{"id":421820,"date":"2026-10-15T13:34:42","date_gmt":"2026-10-15T06:34:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=421820"},"modified":"2026-10-15T13:34:42","modified_gmt":"2026-10-15T06:34:42","slug":"tk-kurikulum-cambridge-bayarnya-biaya-london-isinya-belum-tentu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tk-kurikulum-cambridge-bayarnya-biaya-london-isinya-belum-tentu\/","title":{"rendered":"TK Kurikulum Cambridge: bayarnya biaya London, isinya belum tentu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun terakhir saya perhatikan spanduk penerimaan murid baru TK di sekitar rumah makin aneh-aneh. Dulu cukup nama sekolah, nomor telepon, sama gambar anak senyum. Sekarang hampir selalu ada tambahannya, entah &#8220;kurikulum Cambridge&#8221;, &#8220;IB&#8221;, atau &#8220;bilingual&#8221;. Ada yang dipasang semuanya sekaligus. Saya sampai mikir, ini TK atau agen studi luar negeri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, jualan begitu memang laku. Uang pangkalnya bikin orang tua mikir dua kali, tapi yang daftar tetap banyak. Logikanya kurang lebih begini: kurikulumnya dari negara maju, berarti bagus, berarti anak saya nanti pintar. Jarang ada yang tanya lebih jauh. Lha wong yang penting anaknya pulang sudah bisa bilang &#8220;Good morning, Miss&#8221;, direkam, terus dikirim ke grup keluarga. Soal sudah bisa pakai sepatu sendiri atau belum, itu urusan nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak mau gebyah uyah juga. Ada sekolah yang dari awal tujuannya memang jelas, yaitu menyiapkan anak yang nanti mau sekolah di luar negeri. Biasanya orang tuanya kerja di luar, atau memang sudah punya rencana ke sana. Sekolah seperti ini umumnya serius. Gurunya dilatih, kerja samanya dengan lembaga luar jelas, penilaiannya juga ikut standar sana. Kalau mereka pakai Cambridge atau IB, ya wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin saya gemas itu sekolah yang cuma ikut-ikutan. Tetangga pasang label Cambridge, ikut pasang. Gurunya belum pernah dapat pelatihan, bahan ajarnya cari di Pinterest, sementara Kurikulum Merdeka tetap harus dijalankan karena urusan akreditasi. Ujungnya campur aduk. Mau dibilang kurikulum luar, bukan. Dibilang kurikulum nasional, kok ya setengah-setengah. Yang paling pusing tentu guru di kelas, karena dia yang harus menjahit semua itu jadi kegiatan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masalah kurikulum Cambridge dan sejenisnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak juga kena imbasnya. Karena acuannya luar negeri, isinya pun ikut luar negeri. Ada lembar kerja empat musim, anak disuruh menempel kapas jadi salju. Di Surabaya, yang siangnya bisa tembus 34 derajat. Disuruh mewarnai daun maple, padahal yang tiap hari rontok di halaman sekolah itu daun ketapang. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A for apple<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih awet, padahal alpukat ada, ayam juga ada. Giliran tema buah, yang muncul stroberi sama blueberry. Rambutan yang dijual di depan gerbang nggak pernah kebagian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelihatannya remeh, tapi coba dipikir lagi. Anak umur lima tahun tekun belajar soal dunia yang belum tentu pernah dia lihat, sementara yang dia lihat tiap hari nggak pernah dibahas di kelas. Lama-lama yang nyantol di kepalanya ya itu tadi, yang di luar sana penting, yang di sini biasa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan saya sedang kuliah lagi di PG PAUD, dan di mata kuliah Teori Kritis, hal semacam ini dibahas dengan istilah dekolonisasi. Gampangnya begini. Belanda memang sudah lama pulang, tapi cara kita menilai mana yang bermutu masih sering ikut ukuran orang luar. Yang dari luar dianggap standar, yang lokal dianggap tambahan, kadang malah dianggap ndeso.