{"id":422016,"date":"2026-10-15T15:08:51","date_gmt":"2026-10-15T08:08:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=422016"},"modified":"2026-10-15T15:08:51","modified_gmt":"2026-10-15T08:08:51","slug":"universitas-terbuka-kampus-paling-ramah-disabilitas-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/universitas-terbuka-kampus-paling-ramah-disabilitas-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Universitas Terbuka kampus paling ramah disabilitas di Indonesia: bukan yang ramp-nya paling banyak, melainkan yang tak menuntut mahasiswanya datang ke kampus"},"content":{"rendered":"<p><em>Universitas Terbuka adalah kampus paling ramah disabilitas, sebab, ia memberikan pilihan, memberikan kemudahan<\/em><\/p>\n<p>Ketika mendengar istilah kampus ramah disabilitas, bayangan saya mungkin masih sama seperti kebanyakan orang. Ada ramp di depan gedung, lift untuk menuju lantai atas, toilet yang bisa digunakan pengguna kursi roda, serta jalur khusus bagi mahasiswa dengan hambatan penglihatan. Semua itu tentu jelas penting. Kampus memang harus bisa dimasuki dan digunakan oleh siapa pun, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.<\/p>\n<p>Tapi ada satu pertanyaan yang jarang menjadi pembahasan. Bagaimana kalau bentuk aksesibilitas yang paling membantu justru membuat mahasiswa tidak perlu datang ke kampus?<\/p>\n<h2><strong>Ketika rumah bisa menjadi ruang kuliah, indahnya kuliah di Universitas Terbuka<\/strong><\/h2>\n<p>Saya menjadi mahasiswa Universitas Terbuka dan cukup akrab dengan kuliah yang tidak selalu mengharuskan saya duduk di ruang kelas. Bahan kuliah bisa dipelajari dari rumah, komunikasi akademik dilakukan secara online, tugas dikerjakan tanpa harus setiap hari datang ke gedung kampus, serta proses ujian yang bisa menyesuaikan dengan kondisi mahasiswanya karena tersedia secara daring maupun luring. Ada juga bantuan beasiswa untuk penyandang disabilitas. Model seperti ini terasa sangat praktis dan inklusif.<\/p>\n<p>Saya kemudian membayangkan pengalaman mahasiswa yang menggunakan kursi roda. Sebuah kampus boleh saja memiliki ramp yang bagus, tetapi bagaimana dengan perjalanan dari rumah menuju kampus? Kalau transportasinya sulit, trotoarnya tidak ramah kursi roda, harus berpindah kendaraan beberapa kali, lalu masih harus mencari ruangan kuliah di gedung yang luas, ramp di pintu masuk tentu belum menyelesaikan semuanya.<\/p>\n<p>Belum lagi mahasiswa dengan kondisi tertentu yang membuat perjalanan dan aktivitas di lingkungan kampus menjadi jauh lebih melelahkan.<\/p>\n<h2><strong>Akses pendidikan tidak seharusnya berhenti di gedung kampus<\/strong><\/h2>\n<p>Di sinilah pembelajaran jarak jauh yang Universitas Terbuka tawarkan punya arti yang cukup besar. Ketika ruang kuliah bisa diakses dari rumah, sebagian hambatan fisik yang biasanya harus dilewati mahasiswa dapat hilang sebelum mereka memulai perkuliahan. Gedung kampus tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju pendidikan. Laptop dan ponsel bisa menjadi pintu lainnya.<\/p>\n<p>Tentu saja bukan berarti kuliah daring otomatis menyelesaikan semua persoalan penyandang disabilitas. Materi digital tetap harus dibuat aksesibel. Platform pembelajaran harus bisa digunakan dengan teknologi bantu seperti screen reader. Video pembelajaran membutuhkan bentuk penyajian yang mudah diakses, dan mahasiswa tetap membutuhkan dukungan akademik ketika menghadapi kesulitan. Koneksi internet dan kepemilikan perangkat juga menjadi persoalan tersendiri.<\/p>\n<p>Tetapi setidaknya ada satu hambatan yang tidak perlu mereka hadapi setiap kali jadwal kuliah tiba, yaitu keharusan meninggalkan rumah dan mencapai gedung kampus. Inilah yang Universitas Terbuka tawarkan.<\/p>\n<h2><strong>Belajar dari pengalaman<\/strong><\/h2>\n<p>Sebagai mahasiswa Universitas Terbuka, saya merasakan sendiri bagaimana pendidikan bisa berjalan tanpa kehadiran fisik yang terus-menerus. Saya bisa belajar di sela aktivitas lain dan mengatur tempat belajar sesuai keadaan. Awalnya saya menganggap fleksibilitas itu sebagai kemudahan bagi mahasiswa yang bekerja atau memiliki kesibukan. Setelah melihatnya dari sudut pandang aksesibilitas, manfaatnya ternyata bisa jauh lebih luas.<\/p>\n<h2><strong>Universitas Terbuka, kampus yang memberi pilihan<\/strong><\/h2>\n<p>Selama ini kita sering mengukur keramahan sebuah kampus dari apa yang tersedia di gedungnya. Berapa banyak ramp yang dibangun, apakah sudah ada lift, bagaimana kondisi toiletnya, dan apakah mahasiswa pengguna kursi roda bisa masuk ke setiap ruangan. Semua pertanyaan itu tetap penting. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang perlu ditambahkan: apakah mahasiswa memang harus datang ke gedung tersebut untuk bisa mendapatkan akses pendidikan?<\/p>\n<p>Universitas Terbuka tentu bukan berarti sudah sempurna dalam urusan aksesibilitas. Tidak ada sistem pendidikan yang selesai hanya dengan memindahkan ruang kelas ke layar genggam. Tetapi model pembelajaran jarak jauh memberikan satu gagasan yang menurut saya layak diperhitungkan ketika kita membicarakan kampus yang inklusif.<\/p>\n<p>Ramp dan lift tetap diperlukan. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Toilet_difabel\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Toilet aksesibel<\/a> juga harus tetap ada. Namun bagi sebagian mahasiswa, kampus yang paling ramah adalah kampus yang memberikan kebebasan untuk belajar dari tempat yang paling aman dan nyaman bagi mereka.<\/p>\n<p>Gedung kampus boleh berdiri megah di sebuah kota. Tetapi pendidikan tidak seharusnya berhenti di depan pintunya.<\/p>\n<p>Penulis: Riko Prihandoyo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/universitas-terbuka-buktikan-jadi-sarjana-tak-harus-pindah-kota\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Terbuka buktikan jadi sarjana tak harus pindah kota, apalagi sampai lupa jalan pulang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Universitas Terbuka adalah kampus paling ramah disabilitas, sebab, ia memberikan pilihan, memberikan kemudahan<\/p>\n","protected":false},"author":3072,"featured_media":422017,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[1761,35311,19808,6120],"class_list":["post-422016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-disabilitas","tag-kampus-ramah-disabilitas","tag-kuliah-di-universitas-terbuka","tag-universitas-terbuka"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3072"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=422016"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422016\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422018,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/422016\/revisions\/422018"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422017"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=422016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=422016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=422016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}