{"id":422089,"date":"2026-10-16T10:20:39","date_gmt":"2026-10-16T03:20:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422089"},"modified":"2026-10-16T10:20:39","modified_gmt":"2026-10-16T03:20:39","slug":"cara-paylater-merusak-masa-depan-gen-milenial-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-paylater-merusak-masa-depan-gen-milenial-indonesia\/","title":{"rendered":"Cara paylater merusak masa depan gen milenial indonesia"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah kisah mengerikan ketika paylater menghancurkan, merusak masa depan gen milenial di Indonesia.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gaji Rp8 juta sebulan ternyata belum menjamin gen milenial bisa melewati tanggal 15 dengan tenang. Haikal, pekerja swasta berusia 35 tahun di Jakarta, menghadapi kenyataan itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ongkos transportasi, kontrakan, sembako, dan kebutuhan anak berusia dua tahun menguras penghasilannya. Dia kemudian memakai paylater untuk menutup kekurangan, tetapi tagihan yang terus bertambah justru mempersempit ruang keuangan keluarganya. <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/en-generasi-kredit-yang-gali-lubang-tutup-lubang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kompas<\/a> mengangkat pengalamannya dalam laporan September 2025.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haikal tidak sedang mengejar liburan mewah. Dia membeli kebutuhan pokok, obat, dan perlengkapan anak. Dia dan istrinya sebelumnya mengumpulkan penghasilan Rp13 juta setiap bulan. Dan mereka masih bisa menabung setelah membayar cicilan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika istrinya berhenti bekerja untuk mengurus anak pada awal 2025, gen milenial ini harus menanggung kebutuhan keluarga dengan satu penghasilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau enggak pakai paylater, bingung juga mau ambil dari mana. Sebenarnya enggak mau, tetapi keadaannya memaksa,\u201d katanya kepada Kompas. Setiap pembayaran hanya memberi kelegaan sementara karena kebutuhan berikutnya kembali mendorongnya memakai utang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah ironi gen milenial kelas menengah perkotaan muncul. Mereka tetap bekerja dan menerima gaji, tetapi harus mengambil sebagian penghasilan masa depan agar kehidupan hari ini terus berjalan. Paylater tidak menambah pendapatan. Ia hanya memindahkan waktu pembayaran, lengkap dengan kewajiban yang menyusul.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menabung pun belum tentu menyelamatkan gen milenial dari paylater<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Amelia, gen milenial karyawan swasta berusia 27 tahun asal Yogyakarta yang tinggal di Jakarta, juga menghadapi lingkaran serupa. Gaji Rp7,5 juta harus membiayai kos, transportasi, makanan, dan internet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia sebenarnya mempunyai kebiasaan menabung. Setiap awal bulan, dia membagi sebagian penghasilan ke dua rekening. Namun, dia kerap mengambil uang dari salah satunya untuk membayar cicilan paylater.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama lima bulan pertama, Amelia masih sanggup menjaga pembayaran. Tagihannya relatif kecil. Memasuki bulan ketujuh, dia semakin sering memakai paylater dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buat-apa-mahasiswa-punya-paylater\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menghadapi tagihan yang membengkak<\/a>. Gen milenial satu ini lalu memahami risikonya, tetapi kebutuhan mendadak terus menjadikan layanan itu sebagai pilihan cepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman Amelia mengganggu nasihat keuangan yang terlalu gampang. Catat pengeluaran, pisahkan rekening, lalu disiplin menabung. Dia sudah mencoba sebagian langkah itu. Masalahnya, teknik mengatur uang tidak otomatis menciptakan tambahan penghasilan ketika pengeluaran melampaui kemampuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi gen milenial dalam posisi ini, tabungan kehilangan fungsi sebagai persiapan masa depan. Mereka justru menggunakannya untuk membereskan konsumsi masa lalu. Bulan baru pun memulai putaran yang sama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika gen milenial mencicil rumah orang tua, paylater buat beras sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Thea, karyawan swasta berusia 33 tahun di Jakarta Barat, menghadapi beban gen milenial. Kompas, pada Desember 2023, menceritakan bagaimana dia membeli rumah di Surabaya untuk orang tuanya setelah masa pensiun mengakhiri hak mereka menempati rumah dinas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia membayar KPR sekitar Rp5 juta sebulan dan angsuran kredit tanpa agunan Rp1 juta untuk renovasi. Di Jakarta, dia masih menyewa kamar kos seharga Rp2 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, perusahaan tempatnya bekerja tidak menaikkan gajinya sejak pandemi. Ketika uang menipis pada pertengahan bulan, Thea membeli kebutuhan rutin melalui paylater, termasuk beras, sabun, dan sampo. Dia juga pernah mencicil laptop setelah perangkat kerjanya rusak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerjaan sampingan kadang membantu. Ketika pekerjaan