanya 52,88% informal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu mengenali dirimu di baris itu: yang tidak punya kontrak, tidak punya pesangon, tidak punya jaminan kecuali kemampuanmu tersenyum ke pelanggan. Dan kamu mulai paham kenapa libur nasional terasa seperti ancaman, bukan kabar baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Kamu lulus S1 tapi gelar itu yang bikin kamu susah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka lulusan D4, S1, S2, dan S3 di DIY mencapai 5,28%, sementara lulusan SMP hanya 2,04%. Jadi, makin tinggi pendidikannya, makin besar peluangmu menganggur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara nasional, jumlah penganggur berlatar pendidikan D4 sampai S3 sudah menembus 1,03 juta orang, atau 14,31% dari total penganggur pada Sakernas Mei 2026. Dan Jogja, adalah kota yang setiap tahun mencetak ribuan orang seperti kamu, dari kampus yang katanya terbaik.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Kamu tinggal di kota dengan pengangguran tertinggi di provinsinya sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Jogja mencatat TPT 5,72%, atau sekitar 12.473 jiwa, sementara angka provinsi hanya 3,46%. Yang menarik, <a href=\"https:\/\/yogyakarta.kompas.com\/read\/2026\/07\/14\/083400178\/angka-pengangguran-di-kota-yogyakarta-didominasi-usia-produktif-35-tahun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penganggur di kota ini<\/a> bukan lulusan baru. Kelompok usia 35 tahun ke atas mendominasi jumlah itu, dan sekitar 800 orang dari 2.336 penganggur yang tercatat resmi sudah &#8220;enggan bekerja&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu membacanya dua kali. Pertama sebagai berita, kedua sebagai peringatan. Kalau kamu kehilangan pekerjaan di usia 35 nanti, kota ini tidak menyiapkan kursi untukmu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#11 Kamu punya teman yang tiba-tiba jadi driver bajaj<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Januari sampai September 2026, Disnakertrans DIY mencatat 1.550 pekerja yang kena PHK. Sleman jadi wilayah terbanyak dengan 618 pekerja, disusul Kota Jogja 503 pekerja. Sektornya bukan sektor yang jauh dari hidupmu: BPO, industri, jasa keuangan, perhotelan, ekspedisi, kesehatan, ritel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, jumlah penganggur DIY justru naik jadi 70.560 orang pada Mei 2026. Dan Tribun Jogja mencatat cerita seorang warga yang setelah kena PHK akhirnya menerima tawaran jadi driver bajaj. Kamu membaca namanya, lalu diam-diam memikirkan namamu sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#12 Kamu makin sering membuka kolom pencarian: &#8220;gaji UI\/UX Jakarta fresh graduate&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan pengkhianatan, ini aritmatika. Kalau kamu pindah ke Jakarta dengan posisi dan beban kerja yang mirip, gaji minimum di sana Rp5.729.876, Jawa Timur Rp2.446.880, Jawa Tengah Rp2.327.386, Jogja, Rp2.417.495. Kamu sudah menyusun simulasi di kepala: biaya kos, biaya makan, biaya pulang kampung tiap lebaran, dan sisa yang bisa kamu tabung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka sisanya selalu lebih besar di luar sana. Itu bagian yang paling menyakitkan, karena kamu tidak sedang membicarakan gaya hidup, kamu sedang membicarakan kemampuan menabung.<\/span><\/p>\n<h2><b>#13 Kamu sadar &#8220;Jogja murah&#8221; itu cuma benar buat orang yang datang bawa gaji Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja murah kalau kamu membandingkannya dengan Jakarta, dan perbandingan itu selalu kamu dengar dari orang yang tidak tinggal di sini. Buat kamu yang gajinya Rp2,8 juta dan kosnya Rp1 juta, kota ini tidak murah. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-indah-tentang-jogja-yang-ternyata-hanyalah-mitos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota ini cuma tampak murah dari luar<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekonomi DIY tumbuh 5,49%, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89%. Tapi, konsumsi yang tumbuh itu bukan konsumsimu. Itu konsumsi orang yang datang untuk berlibur, beli tanah, atau buka cabang usaha. Kamu yang tinggal di sini cuma dapat peran sebagai latar.<\/span><\/p>\n<h2><b>#14 Kamu melihat coffee shop baru di Jogja tiap minggu, dan kamu tahu itu bukan tanda kota ini makmur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kafe di Jogja tumbuh seperti lumut di musim hujan, dan kamu sudah lelah mendengar orang menyebutnya bukti &#8220;ekonomi kreatif&#8221;. Sebagian dari kita memang datang ke sana bukan untuk gaya hidup, tapi untuk mencari jeda dari tekanan yang sumbernya juga uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kota ini membuat kamu membayar Rp25 ribu untuk bisa berhenti sejenak memikirkan gaji Rp2,8 juta. Kamu menyebutnya self reward. Kamu tahu itu sebenarnya biaya bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<h2><b>#15 Kamu masih cinta Jogja dan justru itu bagian tersulitnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bagian yang paling berat. Kamu masih suka suara gamelan dari kejauhan, masih suka nasi tiwul di pojok pasar, masih hafal jalan tikus yang bikin kamu sampai kantor 10 menit lebih cepat. Kamu tidak ingin kota ini berubah jadi tempat yang tidak kamu kenali. Dan pada akhirnya, kamu cuma ingin kota ini berhenti memperlakukanmu sebagai orang asing di rumah sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi cinta tidak bisa membayar kos, menutup selisih antara kenaikan harga rumah 10,9%, dan kenaikan gajimu Rp153 ribu. Jadi kamu mulai membuka aplikasi pencarian kerja, membaca harga tiket bus ke kota lain, dan menghitung ulang semuanya untuk kesekian kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kamu tahu, di titik itu, keputusan pindah bukan lagi soal benci atau cinta. Keputusan itu soal hitungan yang berkaitan dengan kehidupan yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malioboro-makin-laku-dijual-tetapi-makin-sulit-dicintai-warga-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malioboro makin laku dijual, tetapi makin sulit dicintai warga Jogja<\/a> dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TERMINAL MOJOK<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keputusan pindah dari Jogja bukan lagi soal benci atau cinta. Keputusan itu soal hitungan yang berkaitan dengan kehidupan yang lebih baik.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":424359,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26035,21900,115,35457,28887,34170,35458,35456,9577],"class_list":["post-424358","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-biaya-hidup-di-jogja","tag-gaji-jogja","tag-jogja","tag-jogja-bikin-muak","tag-jogja-murah","tag-kafe-di-jogja","tag-kos-layak-di-jogja","tag-muak-di-jogja","tag-umk-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=424358"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424358\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":424360,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424358\/revisions\/424360"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/424359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=424358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=424358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=424358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}