{"id":424174,"date":"2026-10-28T10:59:36","date_gmt":"2026-10-28T03:59:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=424174"},"modified":"2026-10-28T10:59:36","modified_gmt":"2026-10-28T03:59:36","slug":"coffee-shop-ramai-padahal-ekonomi-nggak-baik-baik-aja-soalnya-semua-orang-stres","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/coffee-shop-ramai-padahal-ekonomi-nggak-baik-baik-aja-soalnya-semua-orang-stres\/","title":{"rendered":"Coffee Shop makin ramai padahal ekonomi lagi nggak baik-baik aja, soalnya semua orang lagi stres!"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, ngopi di coffee shop adalah bagian dari gaya hidup. Sementara sebagian lainnya menjadikan kegiatan itu sebagai cara bertahan hidup. Keduanya ini berbeda.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semenjak saya pulang ke Indonesia, saya menyaksikan secara nyata bahwa ekonomi masyarakat sedang nggak baik-baik saja. Kondisi yang paling banyak saya lihat adalah<\/span><a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/pengusaha-mal-perkirakan-kenaikan-harga-tembus-30-persen-jelang-akhir-tahun\"> <span style=\"font-weight: 400;\">harga barang naik<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> drastis tapi pendapatan masyarakat segitu-segitu aja. Teman-teman yang dulu punya pekerjaan, kini harus mulai mencari pekerjaan lagi dari nol. Pun mereka yang sejak awal kesulitan cari kerja, harus menghadapi persaingan yang lebih berat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di media sosial pun banyak banget orang yang speak up soal kondisi ekonomi negara kita.<\/span><a href=\"https:\/\/data.goodstats.id\/statistic\/survei-celios-75-responden-mengaku-stres-akibat-kebijakan-pemerintah-NLlet\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Survei<\/span><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menemukan bahwa sebanyak 82 persen responden merasa pajak dan pungutan dari pemerintah terlalu berat. Masih dari survei yang sama, 53 persen responden menyebut kondisi ekonomi rumah tangga mereka semakin memburuk dibandingkan tahun sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudahlah ekonomi lagi jeblok, masih banyak pula ujian kita sebagai WNI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi di tengah karut marut ekonomi ini, saya juga menyadari suatu hal: coffee shop, terutama yang ada di Jogja tempat saya tinggal, justru makin menjamur dan pelanggannya pun selalu banyak. Bagi orang awam mungkin akan melihat fenomena ini sebagai suatu anomali. Ekonomi terpuruk, duit susah dicari, tapi kok orang-orang masih sempat nongkrong di coffee shop?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kita nggak selalu butuh kopi, tapi kita butuh keluar dari kepenatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, ngopi di coffee shop adalah bagian dari gaya hidup. Sementara sebagian lainnya menjadikan kegiatan itu sebagai cara bertahan hidup. Keduanya ini berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah ketidakpastian ekonomi seperti sekarang ini, nggak sedikit orang yang merasa terkungkung dan tertekan jika berada di rumah. Beberapa teman saya pernah bercerita, mereka nggak tahan berada di rumah karena tuntutan dari orang tua untuk segera punya pekerjaan yang mapan, menikah, dan punya keturunan. Padahal cari kerja di zaman sekarang<\/span><a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/lifestyle\/20260902082231-33-764219\/sulitnya-cari-kerja-sudah-kirim-5000-lamaran-masih-menganggur\"> <span style=\"font-weight: 400;\">susah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Mengumpulkan modal untuk menikah dan mengurus anak pun bukan perkara mudah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka pengin kabur tapi di saat yang sama punya kewajiban untuk mengurus orang tua yang sudah lansia. Alhasil, pelarian mereka adalah bertemu dengan teman, ngobrol ngalor-ngidul di coffee shop, dan pulang ke rumah dengan sedikit kewarasan yang berhasil mereka dapatkan kembali. Soalnya, di tengah tekanan hidup, bertemu teman adalah bentuk dukungan sosial.<\/span><\/p>\n<h2><b>Coffee shop, tempat yang paling terjangkau untuk nongkrong<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, coffee shop tumbuh subur bagaikan lumut di musim hujan. Saya yang baru dua tahun merantau dan kembali ke Jogja saja kaget karena banyak sekali coffee shop baru di sini. Tapi lama kelamaan saya memahami bahwa coffee shop memang tempat yang paling terjangkau untuk healing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coffee shop menawarkan suasana nyaman dengan ruangan ber-AC, cocok untuk mendinginkan badan di tengah cuaca Jogja yang sempat gerah, sekaligus mendinginkan pikiran yang ruwet dan buntu. Musik dan suara orang mengobrol di coffee shop juga menjadi background music untuk sejenak menjauh dari masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita nggak perlu merencanakan perjalanan jauh atau terlalu effort untuk bisa menikmati fasilitas-fasilitas tersebut. Dibandingkan dengan mencari ruang terbuka hijau yang memang langka di Jogja maupun jauh-jauh ke gunung atau pantai, rasanya coffee shop lebih masuk akal untuk dijadikan sebagai lokasi darurat penyembuhan pusing dan overthinking. Cukup motoran sebentar, kita sudah menemukan tempat duduk, memesan minuman dingin, dan mengistirahatkan pikiran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sayangnya semua aktivitas sosial sudah dikomersialisasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keramaian coffee shop menurut saya bukan selalu soal gaya hidup konsumtif. Seperti yang saya bilang di awal, coffee shop kini menjadi penjaga kewarasan bagi banyak orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, di tengah kebutuhan kita akan fasilitas untuk menghadapi stres, semakin banyak aktivitas sosial yang mengharuskan kita untuk membayar. Kalau kata orang, \u201cZaman sekarang mana ada yang gratis?\u201d Anggapan tersebut memang benar, tapi itulah ironinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mendapatkan jeda dari stres kehidupan, kita perlu mengeluarkan uang. Bahkan untuk beristirahat dari kepala yang mau meledak setelah memikirkan kondisi ekonomi, kita tetap harus beli sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja. Kita sedang hidup di tengah tekanan ekonomi yang membuat kita cemas soal uang. Kita lagi stres sama pekerjaan, gaji terasa nggak cukup, dan masa depan semakin nggak pasti. Kita lalu memutuskan untuk pergi ke coffee shop, membeli minuman seharga Rp25 ribu ke atas, lalu duduk beberapa lama agar perasaan dan pikiran kita sedikit lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita merasa pengeluaran ini sepadan. Tapi ironisnya, untuk menghibur diri kita tetap harus mengeluarkan uang. Padahal sumber kepenatan dan tekanan yang kita rasakan juga bersumber atau berkaitan dengan uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, menurut saya terlalu prematur kalau ada orang yang menyimpulkan bahwa nongkrong di coffee shop di tengah kondisi ekonomi yang seperti ini adalah golongan orang kaya atau nggak bijak mengelola uang. Padahal kita ke coffee shop murni untuk menenangkan diri untuk bisa kembali nyemplung ke lembah stres saat kerja dan memenuhi ekspektasi orang tua keesokan harinya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-sudah-terlalu-banyak-coffee-shop-yang-kita-butuhkan-ruang-terbuka-hijau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau <\/a><\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi sebagian orang, ngopi di coffee shop adalah bagian dari gaya hidup. Sementara sebagian lainnya, ini sebagai cara bertahan hidup.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":424186,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[635,23559,35449],"class_list":["post-424174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-coffee-shop","tag-coffee-shop-jogja","tag-ekonomi-negara"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=424174"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424174\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":424187,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424174\/revisions\/424187"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/424186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=424174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=424174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=424174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}