{"id":423415,"date":"2026-10-24T13:28:07","date_gmt":"2026-10-24T06:28:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=423415"},"modified":"2026-10-24T13:28:07","modified_gmt":"2026-10-24T06:28:07","slug":"malioboro-makin-laku-dijual-tetapi-makin-sulit-dicintai-warga-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malioboro-makin-laku-dijual-tetapi-makin-sulit-dicintai-warga-jogja\/","title":{"rendered":"Malioboro makin laku dijual, tetapi makin sulit dicintai warga Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang tinggal dan menjalani kehidupan di Jogja, saya tidak bisa melihat perubahan Malioboro hanya dari sudut pandang wisatawan. Saya tidak cukup puas dengan penilaian bahwa kawasan ini semakin tertata, semakin ramai, atau semakin menarik untuk dikunjungi. Sebab, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: perubahan ini sebenarnya membuat kehidupan masyarakat Jogja semakin baik atau justru membuat sebagian dari kami semakin asing di kota sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menolak kemajuan. Saya juga tidak meminta Malioboro dipertahankan dalam kondisi masa lalu. Namun, saya merasa ada sesuatu yang keliru ketika keberhasilan sebuah kawasan terlalu sering diukur dari daya tarik wisatanya. Sementara pengalaman warga yang hidup di sekitarnya, tidak memperoleh perhatian yang sebanding.<\/span><\/p>\n<h2><b>Malioboro semakin cantik untuk siapa?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/dishub.jogjaprov.go.id\/bidang-lalu-lintas\/percepatan-penataan-malioboro-menuju-low-emission-zone-dishub-diy-perkuat-sinergi-dengan-pemkot-yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Penataan<\/a> Malioboro membawa perubahan yang mudah dilihat. Trotoar menjadi ruang utama pejalan kaki, kawasan lebih tertata, dan wajah jalan semakin cocok ditampilkan dalam foto promosi pariwisata. Dari sudut pandang pengunjung, perubahan tersebut tentu bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya merasa persoalan Malioboro tidak selesai hanya dengan membuatnya terlihat lebih indah. Kota bukan produk yang cukup dinilai berdasarkan kemasan. Ada masyarakat yang hidup di dalamnya, mencari nafkah, melewati jalanannya, dan menjadikan kawasan tersebut bagian dari pengalaman sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Malioboro semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata, muncul pertanyaan mengenai siapa yang paling banyak menikmati hasil perubahan itu. Apakah manfaat ekonomi benar-benar dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal? Apakah pedagang kecil, pekerja informal, dan warga biasa memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan di tengah perubahan tersebut?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keramaian wisatawan memang dapat menggerakkan ekonomi. Namun, ramainya pengunjung tidak otomatis berarti seluruh masyarakat memperoleh keuntungan yang setara. Ada pelaku usaha yang mungkin menikmati peningkatan penjualan, tetapi ada pula warga yang harus beradaptasi dengan perubahan akses, pola aktivitas, dan kondisi ruang publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah kritik saya bermula. Pemerintah dan pengelola kawasan tidak cukup hanya menunjukkan bahwa Malioboro semakin ramai dan tertata. Keberhasilan penataan juga semestinya dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat yang sehari-hari berhubungan dengan kawasan tersebut. Kalau sebuah tempat semakin membanggakan untuk dipamerkan, tetapi sebagian warganya justru merasa semakin jauh dari tempat itu, bukankah ada sesuatu yang patut dipertanyakan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Warga bukan figuran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi wisatawan, kepadatan Malioboro mungkin merupakan bagian dari pengalaman liburan. Bagi masyarakat yang memiliki urusan pekerjaan atau aktivitas lain di kawasan sekitarnya, keramaian yang sama bisa berarti waktu perjalanan yang lebih panjang dan aktivitas yang semakin merepotkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan pengalaman ini sering luput ketika pariwisata hanya dibicarakan dari sisi positifnya. Orang dengan mudah memuji keramaian karena dianggap menghidupkan kota, tetapi tidak selalu membicarakan beban yang mungkin menyertainya bagi warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang menyalahkan wisatawan. Mereka datang karena Malioboro memang dipromosikan sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi. Yang saya persoalkan adalah cara kita memandang kota seolah-olah kepentingan pengunjung selalu layak menjadi prioritas, sementara kebutuhan warga cukup disuruh menyesuaikan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga Jogja bukan figuran yang bertugas membuat suasana kota terlihat autentik di mata wisatawan. Kami bukan