{"id":422027,"date":"2026-10-15T17:18:34","date_gmt":"2026-10-15T10:18:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422027"},"modified":"2026-10-15T17:18:34","modified_gmt":"2026-10-15T10:18:34","slug":"jalanan-jogja-terlalu-diromantisasi-aslinya-lebih-jahat-dari-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalanan-jogja-terlalu-diromantisasi-aslinya-lebih-jahat-dari-jakarta\/","title":{"rendered":"Jalanan Jogja terlalu diromantisasi, aslinya lebih jahat dari jalanan Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Klakson memang nggak ada di Jogja. Tapi tahukah kamu apa lagi yang nggak ada di Jogja? Ia adalah rem dan rela mempersilakan orang untuk menyeberang jalan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang pengguna Threads dengan akun<\/span><a href=\"https:\/\/www.threads.com\/@ada_age\/post\/DealvT3E8SA\"> <span style=\"font-weight: 400;\">@ada_age<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> membagikan pengalaman <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dialaminya di Jogja. <\/span><a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=culture+shock+mojok&amp;rlz=1C1VDKB_enID1058ID1058&amp;oq=Culture+shock+mojok&amp;gs_lcrp=EgZjaHJvbWUqBggAEEUYOzIGCAAQRRg7MgYIARBFGDzSAQgzMzE1ajBqN6gCALACAA&amp;sourceid=chrome&amp;source=chrome.ob&amp;ie=UTF-8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Culture shock<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> ini bukan soal makanan Jogja yang kemanisan bagi seleranya maupun orang Jogja yang pakai arah mata angin untuk menunjukkan arah, melainkan perilaku pengendara di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut penuturan, pengendara di Jogja nggak ngasih jalan bagi penyeberang. Penyeberang dibiarkan untuk menunggu sampai arus deras kendaraan habis, baru bisa menyeberang. Lampu merah di Jogja memang banyak, tapi nggak semua jalan dipasangi lampu merah. Ketika nggak ada lampu merah dan terpaksa menyeberang di tengah ruas jalan inilah yang dipermasalahkan oleh si pemilik akun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blio sebagai pendatang dari Jakarta saja bilang bahwa jalanan di Jogja itu ngeri untuk penyeberang jalan. Saya sebagai warga Jogja asli yang punya peran sebagai pejalan kaki, pesepeda, penumpang bus kota, sekaligus pengendara motor menyatakan, SAYA SETUJU!<\/span><\/p>\n<h2><b>Di Jogja, penyeberang jalan wajib sabar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap selepas subuh saya suka berolahraga dengan cara bersepeda atau jalan kaki berkeliling Jogja. Saya kira tantangan jalan kaki di Jogja itu hanya soal ketiadaan trotoar, atau trotoarnya diambil alih oleh pedagang kaki lima. Ternyata saya pulang dengan kepala pusing dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mood<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berantakan karena nggak bisa nyebrang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rute yang saya ambil dari Jalan Kyai Mojo ke timur menuju Tugu, lalu belok ke selatan menuju Jalan Pangeran Mangkubumi. Di rute yang masih pendek ini, saya sudah nggak bisa nyebrang di Perempatan Pingit. Padahal, itu masih jam 5 pagi yang seharusnya lalu lintas masih lengang. Bahkan saya sebenarnya menyeberang langsung di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">zebra cross<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di belakang lampu merah. Tapi motor dan mobil melintas dengan kencang. Saya harus menunggu sampai nggak ada satupun kendaraan yang lewat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penantian lebih parah terjadi di sebelah barat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stasiun-tugu-jogja-saksi-duka-cinta-harapan-serta-kekalahan-orang-orang-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Yogyakarta.<\/a> Saya hanya mau menyeberang dari sisi kanan jalan ke sisi kiri. Tapi saya menunggu hampir 10 menit karena benar-benar nggak ada satupun kendaraan yang mengalah. Padahal saya berdiri tepat di atas <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">zebra cross<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Dan jalan ini pun satu arah, yang menurut saya seharusnya lebih mudah untuk diseberangi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, saya punya banyak sekali pengalaman kesulitan nyebrang di Jogja, baik saat berjalan kaki, naik sepeda, bahkan naik motor sekalipun. Sudah nggak terhitung pula berapa kali saya hampir celaka karena pengendara motor di Jogja nggak mau mengalah dan bersabar sedikit. Dan ini sudah saya alami sejak masih SMP, yang mana sudah 14 tahun berlalu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kendaraan