{"id":422201,"date":"2026-10-17T13:48:54","date_gmt":"2026-10-17T06:48:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422201"},"modified":"2026-10-17T13:48:54","modified_gmt":"2026-10-17T06:48:54","slug":"pengalaman-saya-bekerja-di-seberang-rumah-hantu-darmo-yang-katanya-angker","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-bekerja-di-seberang-rumah-hantu-darmo-yang-katanya-angker\/","title":{"rendered":"Pengalaman saya bekerja di seberang Rumah Hantu Darmo yang katanya angker"},"content":{"rendered":"<p><em>Rumah Hantu Darmo katanya angker, tapi bagi saya biasa saja, sejauh ini, belum pernah mengalami hal mistis, malah saya terbantu gara-gara rumah ini<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau yang mengadu nasib di Surabaya, pengetahuan saya soal sudut-sudut kota ini awalnya terbatas. Bagi saya, Surabaya ya panas, macet, dan deretan mal tempat ngadem. Jadi, ketika setahun lalu mendapat panggilan interview di sebuah kampus swasta di Surabaya Barat, saya datang tanpa prasangka apa pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saat memasuki area kampus, perhatian saya justru tertuju pada bangunan megah di seberang jalan. Pilar-pilarnya kokoh, tetapi catnya mengelupas dan semak liar tumbuh di sekelilingnya. Sebagai manusia yang ekonominya masih kecepit, pikiran saya langsung melantur. \u201cEman-eman, Rek, rumah semewah ini kok dibiarkan kosong? Kalau dijual murah kan lumayan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan, setelah resmi diterima bekerja dan mulai mengobrol dengan rekan kantor, barulah saya tahu bahwa bangunan yang setiap hari saya pandangi itu adalah Rumah Hantu Darmo, salah satu legenda urban paling terkenal di Surabaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rumah Hantu Darmo boleh misterius, sengketa lahan lebih serius<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita tentang Rumah Hantu Darmo yang beredar ternyata macam-macam. Ada yang mengaitkannya dengan pesugihan, keluarga kaya yang tenggelam di laut, hingga sosok-sosok tak kasat mata yang konon menghuni bangunan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, setelah bekerja tepat di seberangnya, saya justru lebih sering mendengar persoalan lahan dan status kepemilikannya. Di depan bangunan bahkan terpasang pengumuman bahwa rumah itu tidak dijual melalui perantara mana pun. Konon, pihak kampus tempat saya bekerja pernah mencari informasi untuk membeli lahannya demi perluasan area kampus. Kabar pernah dilelang pun ternyata <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita-jawa-timur\/d-5536271\/kata-pemkot-surabaya-soal-isu-rumah-hantu-darmo-dilelang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cuma isu<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah bagaimana perkembangan urusannya, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, persoalan kepemilikan rumah itu terasa tak kalah rumit dibandingkan cerita mistis yang menyelimutinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anehnya, saya yang setiap hari duduk di lantai dua dengan jendela menghadap langsung ke Rumah Hantu Darmo tidak pernah melihat penampakan apa pun. Pemandangannya malah menjadi terapi mata setelah berjam-jam menatap Excel dan layar komputer. Pohon-pohon rindang di depan rumah tua itu lumayan menyegarkan pandangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu-satunya teror nyata justru datang dari urusan transportasi. Senior-senior kantor mewanti-wanti agar saya tidak memesan ojek online dari depan kampus jika pulang lembur di atas pukul delapan atau sembilan malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, dulu sering muncul pesanan fiktif dengan titik penjemputan di sekitar Rumah Hantu Darmo. Akibatnya, sebagian pengemudi terlanjur curiga jika mendapat pesanan dari kawasan tersebut pada malam hari. Kami yang cuma ingin pulang ke kos pun ikut kena imbasnya. Hantu belum tentu muncul, tetapi pengemudi yang membatalkan pesanan sudah pasti bikin pusing bukan\u00a0 kepalang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cerita mistis berseliweran, mahasiswa tetap berburu makanan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya ada pemandangan yang lebih menarik daripada cerita mistis yang berseliweran. Sebab setiap jam makan siang tiba, area di depan pagar Rumah Hantu Darmo justru ramai oleh pedagang makanan dan pembeli. Mahasiswa kampus saya gemar \u201cmarung\u201d di sana, sekedar menikmati bakso atau es campur di bawah pohon rindang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya mencoba, memang tidak ada suasana mencekam. Yang ada justru orang-orang sibuk mengisi perut dengan makanan. Rupanya, reputasi angker sebuah tempat bisa kalah juga oleh kebutuhan paling mendasar manusia: makan siang. Mau seseram apa pun cerita rumah di belakang mereka, kalau perut sudah keroncongan, bakso tetap lebih menarik daripada cerita setan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, cerita penampakan yang saya dengar malah berasal dari gedung kampus sendiri. Beberapa rekan mengaku pernah melihat sosok perempuan berambut panjang di lorong-lorong kantor. Saya sendiri belum pernah mengalaminya. Cukup mendengarkan cerita mereka sambil manggut-manggut sopan dan berharap penampakan itu tidak kejadian kepada diri saya ketika jam lembur tiba.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rumah penuh misteri yang jadi penunjuk lokasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik segala cerita mistisnya, saya justru punya sedikit rasa terima kasih kepada Rumah Hantu Darmo. Bangunan itu sangat membantu sebagai penunjuk arah. Menjelaskan lokasi kampus kepada orang luar kadang merepotkan. Sudah dijelaskan rute dan belokan, mereka masih kebingungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, begitu saya bilang, \u201cKampus saya persis di depan Rumah Hantu Darmo,\u201d biasanya mereka langsung paham. Ternyata, rumah yang katanya angker itu punya fungsi sosial yang tidak bisa diremehkan: menjadi penanda lokasi yang lebih ampuh daripada petunjuk jalan panjang lebar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi bekerja di seberang Rumah Hantu Darmo menyadari diri bahwa sebuah tempat bisa memiliki banyak wajah. Bagi sebagian orang, rumah itu menyimpan ketakutan. Saya justru berbeda, bangunan itu adalah pemandangan dari jendela kantor, tempat mahasiswa makan siang, sekaligus alamat yang mudah dikenali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali, yang paling menyeramkan memang bukan selalu makhluk yang tak kasatmata, melainkan cerita yang terus diwariskan tanpa pernah benar-benar diketahui ujung pangkalnya. Sementara itu, hidup tetap berjalan, saya pun begitu pekerjaan menumpuk, perut lapar, dan kadang pulang malam, semoga pengemudi ojol tidak ikut takut pada alamat penjemputan di tempat kerja saya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ferika Sandra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/rumah-hantu-darmo-surabaya-tak-seangker-cerita-yang-beredar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rumah Hantu Darmo Surabaya, Tak Seangker Cerita yang Beredar<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rumah Hantu Darmo katanya angker, tapi bagi saya biasa saja, sejauh ini, belum pernah mengalami hal mistis, malah saya terbantu gara-gara rumah ini<\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":422280,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[35327,35325,405,35326],"class_list":["post-422201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-alamat-rumah-hantu-darmo","tag-rumah-hantu-darmo","tag-surabaya","tag-tempat-angker-di-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422201"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422283,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422201\/revisions\/422283"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}