tambahan sepi, dia dan adiknya saling meminjamkan uang. Pengalaman ini menunjukkan bahwa utang bukan selalu menandai hasrat memamerkan kemapanan. Kadang seseorang mencicil rumah agar orang tuanya memiliki tempat tinggal, lalu mengutang kebutuhan sendiri agar tetap bisa bekerja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebutuhan dan keinginan punya pintu masuk yang sama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, kita juga tidak boleh mengubah semua pembelian menjadi cerita keterpaksaan. Tempo, pada Juni 2023, mengangkat pengalaman Ditya, penggemar teknologi yang memakai paylater sejak 2018 karena gajinya tidak cukup untuk membeli seluruh konsol permainan yang dia inginkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, dalam laporan April 2023, Tempo memperkenalkan Arif Hidayah, pemilik studio foto di Bandung. Dia memakai SPayLater untuk membeli laptop, kamera, dan lensa sebagai peralatan usaha, lalu mencicil pembayaran selama enam bulan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen milenial satu ini mengakui bahwa tenor yang semakin panjang membawa bunga semakin tinggi. Informasi itu tidak membuktikan bahwa usahanya ambruk, tetapi memperlihatkan bagaimana pembiayaan digital juga memasuki kebutuhan produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan tersebut penting. Membeli konsol, memenuhi kebutuhan anak, dan menyediakan alat kerja mempunyai alasan berbeda. Namun, semuanya menghasilkan kewajiban pembayaran. Tujuan yang masuk akal pun tidak otomatis menjamin seseorang mempunyai uang saat jatuh tempo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tagihan akhirnya mengusik tidur dan keluarga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laporan <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/x\/detail\/intermeso\/20250328\/Kala-Gen-Z-Dikepung-Teror-Pinjol-dan-Pay-Later\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">detikX<\/a> pada Maret 2025 memperlihatkan kerusakan yang lebih jauh. Sari, nama samaran, mengawali penggunaan paylater untuk membeli gawai pada 2023.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, dia menghadapi utang gabungan paylater dan pinjaman daring sekitar Rp40 juta serta panggilan penagihan berulang. Laporan itu tidak merinci pendapatannya, sehingga kita tidak bisa memastikan posisi kelas ekonominya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam laporan yang sama, Sila, juga nama samaran, menceritakan dampak utang terhadap kehidupan sehari-hari. Dia memakai sepuluh aplikasi paylater dan pinjaman daring, lalu menunggak pada sembilan aplikasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut pengakuannya, penagih menghubungi keluarga, menyasar lingkungan kampus, dan menyebarkan informasi pribadinya. Dia kehilangan selera makan, mengalami pola tidur kacau, dan sulit berkonsentrasi saat kuliah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hidup gen milenial yang penuh perjuangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Sila bukan bukti kondisi seluruh gen milenial, Gen Z, atai generasi lainnya yang terjebak di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/slow-living-di-jogja-adalah-mimpinya-para-kelas-menengah-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kelas menengah<\/a>. Namun, pengalamannya menunjukkan bahwa persoalan utang dapat melampaui angka dalam aplikasi. Penagihan bisa memasuki hubungan keluarga, kegiatan belajar, dan rasa aman seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, pembicaraan tentang paylater perlu melampaui ejekan terhadap orang yang \u201ctidak tahu kemampuan\u201d. Haikal menghadapi hilangnya satu sumber penghasilan. Amelia menghadapi pengeluaran yang menggerogoti tabungan. Thea menanggung kebutuhan dua generasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka tetap memerlukan perhitungan dan batas utang. Namun, pemerintah, pemberi kerja, dan penyedia pembiayaan juga perlu memperhatikan jarak antara penghasilan, biaya hidup, serta kemampuan membayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, ketika seseorang menghabiskan gaji untuk membayar kehidupan kemarin via paylater, bulan depan tidak lagi menawarkan awal baru. Ia hanya membawa tagihan berikutnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/tajuk\/jebakan-ilusi-paylater\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Inilah kisah mengerikan ketika paylater menghancurkan, merusak masa depan gen milenial di Indonesia. Jadikan pelajaran buat kamu.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":422091,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[35313,4311,12919,11451,16424,378,35314],"class_list":["post-422089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-gen-milenial","tag-kelas-menengah","tag-paylater","tag-shopee-paylater","tag-spaylater","tag-utang","tag-utang-paylater"],"modified_by":"Yamadipati Seno","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422089"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422089\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422092,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422089\/revisions\/422092"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422091"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}