di Jogja bukan cuma tanpa klakson, tapi juga tanpa rem<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya cek di beberapa kanal berita di internet, ternyata banyak sekali kasus penyeberang jalan tewas karena ditabrak pengendara kendaraan bermotor di Jogja. Contoh beritanya ada banyak, tapi kalau kamu kepo atau butuh bukti, kamu bisa membaca<\/span><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-8455832\/nenek-80-tahun-tewas-ditabrak-motor-saat-menyeberang-di-jogja\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan<\/span><a href=\"https:\/\/jogja.polri.go.id\/polda\/tribrata-news\/online\/detail\/motor-tabrak-penyeberang-jalan-di-banguntapan-bantul--satu-orang-tewas.html\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat membaca berita-berita tersebut, saya langsung takjub. Wah, ini di Jogja, lho. Di kota yang katanya pengendaranya santun, nggak ada klakson, dan melaju alon-alon waton kelakon. Tapi nyatanya menyeberang jalan saja bisa berbahaya bagi nyawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, menurut saya, Jakarta yang mendapatkan stereotip kota dengan pengendara ugal-ugalan justru nggak separah ini. Saya juga menjadi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum di Jakarta. Ketika harus menyeberang, pengendara-pengendara tetap memberikan giliran buat saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat pertama kali ke Jakarta, jujur saja, saya sempat mengira akan menunggu paling cepat 15 menit untuk bisa menyeberang. Tapi ketika sudah berdiri di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">zebra cross<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pengendara yang sedang melaju langsung mengerem dan mempersilakan saya menyeberang. Dan saat saya menyeberang, nggak ada satu pun pengendara yang memelototi saya seakan saya merampas waktu mereka. Kalau di Jogja mah sudah sering saya dipelototin.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penyeberang berhak menggunakan jalan dengan selamat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat disayangkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ringroad-jogja-butuh-jpo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jembatan Penyeberangan Orang (<\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">JPO<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">) nggak\u00a0 tersedia cukup di Jogja untuk mengatasi masalah ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Zebra cross<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah nggak bisa diharapkan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Zebra cross<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dicat putih dan memang diperuntukkan sebagai tempat menyeberang saja agaknya sudah nggak terlihat di mata pengendara di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering mendengar celetukan orang-orang di sekitar saya bahwa menyeberang jalan di Jogja memang harus modal nekat. Kalau nggak nekat, kita bakal menunggu sampai hari raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, menurut saya, menyeberang jalan di Jogja itu tak ubahnya buah simalakama alias serba salah! Kalau nekat, saya takut ada pengendara yang benar-benar keras kepala dan memilih untuk terus melajukan kendaraannya hingga menabrak saya. Tapi kalau nggak nekat, waktu saya akan terbuang sia-sia. Kalau orang Jakarta menua di perjalanan, kita penyeberang jalan di Jogja menua di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">zebra cross<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Noor Annisa Falachul Firdausi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ruang-hijau-di-jogja-itu-barang-mewah-wisdom-park-aja-berbayar\/\"><b>Wisdom Park UGM berbayar, bukti ruang terbuka hijau di Jogja itu barang mewah.<\/b><\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang terlalu meromantisasi Jogja, termasuk jalanannya. Aslinya, jalanan di sana bisa lebih jahat daripada Jakarta. <\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":422031,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[529,14315,115,1207],"class_list":["post-422027","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-jalan","tag-jogja","tag-lalu-lintas"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422027","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422027"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422027\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422029,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422027\/revisions\/422029"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422031"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}