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/independent.academia.edu\/GaileCannella\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gaile Cannella<\/a>, salah satu yang sering dirujuk dalam kritik ini, mempertanyakan teori perkembangan anak dari Barat yang selama ini dianggap berlaku untuk semua anak di dunia. Padahal teori itu disusun dari pengamatan terhadap anak-anak di lingkungan tertentu, yang jelas beda dengan anak-anak di kampung kita. Kurikulum Cambridge, meski bagus, belum tentu sesuai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak boleh pakai nama internasional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, pemerintah sebenarnya sudah lama mengatur soal label ini, label macam kurikulum Cambridge. Permendikbud Nomor 31 Tahun 2014 menghapus label sekolah internasional, dan itu berlaku juga untuk PAUD. Sekolah yang mau bekerja sama dengan lembaga pendidikan asing harus berstatus Satuan Pendidikan Kerja Sama atau SPK. SPK sendiri malah nggak boleh memakai kata &#8220;Internasional&#8221; di nama sekolah, program, kelas, atau mata pelajarannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, yang betul-betul bekerja sama dengan lembaga luar saja dilarang pasang kata itu. Tapi coba saja lihat brosur TK sekarang. Kurikulum Cambridge bertebaran dan amat mudah ditemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kurikulum kita sendiri juga sudah memberi arah. Di Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, kurikulum PAUD diarahkan untuk menguatkan nilai agama, jati diri, dan literasi dasar lewat bermain yang bermakna. Jauh sebelum itu, Ki Hajar Dewantara sudah bilang pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman anak. Kodrat alam anak Surabaya ya panas, hujan, sama banjir. Salju nggak masuk hitungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang sering dilupakan, banyak negara maju justru serius menggali budayanya sendiri. Selandia Baru, misalnya, menyusun kurikulum PAUD nasionalnya, Te Wh\u0101riki, dengan memadukan pandangan masyarakat M\u0101ori dan budaya Barat. Mereka nggak sibuk meniru kurikulum negara lain. Kalau kita memang mau belajar dari negara maju, mungkin bagian ini yang perlu ditiru duluan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saya tak anti kurikulum Cambridge atau kurikulum luar sejenis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga nggak anti kurikulum luar. Anak memang perlu tahu kalau di belahan bumi lain ada salju. Silakan saja diadaptasi, asal benar-benar diadaptasi. Gurunya disiapkan, isinya disesuaikan dengan lingkungan anak, dan anak tetap mulai belajar dari dunianya sendiri. Bahannya banyak dan nggak perlu bayar lisensi. Musim hujan ada genangan dan katak, musim kemarau ada layangan, pasar bisa jadi tempat belajar berhitung, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cublak-Cublak Suweng<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih asyik dimainkan rame-rame.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau ada saudara atau teman yang sedang bingung memilih TK dan mulai kepincut spanduk bertuliskan Kurikulum Cambridge, saran saya sederhana. Tanya saja ke sekolahnya, nanti anak saya mulai belajar dari mana. Kalau jawabannya lebih banyak soal dunia orang lain daripada dunia anak sendiri, ya dipikir-pikir lagi. Sayang uang pangkalnya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Naily Sahiyah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-kemungkinan-jika-ken-arok-kuliah-di-cambridge\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Kemungkinan Jika Ken Arok Memilih Kuliah di Cambridge, Bukan Membunuh Orang dan Menikahi Janda<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau ada saudara atau teman yang sedang bingung memilih TK dan mulai kepincut spanduk bertuliskan Kurikulum Cambridge, saran saya sederhana.<\/p>\n","protected":false},"author":3368,"featured_media":421974,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[12910],"tags":[35305,24041,35306],"class_list":["post-421820","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-kurikulum-cambridge","tag-sekolah-internasional","tag-tk-internasional"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421820","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3368"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421820"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421820\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":421975,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421820\/revisions\/421975"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/421974"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421820"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421820"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421820"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}