{"id":421852,"date":"2026-10-15T10:09:59","date_gmt":"2026-10-15T03:09:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=421852"},"modified":"2026-10-15T10:09:59","modified_gmt":"2026-10-15T03:09:59","slug":"7-alasan-semarang-nggak-nyaman-buat-kuliah-mending-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-alasan-semarang-nggak-nyaman-buat-kuliah-mending-jogja\/","title":{"rendered":"7 alasan Semarang bukan lagi kota nyaman buat kuliah, mending ke Jogja atau Bandung kalau nggak mau menyesal dan kapok"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski gaungnya jelas kalah nyaring jika kita membandingkannya dengan Jogja atau Jakarta sebagai <a href=\"https:\/\/edukasi.kompas.com\/read\/2026\/06\/13\/114500571\/11-kampus-swasta-terbaik-di-semarang-referensi-kuliah-tahun-2026\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">destinasi menimba ilmu<\/a>, Semarang sempat jadi surga tersembunyi bagi para mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Atlas ini pernah punya takaran pas. Ritme hidupnya nggak sekejam Jakarta, tapi juga nggak kelewat santai layaknya Jogja yang sering bikin mahasiswa terlena lulus lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbekal pengalaman pernah mencicipi ritme akademis di Jogja sekaligus Semarang, saya merasakan betul kontrasnya. Kalau opini itu jadi populer beberapa dekade lalu, saya setuju. Tapi sekarang, kalimat manis itu sudah jadi dongeng usang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah di Semarang itu bukan perkara seberapa cepat saja otak berputar. Tapi juga sekuat apa mental seseorang menjaga kewarasan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Hawa panas, nggak cocok buat berhemat anggaran transportasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang pernah menyandang status sebagai kota terpanas di Indonesia. Ini jadi sebuah neraka kecil bagi mahasiswa yang menuntut ilmu di Kota Lumpia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Punya mobil ber-AC memang pilihan ideal. Sialnya, nggak semua mahasiswa beruntung. Sebagian terpaksa memeluk gaya hidup frugal living dengan berjalan kaki demi menghemat uang makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, berjalan di bawah terik Semarang adalah penyiksaan fisik. Baru melangkah lima menit, baju sudah basah kuyup oleh keringat hingga bikin risih di ruang kuliah. Ujung-ujungnya, mahasiswa terpaksa mengorbankan anggaran bulanan yang tipis itu demi memesan ojek online atau naik angkutan umum agar selamat sampai kampus.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Harga kos di Semarang yang semakin mencekik, apalagi kalau butuh AC<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, AC di Semarang sekarang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-bukan-hanya-tentang-kabar-buruk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bukan lagi barang mewah<\/a>. Tapi, instrumen penyelamat nyawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, tarif kos ber-AC di sini sering kali sudah atau hampir sama ala kantoran Jakarta. Sudah begitu, harga sewa kos terus meroket tiap tahun akibat inflasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau nekat bertahan di kos murah non-AC demi berhemat? Siap-siap saja kamar berubah jadi oven mini yang bikin tidur gelisah dan produktivitas belajar amblas total. Masih mending ngekos dan kuliah di Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Pasar sasaran kafe kebanyakan untuk keluarga dan orang kantoran, Jogja masih mending<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa mana yang nggak butuh markas buat kerja kelompok atau sekadar menumpang Wi-Fi? Sedihnya, kafe-kafe di Semarang jarang yang ramah kantong pas-pasan mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, mayoritas kafe di Semarang banyak yang berdiri dengan konsep tempat kumpul keluarga atau meeting korporat berkelas. Alih-alih dapat atmosfer diskusi, yang ada malah ciut mental karena dikepung rombongan keluarga besar yang heboh atau omongan proyek bernilai miliaran rupiah dari pengusaha lokal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Sedikitnya spot healing murah meriah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat stres melanda gara-gara revisi skripsi, pelarian mahasiswa tentu saja healing tipis-tipis yang ramah di kantong. Kalau di Jogja, ruang terbuka gratis dan jejeran pantai eksotis terbilang berlimpah. Tapi, di Semarang, urusan cari tempat pelepas penat yang gratis dan adem adalah misi mustahil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau nongkrong di ruang publik terbuka yang jumlahnya bisa kamu hitung pakai jari? Jangan harap bisa tenang. Kalah jauh sama Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasananya sudah pasti panas menyengat plus bising. Sementara, tempat rekreasi berbayar yang agak asri kebanyakan menyempil di Semarang atas. Praktis, niat mau refreshing malah boncos di ongkos dan tiket masuk.