{"id":422098,"date":"2026-10-16T13:00:59","date_gmt":"2026-10-16T06:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422098"},"modified":"2026-10-16T13:00:59","modified_gmt":"2026-10-16T06:00:59","slug":"karang-taruna-makin-hari-makin-tidak-diminati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karang-taruna-makin-hari-makin-tidak-diminati\/","title":{"rendered":"Karang taruna makin hari makin tidak diminati: sudah tidak penting atau memang organisasinya tidak memberi manfaat?"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMonggo, jangan pura-pura (sibuk). Kira-kira masih butuh Pak Dukuh nggak? Bentar lagi tujuhbelasan\u201d.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah pesan WA dilontarkan warga dusun tepat setelah Pak Dukuh mengimbau pemuda karang taruna untuk membantu pelaksanaan acara di desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh mata memandang dan telinga mendengar, saya jarang menemukan karang taruna yang begitu diminati. Termasuk di dusun saya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diakui, saat SMA saya tidak sepenuhnya tinggal di rumah. Oleh sebab itu, saya tidak begitu mengenal karang taruna di dusun tempat saya tinggal. Meski begitu, saya cukup menaruh perhatian pada organisasi ini. Bagaimanapun, mungkin saya akan menghabiskan masa hidup saya bersama orang-orang mantan pengurus karang taruna. Entah di desa sendiri atau desa lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan hidup bersosial dengan cara kerja organisasi itu. Masalahnya, karang taruna belum menunjukkan dirinya sebagai organisasi yang digarap serius.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kondisi karang taruna di desa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali tahun lalu, seorang teman\u2014yang ia sendiri aktif kegiatan di desanya, bilang tidak masalah jika seseorang tidak mengikuti karang taruna. Alasannya, organisasi ini tidak bisa menghidupi anggotanya. Lebih jauh, seseorang bisa terjerumus ke dalam urusan orang lain yang tidak perlu\u2014menjadi tempat curhat sesama pemuda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dompet tidak menjadi tebal, tapi turut pusing karena masalah teman. Jadi ya, wajar kalau orang-orang nggak ikut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun ini, saya berkesempatan melihat organisasi ini dari dekat saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tampaknya, menjadi sebuah kelaziman bagi karang taruna ketika ia tidak berjalan regeng (kompak).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebulan, tiga kali kelompok KKN turut serta dalam kegiatan karang taruna. Dalam kesempatan ketiga-tiganya, ketuanya tidak pernah hadir. Panitia acara cukup saling ragu dan saling lempar saat menentukan keputusan. Acara ngaret bisa satu jam. Di tempat KKN teman, pemudanya bahkan diseneni (dinasihati) warganya karena menganggarkan acara melebihi pasak daripada tiang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sependek yang saya tahu, kondisi serupa terjadi di dusun saya. Karang taruna terseok-seok untuk kompak. Kerap WhatsApp Group berisi pertanyaan, \u201cMana ini orangnya? (Kok belum dateng)\u201d. Orang-orang sulit kumpul, termasuk saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mencoba memahami karang taruna<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau menuntut kepengurusan yang aktif dan terorganisir dengan baik, agak sulit. Berkaca dari mahasiswa KKN ataupun organisasi mahasiswa saja, ia acap kali\u2014tidak selalu\u2014masih kesulitan mengoptimalkan anggotanya untuk turut diberdayakan tenaga dan (utamanya) pikirannya. Saya termasuk dalam golongan yang kesulitan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kasus karang taruna, \u201cpemain inti\u201d saja tidak mesti bisa diandalkan dalam kemampuan dan waktunya, apalagi ia dituntut memikirkan kualitas regenerasinya. Ini jelas sulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka bukan mutlak tidak mau. Kondisinya, anggota karang taruna datang dari berbagai kalangan usia dan latar belakang. Satu, biasanya anggotanya terdiri dari anak SMA, pekerja, mahasiswa, dan (satu atau dua) orang yang sudah berkeluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua, mereka juga datang dari berbagai RT. Menurut DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) saya, ini juga jadi faktor sulitnya karang taruna kompak. Saya turut menyetujuinya. Sebab dari segi kebiasaan dan watak saja, antarwarga RT di dusun saya memiliki perbedaan. Walaupun, sepertinya jarang karang taruna yang hanya berisikan pemuda satu RT.