{"id":421767,"date":"2026-10-15T15:48:58","date_gmt":"2026-10-15T08:48:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=421767"},"modified":"2026-10-15T17:27:08","modified_gmt":"2026-10-15T10:27:08","slug":"salut-konsep-wisuda-isi-surakarta-yang-selalu-nguri-nguri-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salut-konsep-wisuda-isi-surakarta-yang-selalu-nguri-nguri-budaya\/","title":{"rendered":"Salut dengan wisuda ISI Surakarta yang memilih nguri-nguri budaya di momen penting"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisuda ISI Surakarta selalu berhasil membuat orang kagum. Wisudawan dan wisudawati di sana tidak menggunakan jubah hitam bak pemeran di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/harry-potter-dan-ajaran-mistik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Harry Potter<\/a>. Mereka memilih menukar toga dengan balutan beskap, kebaya, dan jarik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat orang luar yang pertama kali menyaksikan prosesi ini, pemandangannya mungkin akan terasa kontras. Saat lini masa sosial media penuh potret wisudawan berseragam jubah hitam dari ujung barat sampai timur Indonesia, wisuda ISI Surakarta justru hadir berbeda layaknya prosesi sakral keraton yang sedang menggelar hajatan agung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisudawan laki-laki tampil gagah dalam balutan beskap Jawi Jangkep warna hitam, lengkap dengan blangkon, selop dan keris yang terselip mantap di pinggang. Di samping mereka, para wisudawati tampil mengagumkan dengan kebaya hitam beludru model Kartini dan tatanan sanggul klasik yang presisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan warna hitam beludru pada busana resmi Jawi Jangkep ini bukan sekadar mengejar estetika <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vintage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau kesan gagah semata. Dalam filosofi Jawa, warna hitam melambangkan keteguhan hati, kematangan berpikir, kedalaman ilmu, serta kebijaksanaan. Sebuah cermin ideal bagi para sarjana yang baru saja menuntaskan kawah candradimuka akademisnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Suasana mendukung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keanggunan visual ini ternyata tidak berhenti pada wisudawan ISI Surakarta saja. Begitu kita melirik ke rombongan akademisi dan jajaran pimpinan kampus, mulai dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/sosok\/prof-koesnadi-rektor-ugm-legendaris-di-era-anies-dan-ganjar-jadi-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rektor<\/a>, guru besar, hingga senat, mereka juga ikut melebur dalam tradisi busana Jawi Jangkep yang sama. Bedanya, jika wisudawan berbalut warna hitam, para pimpinan tampil berwibawa dalam nuansa warna <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cream<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang elegan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prosesi sakral ini dimulai kirab pimpinan perguruan tinggi. Kita akan melihat sosok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cucuk lampah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, penuntun jalan dalam tradisi Jawa, melangkah dengan gestur anggun dan penuh wibawa di barisan paling depan, memandu rombongan senat menuju kursi kebesaran diiringi dentang gamelan yang dimainkan secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">live<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, menariknya lagi, begitu seluruh pimpinan menduduki kursi kehormatan, tidak langsung ada pidato kaku atau sambutan formalitas yang membosankan. Ruangan justru hening terpukau oleh Tari Sesaji. Sebuah wujud permohonan keselamatan, rasa syukur, sekaligus penanda mulainya sidang terbuka senat secara penuh kesakralan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Wisuda ISI Surakarta diiringi gamelan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak dari seluruh rangkaian perayaan ini hadir saat nama-nama wisudawan mulai dipanggil satu per satu. Detik-detik ketika wisudawan melangkah ke hadapan rektor untuk dikalungi <\/span><a href=\"https:\/\/plakat.id\/bahan-untuk-samir-wisuda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">samir<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> terasa begitu menggetarkan dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi diiringi alunan gending gamelan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">live<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang terus mengalun tanpa henti dari awal hingga akhir prosesi. Momen pengalungan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">samir<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan pembacaan capaian akademik itu bukan lagi sebatas formalitas serah-terima ijazah. Dengung gamelan yang bergema pelan di dalam pendhapa seolah mengunci janji bakti para sarjana seni. Di titik inilah, bulu kuduk bergidik menunjukkan bahwa perjuangan bertahun-tahun merawat seni tradisi akhirnya berakhir dengan wisuda secara terhormat di hadapan para mahaguru seni dan kebudayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika itu juga, Pendhapa Ageng GPH Joyokusumo ISI Surakarta berubah total menjadi panggung ritual kebudayaan yang khidmat. Hal ini menjadi perayaan estetika yang menyatu penuh dengan jiwa para sarjananya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya kemudian, kenapa ISI Surakarta begitu teguh memilih jalan ini alih-alih ikut mengenakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fungsi-alternatif-jubah-dan-toga-wisuda-biar-nggak-sia-sia-udah-dibeli-tapi-cuma-dipake-sekali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">toga<\/a>?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya sederhana, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nguri-uri budaya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di sini bukan sekadar jargon manis di brosur penerimaan mahasiswa baru atau spanduk formalitas di gerbang kampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai institusi pendidikan tinggi seni, budaya bukanlah objek dingin yang cuma ada di ruang kuliah atau ditumpuk jadi teori di dalam lembaran skripsi. Budaya adalah sesuatu yang hidup, dirawat, dan dipraktikkan hingga ke momentum paling sakral dalam perjalanan akademis mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arrauna Bening Aji Kus Indriani<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-unesa-yang-ditunggu-malah-bikin-saya-gengsi-dan-malu\/\"><b><i>Wisuda Unesa yang ditunggu-tunggu malah bikin saya gengsi dan malu.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beda dengan wisuda kampus lain yang kebanyakan pakai jubah hitam, ISI Surakarta memilih mengenakan pakaian tradisional dan diiringi gamelan.<\/p>\n","protected":false},"author":3056,"featured_media":422022,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[762,25935,6936,2284,3609,2312,35312],"class_list":["post-421767","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-budaya","tag-isi","tag-isi-surakarta","tag-solo","tag-surakarta","tag-wisuda","tag-wisuda-isi-surakarta"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421767","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3056"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421767"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421767\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":422024,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421767\/revisions\/422024"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422022"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}