{"id":422782,"date":"2026-10-21T11:33:20","date_gmt":"2026-10-21T04:33:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422782"},"modified":"2026-10-21T11:33:20","modified_gmt":"2026-10-21T04:33:20","slug":"begini-cara-hemat-warlok-banyuwangi-wisata-ke-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/begini-cara-hemat-warlok-banyuwangi-wisata-ke-bali\/","title":{"rendered":"Begini cara hemat warlok Banyuwangi berwisata ke Bali\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang Banyuwangi yang merantau ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-mastrip-surabaya-memang-bikin-capek-dan-menyiksa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya.<\/a> Selama merantau di Surabaya, banyak orang menanyakan pada saya soal Bali. Maklum, posisi Banyuwangi dan Bali memang berdekatan. Selain itu, Bali memang punya pesonanya tersendiri. Sekalipun wisata Banyuwangi banyak berbenah, hal itu belum cukup mengalahkan Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari teman saya dari Karawang datang ke Surabaya dan minta ditemani berlibur ke Pulau Dewata. Saya pun menyusun perjalanan singkat yang murah meriah ala warlok Banyuwangi yang ingin berwisata ke Bali.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>KA Probowangi, penyelamat liburan murah ke Bali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ingin liburan hemat, perjalanan tentu harus dimulai dengan menekan ongkos transportasi. Pilihan saya jatuh kepada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ka-probowangi-penghubung-surabaya-dan-banyuwangi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KA Probowangi<\/a>, kereta api rute Surabaya\u2013Ketapang yang tarifnya saat perjalanan saya hanya Rp56.000 per orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sabtu pagi, saya berangkat dari Stasiun Gubeng bersama kolega. Perjalanan panjang menuju Banyuwangi memang mengharuskan kita duduk berjam-jam di kursi perang yang tegak 90 drajat. Namun, bagi saya, harga tiket yang bersahabat membuat sedikit pegal masih bisa ditoleransi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu catatan penting: jangan berharap bisa memesan tiket kereta ini secara mendadak. Sebaiknya amankan kursi sejak jauh hari karena tarif murah membuat peminatnya cukup banyak. Tiba di Stasiun Ketapang pada siang hari juga menjadi keuntungan tersendiri. Kita masih punya banyak waktu untuk menyeberang sambil menikmati Selat Bali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan kaki dan ferizy, dua kunci menekan biaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah turun di Stasiun Ketapang, saya dan kolega memilih berjalan kaki menuju pelabuhan. Jaraknya sekitar 650 meter, cukup untuk meluruskan kaki setelah berjam-jam duduk di kereta. Kalau malas berjalan, becak bisa menjadi alternatif, tentu setelah sepakat soal tarif dengan pengemudinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada hal yang sebaiknya disiapkan sebelum tiba di pelabuhan: tiket penyeberangan melalui <a href=\"https:\/\/ferizy.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aplikasi Ferizy<\/a>. Saat perjalanan saya, tiket pejalan kaki dibanderol Rp10.600. Membeli secara daring juga membantu menghindari biaya tambahan yang mungkin muncul dari perantara tiket.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setibanya di pelabuhan, tinggal mengikuti prosedur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan memilih kapal yang tersedia. Kalau beruntung, saya biasanya memilih kapal dengan area dek terbuka agar bisa menikmati pemandangan laut. Sebab, perjalanan menyeberang pun bisa menjadi bagian dari liburan, bukan sekadar perpindahan dari satu pulau ke pulau lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keliling Gilimanuk Bali tidak kalah seru\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warlok Banyuwangi, saya merasa tidak harus pergi jauh sampai Denpasar untuk berwisata. Apalagi, perjalanan dari Gilimanuk ke kawasan selatan Bali bisa memakan waktu tiga sampai empat jam, belum termasuk kemacetan. Daripada menghabiskan waktu di jalan, mengapa tidak menikmati Gilimanuk terlebih dahulu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu tiba di Gilimanuk, kita akan disambut Patung Dewa Siwa Mahadewa setinggi lebih dari 20 meter di kawasan Taman Siwa, tepat di depan pelabuhan. Tidak perlu tiket wisata mahal untuk menikmati landmark yang sudah terlihat sejak kapal mendekati dermaga ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ingin menikmati panorama alam, Teluk Gilimanuk bisa menjadi pilihan. Namun, karena perjalanan saya mengusung konsep hemat, menyewa perahu motor seharga Rp150.000 lebih masuk akal jika dilakukan bersama rombongan. Kalau hanya berdua, sebaiknya pertimbangkan lagi agar anggaran tidak habis untuk satu aktivitas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mampir ke museum manusia dan makan ayam betutu Bali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pustakawan, rasanya kurang lengkap jika tidak mampir ke Museum Manusia Purba Gilimanuk. Jaraknya sekitar satu kilometer dari pelabuhan. Di sana, pengunjung bisa melihat koleksi rangka manusia dan hewan purba serta berbagai peralatan masa lampau yang ditemukan di wilayah Jembrana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah puas berjalan-jalan, saatnya mengisi perut di Ayam Betutu Men Tempeh, kawasan Eks Terminal Lama Gilimanuk. Rumah makan yang berdiri sejak 1978 ini menawarkan ayam betutu dengan harga yang, berdasarkan pengalaman saya, masih masuk akal untuk wisatawan hemat. Harga yang saya temui mulai Rp25.000 untuk seperempat ekor hingga Rp125.000 untuk satu ekor utuh. Bagi yang tidak tahan pedas, tersedia pilihan yang lebih ramah di lidah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah cara saya menikmati Bali tanpa harus menguras isi dompet. Tentu, rekomendasi ini bersifat subjektif dan harga bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, satu hal yang saya pelajari: liburan tidak harus selalu jauh, mahal, atau penuh agenda. Kadang, perjalanan sederhana ke Gilimanuk saja sudah cukup untuk membawa pulang cerita apalagi dengan orang tercinta. Benar apa Betul?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ferika Sandra<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BACA JUGA\u00a0 <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bali-bukan-cuma-ubud-canggu-dan-kuta\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bali Bukan Cuma Ubud, Canggu, dan Kuta, 5 Tempat Ini Bisa Jadi Rekomendasi Saat Berkunjung ke Pulau Dewata<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan artikel menarik lainnya di <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">TERMINAL MOJOK<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warlok Banyuwangi punya cara tesendiri untuk menikmati Bali dengan cara murah meriah, tapi tetap seru dan berkesan.<\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":422812,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[9507,6216,22760,3224],"class_list":["post-422782","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bali","tag-banyuwangi","tag-pulau-dewata","tag-wisata"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422782","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422782"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422782\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422814,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422782\/revisions\/422814"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422812"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}