{"id":42232,"date":"2020-05-02T01:55:12","date_gmt":"2020-05-01T18:55:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=42232"},"modified":"2021-11-01T08:41:56","modified_gmt":"2021-11-01T01:41:56","slug":"nikah-di-usia-12-tahun-demi-cegah-zina-itu-ramashok-mending-puasa-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nikah-di-usia-12-tahun-demi-cegah-zina-itu-ramashok-mending-puasa-aja\/","title":{"rendered":"Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sedang duduk manis menanti azan Subuh sembari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">scroll-scroll<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> cantik ketika sebuah isu ramai di Twitter. Kolom rekomendasi menunjukkan tagar #IndonesiaTanpaPacaran, yang kemudian menarik banyak perhatian warganet. Isu yang sudah sering ramai tersebut kembali naik daun karena sebuah video dokumenter tentang gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) pada Februari lalu dari BBC World, <\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/restyworo\/status\/1255380923153080322\"><span style=\"font-weight: 400;\">diunggah lagi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> oleh salah seorang reporter BBC.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam video tersebut menunjukkan sejumlah kegiatan dalam gerakan Indonesia Tanpa Pacaran dan laporan wawancara dengan founder serta salah satu anggotanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">La Ode Munafar sebagai founder Indonesia Tanpa Pacaran menyatakan bahwa Indonesia Tanpa Pacaran ingin menghapuskan budaya pacaran di Indonesia pada tahun 2024. Dan pada 14 Februari lalu mereka melakukan gerakan untuk mendukung agar hari tersebut ditetapkan sebagai hari Indonesia Tanpa Pacaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal utama yang dikampanyekan oleh gerakan ini adalah menghindari adanya perzinahan dalam hubungan pacaran. Solusinya? Ya dengan menikah. Kampanyenya pun dilakukan dengan cara apa pun seperti menjual brand, kartu anggota, kajian, dan semacamnya. Terlepas dari itu, ada dua <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">statement<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang benar-benar membuat saya dan juga netizen Twitter, menjadi geram bahkan justru kesal dalam video dokumenter tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam wawancaranya, founder Indonesia Tanpa Pacaran mengagungkan pernikahan dengan model taaruf sebagai bentuk pencegahan atas perilaku zina. Bahkan dia memperbolehkan anak 12 tahun, yang sudah siap menjadi suami\/istri dan bisa menjalankan kewajiban, untuk menikah. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hei! Hei! Sek toh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Umur segitu tuh masih asyik-asyiknya main bola bekel atau adu petasan pas lagi tarawih. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Njuk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini malah disuruh nikah? Hadeeeh~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan salah satu anggota yang diwawancarai oleh pihak BBC menyatakan bahwa dia merasa jijik melihat orang pacaran atas dasar pengalaman kelam di masa lalu, yakni pernah gagal menikah. Saya sendiri malah merasa geli, apa ya nggak ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">statement<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih cerdas dikit, gitu, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernyataan ini jelas menuai kritik sana-sini. Tetapi nyatanya gerakan ITP memiliki banyak peminat bahkan hingga saat ini. Yah, sasaran mereka memang orang-orang yang masih berada di usia labil. Bahkan dulu ketika baru lulus SMA, saya juga pernah ikut mengagungkan gerakan ini. Walau sekadar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">follow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Instagram-nya, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi terlepas dari semua cara yang mereka lakukan untuk mendeklarasikan Indonesia Tanpa Pacaran, menghindari perzinahan ada banyak sekali caranya selain dengan menikah. Pasalnya kalau kalian tahu ya, menikah itu ribet. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh, ada banyak cara lain yang lebih simpel kalau mau terhindar dari zina. Salah satunya dengan berpuasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang ulama, Izzuddin bin Abdul Salam, menuliskannya dalam kitab <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Maqashid al-Shaum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Beliau mengatakan ada <\/span><a href=\"https:\/\/islami.co\/puasa-tidak-sekedar-menahan-haus-dan-lapar-ini-manfaat-dan-tujuannya\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">delapan manfaat puasa<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang beliau sebutkan dalam kitab itu, yakni:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPuasa memiliki beberapa faedah: meningkat kan kualitas (iman), menghapus kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, menyempurkan ketaatan, meningkatkan rasa syukur, dan mencegah diri dari perbuatan maksiat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga bulan Ramadan bisa digunakan sebagai wadah untuk memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan. Puasa, selain dengan hanya menahan lapar dan haus saja memang tidak mudah. Tapi setidaknya itu salah satu cara paling ampuh untuk mengontrol diri kita dari hawa nafsu yang tidak baik, seperti segala perkara yang mendekati zina ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi untuk anak 12 tahun, misalnya. Menghindari zina dengan menikah bukanlah satu-satunya jalan keluar. Ayolah, mbok mikir sedikit. Apa risiko yang akan dihadapi oleh ada 12 tahun atau anak belia lainnya yang harus menikah hanya demi terhindar dari zina? Baik secara biologis maupun psikologis, mereka jelas belum siap. Belum lagi beban moral di masyarakat. Mereka (anak-anak usia belia) akan lebih mudah jika diajarkan untuk berpuasa, sebagai salah satu upaya untuk menghindari zina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya banyak orang yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">koar-koar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikah muda, tapi habis itu nggak bakal mau tahu kehidupan mereka setelahnya. Kalau toh ada permasalahan seperti KDRT bahkan yang berujung perceraian, orang-orang itu cenderung nggak mau tahu.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain,\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> katanya. Halaaah~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nikah muda, apalagi di usia yang belum benar-benar matang itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wes jan ramashoook. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Mending tingkatkan kualitas iman dengan berpuasa. Lagipula esensi puasa juga tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi lebih dari itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dalam kitab yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Risalatus Shiyam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Kiai Ali Maksum menerangkan tentang beberapa <\/span><a href=\"https:\/\/islam.nu.or.id\/post\/read\/53314\/hikmah-puasa-menurut-kiai-ali-maksum\"><span style=\"font-weight: 400;\">hikmah diwajibkannya puasa.<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Di antaranya, puasa dapat membersihkan dan menjernihkan jiwa pelakunya dari sifat kebinatangan, sedang ibadah-ibadah lain yang dikerjakannya akan terwarnai dengan keikhlasan dan kemurnian batinnya, lepas dari kotoran keragu-raguan dan kekacauan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mbok sudahi rame-rame Indonesia Tanpa Pacaran itu. Mau sampai kapan bakal dibahas terus~<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<h5>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/h5>\n<h5>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam wawancaranya, founder Indonesia Tanpa Pacaran mengagungkan pernikahan dengan model taaruf sebagai bentuk pencegahan atas perilaku zina.<\/p>\n","protected":false},"author":358,"featured_media":38927,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[6446,3103,109,6305,6447],"class_list":["post-42232","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-indonesia-tanpa-pacaran","tag-nikah-muda","tag-puasa","tag-terminal-ramadan","tag-zina"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42232","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/358"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42232"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42232\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}