sekadar orang-orang yang kebetulan berada di latar belakang foto Malioboro. Kami memiliki kebutuhan, rutinitas, dan hak untuk menikmati ruang kota tanpa terus-menerus merasa harus mengalah kepada kepentingan pariwisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika masyarakat lokal hanya diminta menerima perubahan tanpa memiliki ruang yang memadai untuk menyampaikan pengalaman dan keberatan mereka, pembangunan kota berisiko kehilangan salah satu hal terpenting: keberpihakan kepada orang-orang yang benar-benar hidup di dalamnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja yang dijual kepada wisatawan dan Jogja yang saya jalani<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga yang menjalani kehidupan di Jogja, saya semakin menyadari bahwa kota yang dipromosikan kepada wisatawan tidak selalu sama dengan kota yang dialami penduduknya. Dalam promosi pariwisata, Jogja bisa tampil sebagai kota yang romantis, hangat, penuh keramahan, dan kaya pengalaman. Malioboro menjadi salah satu simbol yang paling mudah digunakan untuk menggambarkan semua itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kehidupan warga tidak berlangsung di dalam brosur. Kami menghadapi persoalan sehari-hari yang tidak selalu terlihat oleh pengunjung. Kami tidak setiap hari berjalan-jalan menikmati Malioboro. Juga, kami memiliki pekerjaan, tanggung jawab, keterbatasan waktu, dan kebutuhan yang terkadang justru membuat keramaian wisata menjadi persoalan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak ingin meromantisasi masa lalu seolah-olah Malioboro dahulu sempurna. Kawasan ini tentu memiliki berbagai persoalan sebelum mengalami penataan. Namun, mengakui bahwa perubahan membawa manfaat tidak berarti harus menutup mata terhadap dampak yang mungkin muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya kecewa adalah ketika kritik terhadap perubahan mudah dianggap sebagai keluhan orang yang tidak mau maju. Seolah-olah siapa pun yang merindukan suasana Malioboro sebelumnya sedang menolak pembangunan atau tidak memahami kebutuhan zaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, seseorang bisa mendukung penataan kawasan sekaligus mengkritik arah perkembangannya. Seseorang bisa mengakui manfaat pariwisata sekaligus mempertanyakan siapa yang menanggung bebannya. Dan seseorang bisa mencintai Jogja tanpa harus menyetujui semua perubahan yang terjadi di dalamnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Malioboro dulu, Malioboro sekarang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencintai kota bukan berarti wajib memuji setiap perkembangannya. Justru karena merasa memiliki hubungan dengan tempat ini, saya merasa berhak mempertanyakan perubahan yang membuat saya semakin asing. Saya masih bisa datang ke Malioboro. Saya masih bisa berjalan di sepanjang trotoarnya dan melihat orang-orang menikmati suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ada jarak yang sulit saya abaikan antara Malioboro yang saya lihat sekarang dan Malioboro yang dahulu terasa akrab bagi saya. Saya tidak ingin Malioboro berhenti berkembang. Saya hanya tidak ingin perkembangan itu membuat warga seperti saya merasa menjadi orang asing di tempat yang selama ini kami anggap bagian dari rumah sendiri<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Fransisca Tiara Dwi Sherlitawati<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kegiatan-pramuka-memang-cuma-buang-buang-waktu-dan-justru-itulah-tujuannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kegiatan Pramuka Memang Cuma Buang-buang Waktu, dan Justru Itulah Tujuannya <\/a><\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya tidak ingin Malioboro berhenti berkembang. Saya hanya tidak ingin perkembangan itu membuat warga seperti saya merasa menjadi orang asing di tempat yang selama ini kami anggap bagian dari rumah sendiri<\/p>\n","protected":false},"author":3194,"featured_media":423499,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[115,446,35420],"class_list":["post-423415","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-malioboro","tag-revitalisasi-malioboro"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423415","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3194"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=423415"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423415\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":423500,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423415\/revisions\/423500"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/423499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=423415"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=423415"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=423415"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}