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga, anggota terhimpit prioritas lain; ekstrakurikuler, kerja (bergaji mungil), mengurus keluarga, kuliah, dll. Empat, tidak semua karang taruna punya pembina. Baik dukuh maupun orang lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima, regenerasi keterlibatan pemuda pada kegiatan desa cenderung lambat. Pemuda banyak dilibatkan tenaganya saja; tukang parkir salah satunya. Sementara peran yang membutuhkan keahlian seperti MC, sambutan acara, memimpin acara (tahlilan, misalnya), mengoordinasi acara\/kepanitiaan besar yang membutuhkan banyak persiapan, baik konsep maupun teknisnya, masih cenderung dipegang bapak-bapak. Bukan pemuda apalagi pemudi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menuntut mereka untuk terlibat aktif dalam kegiatan karang taruna saja tidak cukup. Mereka butuh alasan yang lebih kuat untuk terlibat aktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, benefit apa yang bisa diberikan organisasi ini sehingga anggotanya mau menggeser kegiatan karang taruna menjadi kegiatan yang diprioritaskan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Seberapa jauh organisasi ini dapat mengakomodasi kebermanfaatan yang dibutuhkan anggotanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup familiar dengan statement yang bernuansa ancaman bahwa: tidak ikut karang taruna artinya tidak dibantu dalam keperluan hajatnya. Sepertinya, ancaman seperti ini sudah tidak begitu mempan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Realitas telah lebih dulu meminta mereka bergerak untuk memenuhi hajat hidup yang dekat. Kebutuhan akan makan, cicilan, dan sumbangan sosial (segala bentuk hajatan di desa). Lagian, kini semua sudah dikomersialkan. <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jogja\/bisnis\/d-7081870\/apa-perbedaan-wedding-organizer-dan-wedding-planner-ini-penjelasannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wedding organizer<\/a> sudah masuk desa, barangkali eksistensi rewang dan nyinom perlahan-lahan memudar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan berbeda cerita saat karang taruna mampu menjadi ruang tumbuh yang hasilnya lebih bisa dirasakan oleh anggotanya. Kemampuan yang membutuhkan skill seperti yang sudah disebutkan di atas akan berguna secara langsung dan dapat dipraktikkan di mana pun ia berada. Baik di dusunnya, di organisasi lainnya, atau bahkan, di tempat kerja. Sehingga mereka sudah terbiasa dengan budaya kerja yang kolaboratif, saling transfer knowledge.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cara yang bisa ditempuh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut dua orang yang saya temui; direktur bank sampah dusun dan teman yang aktif di karang taruna, untuk menggaet semangat anggotanya, mereka perlu \u2018disenang-senangkan\u2019 dalam proses berorganisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Reward bisa dalam berbagai bentuk, asal menguntungkan yang menghidupi organisasi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBeri uang bensin\/jajan saat bertugas\u2014menyebar proposal acara tujuhbelasan, misalnya\u2014dan tak lupa diberi tanggung jawab target. Tanggal 8 harus selesai\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Transfer pengetahuan dari orang terdahulu ke generasi yang lebih muda dilakukan secara aktif melalui pendekatan personal dan humanis. Disrawungi, diajak main bareng, dan diarahkan. Bukan sekadar diatur-atur tanpa ruang dialog.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang (kalau ada apa-apa) sudah berani menelepon (untuk bertanya)\u201d, tutur teman saya, saat menceritakan progres pemudanya.Cara memberi reward seperti ini masuk akal. Kalau di organisasi kampus\u2014terlepas dari minat tidaknya anggota organisasi, bagus tidaknya organisasi\u2014organisasi masih bisa merekrut anggotanya atas nama manfaat mendapatkan sertifikat atau kewajiban kampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran terakhir, melalui stakeholder, uang dusun\/desa bisa disalurkan untuk merekrut seorang ahli manajemen organisasi untuk melatih anggotanya agar memiliki kegiatan yang saling menguntungkan dan bergerak secara efektif. Baik untuk anggota\u00a0 maupun warganya. Terlebih, baik karang taruna maupun sesepuh warganya tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan organisasi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga karang taruna bukannya tidak penting, ia hanya perlu berbenah. Jadi, basisnya bukan sekadar punya kegiatan, tapi punya kegiatan yang secara sengaja dibuat untuk menumbuhkan anggota dan dusun itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Feri Hamdani Putra Fasa<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karang-taruna-tak-lebih-dari-pelengkap-acara-hajatan-dan-ladang-cari-suara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Organisasi Karang Taruna Nyatanya Tak Lebih dari Pelengkap Acara Hajatan dan Ladang Cari Suara Politik<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karang taruna bukannya tidak penting, ia hanya perlu berbenah. Jadi, basisnya bukan sekadar punya kegiatan, tapi harus ada manfaat.<\/p>\n","protected":false},"author":3370,"featured_media":422127,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[35319,3227,35321,35320,35322],"class_list":["post-422098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cara-gabung-karang-taruna","tag-karang-taruna","tag-kekurangan-karang-taruna","tag-kelebihan-karang-taruna","tag-sejarah-karang-taruna"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3370"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422098"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422098\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422130,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422098\/revisions\/422130"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422127"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}