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Budaya rebahan karena cuaca dan kontur jalan di Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kombinasi cuaca Semarang yang super panas plus <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-jalanan-angker-di-semarang-yang-bikin-ngeri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kontur jalanan yang curam<\/a> sukses bikin tenaga mahasiswa jebol seketika. Begitu sampai kos, tubuh langsung masuk mode hemat daya. Jangankan buat bersosialisasi demi memperluas relasi, keluar cari makan saja malasnya setengah mati. Sampai-sampai apa pun harus diandalkan ke ojek online.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampaknya, jam terbang buat mengobrol dan mengasah soft skill komunikasi jadi terpangkas drastis. Prinsip mahasiswa di Semarang itu sederhana tapi memprihatinkan. Bagi mereka, yang penting bisa lulus kuliah tepat waktu dengan IPK aman, tanpa perlu pusing mikirin skill tambahan di luar ruang kelas yang sejatinya dibutuhkan di dunia kerja nanti.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Minimnya ruang alternatif untuk mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita membandingkan Jogja atau Bandung, ekosistem kreatif independen seperti ruang pamer seni dan acara diskusi budaya gratis untuk anak muda di Semarang jelas tertinggal jauh. Padahal, jadi mahasiswa itu bukan cuma soal menghafal teori di kelas. Tapi juga mencari ruang buat merawat idealisme dan bertukar gagasan di luar dinding kampus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rumitnya, pembangunan di Semarang telanjur jor-joran dengan budaya konsumerisme dengan menjamurnya mal-mal baru. Makanya, mahasiswa yang mau mencari tempat buat berekspresi sering kali harus gigit jari karena lapangannya kurang memadai. Bukannya mendukung pemikiran kritis anak muda, sepertinya Semarang lebih suka mengenalkan paham hedonisme.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Tidak ada perpustakaan 24 jam di Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, waktu di Jogja, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perpustakaan-kampus-harusnya-buka-24-jam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">belajar di kampus sampai tengah malam<\/a> adalah fasilitas gratis yang teramat remeh. Di Semarang, kemudahan macam itu berubah jadi mitos.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, masuk perpustakaan saja rasanya mirip diusir secara halus begitu jam istirahat siang tiba. Padahal jumlah petugasnya lebih dari satu orang yang semestinya bisa bergantian jaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, Semarang ini miskin fasilitas perpustakaan publik atau ruang belajar bersama yang bisa diakses gratis selama 24 jam penuh. Ironisnya, kerja otak mahasiswa tingkat akhir baru benar-benar encer justru di atas jam sepuluh malam saat dunia sudah sepi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang mungkin tetap ramah di kenangan para alumni masa lampau. Tapi bagi mahasiswa yang hari ini berjibaku dengan terik matahari, kantong tipis, dan ujian mental berlapis, Semarang adalah ujian hidup yang sesungguhnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-kota-yang-nanggung-dan-membosankan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dulu Pengin Segera Kabur dari Semarang, Kota yang Nanggung dan Membosankan, kini Selalu Kangen Setelah Kerja di Jakarta<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang masa kini nggak lagi nyaman untuk kuliah karena kombinasi cuaca panas dan mahalnya kenyamanan. Masih mending kuliah di Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":421853,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[141,115,28726,35303,20095,20127,4652,23462],"class_list":["post-421852","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-jogja","tag-kampus-semarang","tag-kos-kosan-di-semarang","tag-kuliah-di-semarang","tag-mahasiswa-semarang","tag-semarang","tag-universitas-di-semarang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421852"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421852\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":421854,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421852\/revisions\/421854"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/421853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}