{"id":423238,"date":"2026-10-23T14:11:44","date_gmt":"2026-10-23T07:11:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=423238"},"modified":"2026-10-23T14:11:44","modified_gmt":"2026-10-23T07:11:44","slug":"jembatan-cincin-jatinangor-saksi-bisu-perubahan-wajah-jatinangor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jembatan-cincin-jatinangor-saksi-bisu-perubahan-wajah-jatinangor\/","title":{"rendered":"Jembatan Cincin, saksi bisu perubahan wajah Jatinangor yang memberi manfaat luar biasa bagi sejarah, budaya, dan masyarakat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jauh sebelum Jatinangor berkembang menjadi daerah industri dan pendidikan, wilayah ini memiliki wajah yang sangat berbeda. Hamparan perkebunan dan jalur kereta pernah menjadi bagian penting. Dan, di antara jejak masa lalu tersebut, masih berdiri Jembatan Cincin Jatinangor sebagai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jembatan_Cincin_Jatinangor\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">saksi mata<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jembatan Cincin Jatinangor adalah sebuah jembatan yang dahulu menjadi bagian dari jalur kereta api. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Jatinangor pernah memiliki sejarah yang panjang sebagai wilayah perkebunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, Jatinangor merupakan wilayah perkebunan\u00a0 yang menghasilkan komoditas seperti teh dan karet. Aktivitas perkebunan yang berada di wilayah tersebut tentu membutuhkan sarana transportasi untuk membawa hasil produksi ke wilayah lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu upaya untuk mendukung kebutuhan tersebut adalah pembangunan jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari. Pembangunan jalur tersebut berlangsung sejak 1918 hingga 1921. Di sepanjang jalur tersebut terdapat sejumlah jembatan, salah satunya Jembatan Cikuda yang kini kita kenal sebagai Jembatan Cincin Jatinangor.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perubahan fungsi Jembatan Cincin Jatinangor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi Jembatan Cincin Jatinangor pada masa lalu berbeda dengan fungsinya sekarang. Dulu, kereta yang melintasi jembatan ini sangat mendukung pengangkutan hasil perkebunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kehidupan berubah. Puluhan tahun kemudian, Jatinangor berubah ketika lahan bekas perkebunan berubah menjadi kawasan industri dan pendidikan. Salah satunya adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-istilah-di-unpad-yang-perlu-diketahui-biar-nggak-dikira-kuper\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Padjadjaran<\/a>, yang memindahkan kegiatan pendidikannya ke Jatinangor secara bertahap sejak 1983.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan Jatinangor tidak hanya terlihat dari semakin banyaknya bangunan baru. Ada pula jejak masa lalu yang perlahan kehilangan fungsi awalnya. Jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas kawasan akhirnya berhenti beroperasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kereta tidak lagi melintasi Jembatan Cincin Jatinangor, tetapi jembatan itu sendiri tetap berdiri. Ia menjadi bagian dari landscape yang telah berubah jauh dari masa ketika perkebunan masih mendominasi kawasan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjadi penghubung antar-zaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berubahnya fungsi awal Jembatan Cincin Jatinangor tidak serta-merta membuat sebuah bangunan kehilangan arti. Justru ketika fungsi tersebut telah berubah, kita bisa melihat jembatan sebagai penanda yang menghubungkan kehidupan Jatinangor sekarang dengan masa sebelumnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaannya membantu kita membayangkan wilayah ini pada masa lalu. Gimana kehidupan warga masa lalu, kesibukan perkebunan, dan perkembangan kereta api.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan itu juga menunjukkan bahwa makna sebuah tempat dapat terbentuk dari pengalaman yang berbeda-beda. Bagi orang yang hidup pada masa jalur kereta masih beroperasi, Jembatan Cincin Jatinangor menjadi bagian dari infrastruktur sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi masyarakat sekarang, jembatan tersebut dapat menjadi peninggalan sejarah atau bagian dari ruang yang mereka kenal. Sementara bagi mahasiswa, keberadaannya menjadi salah satu bagian dari landscape Jatinangor. Satu bangunan yang sama dapat memiliki arti yang berbeda ketika kita melihatnya dari zaman yang berbeda.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fungsi dan manfaat Jembatan Cincin Jatinangor masa kini<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jembatan Cincin Jatinangor, atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jatinangor-kecamatan-paling-maju-dan-tempat-pensiun-ideal-di-kabupaten-sumedang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Viaduk Cikuda<\/a>, adalah peninggalan Belanda yang dibangun Staatsspoorwegen pada 1917\u20131918 sebagai jalur kereta pengangkut hasil perkebunan teh dan karet. Jembatan sepanjang 40 meter dengan 11 tiang penyangga dan 10 lengkungan batu ini dinamai &#8220;cincin&#8221; karena bentuk lengkungannya menyerupai separuh cincin raksasa jika kita melihatnya dari kejauhan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, jembatan berfungsi sebagai jalan penghubung antar kampung, menghubungkan Dusun Cisaladah dengan Dusun Neglasari di kawasan Cikuda. Karena ukurannya yang sempit, jembatan hanya dilalui pejalan kaki dan sepeda motor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manfaatnya sangat terasa bagi warga sehari-hari. Mulai dari pelajar, petani, pengendara ojol, dan mahasiswa yang kos di sekitarnya dapat memangkas jarak tempuh menuju Unpad tanpa harus memutar jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sebagai jalur mobilitas, Jembatan Cincin Jatinangor kini menjadi ruang publik dan objek wisata. Banyak warga dan mahasiswa menjadikannya spot foto estetik, jalur jogging, dan tempat bersepeda pagi sembari menikmati panorama Unpad, Gunung Manglayang, Gunung Geulis, serta jalur Bandung\u2013Sumedang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksesnya terbuka gratis bagi pengunjung. Biaya masuk tidak dipungut, hanya parkir kendaraan sekitar Rp2.000\u2013Rp5.000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara budaya, Jembatan Cincin Jatinangor menjadi bukti sejarah perkeretaapian dan masa kolonial yang kerap dijadikan objek tur sejarah, sekaligus ikon identitas Jatinangor yang dimanfaatkan untuk kegiatan kemahasiswaan, seperti pengibaran bendera raksasa saat Hari Kemerdekaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, Jembatan Cincin bukan sekadar bangunan tua, melainkan sarana transportasi warga, ruang rekreasi, media edukasi, dan penanda identitas kawasan yang tetap bermanfaat hingga kini. Menjaga kelestariannya agar manfaat bagi mobilitas dan pariwisata warga tetap terjaga untuk generasi mendatang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-mahasiswa-jatinangor-baik-baik-saja-tanpa-kehadiran-kalian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mahasiswa tidak usah merasa penting, Jatinangor akan baik-baik saja tanpa kehadiran kalian<\/a> dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TERMINAL MOJOK<\/a>.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jembatan Cincin Jatinangor bukan sekadar bangunan tua, melainkan sarana transportasi warga, ruang rekreasi, dan media edukasi.<\/p>\n","protected":false},"author":3374,"featured_media":423281,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[3220,28876,35392,35393,3222],"class_list":["post-423238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jatinangor","tag-jembatan-cincin","tag-jembatan-cincin-jatinangor","tag-sejarah-jembatan-cincin-jatinangor","tag-unpad"],"modified_by":"Yamadipati Seno","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3374"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=423238"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423238\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":423285,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423238\/revisions\/423285"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/423281"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=423238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=423238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=423238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}