{"id":422061,"date":"2026-10-16T11:06:14","date_gmt":"2026-10-16T04:06:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422061"},"modified":"2026-10-16T11:06:14","modified_gmt":"2026-10-16T04:06:14","slug":"heran-uin-malang-yang-payah-masuk-kampus-terbaik-the-wur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/heran-uin-malang-yang-payah-masuk-kampus-terbaik-the-wur\/","title":{"rendered":"Heran UIN Malang yang &#8220;payah&#8221; bisa masuk 10 besar kampus terbaik di Indonesia versi THE WUR"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lulus dari UIN Maliki Malang tiga tahun lalu. Sebagai alumnus, saya terkejut membaca kabar kampus tercinta masuk daftar <a href=\"https:\/\/uin-malang.ac.id\/id\/blog\/berita-2\/uin-malang-tercatat-sebagai-10-besar-perguruan-tinggi-indonesia-versi-the-wur-2027-791\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Top 10 Kampus Terbaik di Indonesia<\/a> versi Times Higher Education (THE) World University Rankings 2027. Lebih tepatnya, UIN Maling menduduki peringkat 7 di bawah UNAIR dan di atas BINUS.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perasaan ini mirip seperti yang dirasakan oleh salah satu penulis Mojok dalam artikelnya berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-orang-nggak-rela-uin-jogja-jadi-kampus-terbaik-ke-2\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mencoba memahami mengapa orang-orang nggak terima UIN Jogja jadi kampus terbaik ke-2 versi THE WUR<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam artikel tersebut, penulis terheran-heran UIN Jogja bisa menyalip kampus-kampus besar seperti UGM, Undip, dan ITB.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, ada rasa bangga melihat almamater mendapat pengakuan internasional. Apalagi kabar ini terus berseliweran di berbagai grup alumni yang saya ikuti. Namun, di saat bersamaan, muncul pertanyaan yang sulit saya abaikan. Apakah prestasi di atas kertas sudah sejalan dengan pengalaman mahasiswa selama kuliah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan bermaksud meremehkan capaian kampus sendiri. Hanya saja, ingatan tentang fasilitas kelas, persyaratan akademik, hingga birokrasi penelitian yang payah masih melekat di benak ini. Ada beberapa hal yang membuat saya merasa bahwa peringkat tinggi semestinya juga menjadi momentum untuk membenahi persoalan di tingkat mahasiswa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Peringkat mendunia, tapi pengalaman belajar saya di UIN Malang punya cerita berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemeringkatan THE WUR menggunakan sejumlah indikator, mulai dari pengajaran, lingkungan dan kualitas riset, industri, hingga wawasan internasional. Artinya, posisi kampus tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas gedung atau kenyamanan ruang kelas. Saya bisa memahami mengapa kampus dengan produktivitas riset dan publikasi akademik yang baik memperoleh nilai tinggi. Namun, pertanyaan tentang kualitas pengalaman belajar mahasiswa juga tetap relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semasa kuliah di UIN Malang, saya masih mengingat ruang kelas reguler yang mengandalkan kipas angin. Sementara itu, ruangan berpendingin udara lebih mudah ditemukan di fasilitas tertentu, seperti auditorium dan laboratorium.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan mengikuti perkuliahan siang hari ketika cuaca sedang panas. Alih-alih fokus menyimak dosen, mahasiswa kadang harus berdamai dengan udara gerah dan kipas angin yang berputar seadanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, kipas angin bukan indikator utama THE WUR. Namun, bagi mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam di kelas, kenyamanan ruang belajar bukan persoalan remeh. Prestasi internasional tentu patut dirayakan, tetapi jangan sampai pengalaman belajar sehari-hari justru luput dari perhatian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Integrasi keilmuan, skripsi pun harus mencari dalil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai kampus Islam, UIN Malang memiliki ciri khas integrasi ilmu pengetahuan dan nilai keislaman. Gagasan tersebut tentu menarik karena ilmu tidak seharusnya dipisahkan begitu saja dari persoalan etika dan kemanusiaan. Namun, berdasarkan pengalaman saya, penerapannya dalam pengerjaan skripsi terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa program studi umum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pengalaman saya, penelitian yang dikerjakan tetap perlu dikaitkan dengan nilai keislaman dan dilengkapi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/dalil-islam-agar-tak-merusak-alam-untuk-gus-ulil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dalil Al-Qur&#8217;an<\/a> atau hadis. Akibatnya, mahasiswa yang meneliti bidang teknis harus mencari hubungan antara topik penelitiannya dengan landasan keagamaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meneliti sistem informasi atau pengelolaan arsip, misalnya, bukan hanya menuntut mahasiswa memahami metode penelitian dan persoalan teknis. Mereka juga harus memikirkan bagaimana menghubungkan penelitian tersebut dengan nilai keislaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Integrasi ilmu sebenarnya bisa menjadi keunggulan kampus. Namun, penerapannya perlu memberi ruang bagi relevansi akademik, bukan sekadar memenuhi persyaratan formal. Jangan sampai mahasiswa lebih sibuk mencari ayat yang cocok daripada memperdalam substansi penelitiannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dana penelitian ada, LPJ-nya bikin ngelus dada\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan lain yang masih saya ingat adalah urusan pendanaan penelitian mahasiswa dan laporan pertanggungjawaban di UIN Malang. Berdasarkan pengalaman saya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kompetisi-hibah-riset-pemerintah-tidak-transparan-dan-ribet\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dana penelitian<\/a> yang diperoleh berada di kisaran Rp3 juta-Rp5 juta. Nominal tersebut tentu perlu dilihat berdasarkan skema dan ketentuan pendanaan yang berlaku. Namun, bagi mahasiswa yang harus membiayai pengumpulan data, transportasi, dan kebutuhan penelitian lainnya, pengelolaan dana yang efisien menjadi sangat penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu yang lebih membekas justru urusan administrasinya. Ketika menggunakan ojek daring untuk menuju lokasi penelitian, saya pernah diminta menyertakan foto pengemudi sebagai bukti perjalanan dalam laporan pertanggungjawaban. Padahal, transaksi perjalanan sudah tercatat di aplikasi. Saya akhirnya harus memikirkan bagaimana mendapatkan bukti tambahan di tengah kegiatan penelitian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalannya bukan sekadar harus mengambil foto, melainkan apakah setiap persyaratan administrasi benar-benar diperlukan dan proporsional. Jangan sampai mahasiswa lebih sibuk mengurus dokumen pencairan dana daripada mengembangkan kualitas penelitiannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Prestasi besar semestinya terasa sampai ke mahasiswa UIN Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat masuknya UIN Malang dalam jajaran kampus terbaik versi THE WUR merupakan capaian yang patut diapresiasi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa ada aspek akademik kampus yang memperoleh pengakuan dalam pemeringkatan internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, reputasi kampus tidak hanya hidup dalam publikasi ilmiah dan tabel peringkat. Mahasiswa juga merasakannya melalui ruang kelas yang nyaman, prosedur administrasi yang masuk akal, dukungan penelitian, dan kesempatan pengembangan diri yang merata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai alumni, saya tentu ingin melihat UIN Malang terus berkembang. Kritik bukan berarti tidak bangga terhadap<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jas-almamater-kampus-paling-keren-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> almamater<\/a>, melainkan bentuk harapan agar capaian besar di tingkat internasional diikuti perbaikan yang terasa dalam kehidupan akademik sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selamat untuk UIN Malang. Semoga predikat membanggakan tersebut bukan hanya mempercantik profil kampus, tetapi juga menjadi alasan untuk berbenah. Sebab, bagi mahasiswa yang pernah berjuang menyelesaikan skripsi sambil berhadapan dengan kipas angin dan tumpukan LPJ, kemajuan kampus akan terasa lebih nyata ketika perubahan benar-benar sampai ke ruang kelas dan meja administrasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ferika Sandra<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-orang-nggak-rela-uin-jogja-jadi-kampus-terbaik-ke-2\/\"><b><i>Mencoba memahami mengapa orang-orang nggak terima UIN Jogja jadi kampus terbaik ke-2 versi THE WUR.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Posisi UIN Malang di peringkat 7 kampus terbaik di Indonesia versi THE WUR dipertanyakan karena pengalaman kuliah di sana kurang memuaskan. <\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":422101,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[921,28082,35317,985,35287,5442,6090],"class_list":["post-422061","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kampus","tag-kampus-malang","tag-kampus-terbaik","tag-malang","tag-the-wur","tag-uin","tag-uin-malang"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422061","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422061"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422061\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422108,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422061\/revisions\/422108"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422101"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422061"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422061"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422061"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}