{"id":421528,"date":"2026-10-13T12:50:48","date_gmt":"2026-10-13T05:50:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=421528"},"modified":"2026-10-13T12:50:48","modified_gmt":"2026-10-13T05:50:48","slug":"alasan-orang-orang-nggak-rela-uin-jogja-jadi-kampus-terbaik-ke-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-orang-nggak-rela-uin-jogja-jadi-kampus-terbaik-ke-2\/","title":{"rendered":"Mencoba memahami mengapa orang-orang nggak terima UIN Jogja jadi kampus terbaik ke-2 versi THE WUR"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKok bisa UIN Jogja di atas <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/ugm-statusnya-kampus-terbaik-tapi-alumni-menderita-sulit-kerja\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">UGM<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d, begitulah komentar netizen di konten sosmed yang membahas soal peringkat kampus terbaik di Indonesia. Dari komentar-komentar itu, kebanyakan orang menganggap kampus ini tidak pantas nangkring di urutan ke-2 kampus top di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut para netizen ini, tidak masuk akal jika UIN Jogja berada di atas kampus-kampus top terkenal seperti: UGM, ITB, UNAIR, UB, dan lain sebagainya. Bahkan, ada yang sampai mengatakan kalau survei terkesan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngawur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal yang melakukan survei pemeringkatan tersebut adalah <\/span><a href=\"https:\/\/uin-suka.ac.id\/id\/show\/berita\/3509-1\/raih-posisi-kedua-nasional-uin-sunan-kalijaga-ukir-sejarah-di-the-wur-2027\"><span style=\"font-weight: 400;\">Times Higher Education World University Rankings (THE WUR)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Salah satu lembaga pemeringkatan perguruan tinggi global yang memiliki kredibilitas tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, lembaga yang melakukan survei bukan lembaga sembarangan. Hanya saja THE WUR memiliki kriteria penilaian yang mungkin membuat UIN Jogja tampak menjadi unggul. Indikator dalam penilaian THE WUR antara lain: lingkungan pengajaran (29,5%), lingkungan riset (29%), kualitas riset (30%), industri (4%), dan international outlook atau wawasan internasional (7,5%). Dengan demikian, bisa dibilang bobot penilaian THE WUR hampir 60% terletak pada riset dan kualitas sitasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai alumnus UIN Jogja, saya cukup mengerti mengapa orang-orang tidak rela kampus ini jadi yang terbaik ke-2 di Indonesia. Sebenarnya tidak hanya mahasiswa luar UIN Jogja saja yang kaget. Mahasiswa UIN Jogja saya jamin juga bingung kok kampusnya bisa memasuki posisi tertinggi ke-2 se-Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Nama UIN Jogja kalah mentereng dari kampus-kampus terkenal lainnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah sejak dulu kalau bicara kampus bagus orang pasti akan mengatakan UGM, ITB, UI, <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/cuan\/jualan-es-degan-dekat-unair-tembus-omzet-5-juta-sehari\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">UNAIR<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, dan yang sejenisnya. UIN di mana saja lokasinya,\u00a0 bukan menjadi prioritas utama orang masuk kuliah. Alasannya sederhana, namanya tak sementereng kampus yang saya sebut di atas tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya tak heran kalau orang kaget UIN Jogja peringkatnya di atas kampus-kampus, yang kata kebanyakan orang, top tersebut. Bisa dibilang UIN hanya menjadi opsi kesekian jika sudah tidak diterima di kampus-kampus terkenal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fasilitas belum sepenuhnya memadai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita melihat kampus utama UIN Jogja yang berada di <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-solo-jogja-jalan-paling-monoton-dan-bikin-ngantuk\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Solo<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, maka tampak jelas kalau gedungnya terbagi jadi dua kawasan. Yakni di sisi barat dan timur jalan raya. Kedua kawasan tersebut sudah menampung seluruh fakultas program sarjana yang ada di UIN Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, sebagian besar bangunan di sana adalah bangunan lama. Yang tidak ada liftnya seperti kampus-kampus megah lainnya. Dari hasil survei kepuasan oleh mahasiswa dan tendik, ada fasilitas yang perlu penanganan. Seperti, kecukupan dan kualitas ruang kelas, kecepatan akses internet (wifi), dan berbagai fasilitas umum lain seperti ruang diskusi, ruang publik, dan toilet.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lulusan UIN Jogja belum segemilang kampus besar lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu sempat rame perbincangan mengenai lulusan UIN yang susah bersaing di dunia kerja. Polemik itu bermula dari unggahan salah satu pengguna aplikasi Threads. Ia mengatakan kalau UIN harus stop memperbanyak lulusannya. Dan, mulai fokus memperbaiki kualitas. Sebab, anak UIN dinilai tidak memiliki skill memadai untuk bersaing di dunia kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang jika dilihat sekilas yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar itu bukan alumni UIN Jogja.\u00a0 Jika ada, maka jumlahnya tidak banyak. Sebagian orang beranggapan bahwa konsep integrasi-interkoneksi, yang menjadi ciri khas keilmuan UIN Jogja, justru membuat lulusannya kurang memenuhi standar dunia kerja. Ilmu terkesan campur-campur dan tidak fokus pada bidang utama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya akademik yang kurang kompetitif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat melihat anak UGM, UI, ITB dan sejenisnya, orang akan menganggap mereka adalah mahasiswa yang rajin. Pasalnya untuk masuk ke kampus tersebut tentu membutuhkan perjuangan yang luar biasa sulitnya. Dan, persaingan akademik di sana juga tinggi. Para mahasiswa berlomba-lomba untuk berprestasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan UIN Jogja. Di UIN hanya segelintir saja yang ambisius. Sisanya hanya sekadar kuliah untuk formalitas. Bahkan mengulang mata kuliah pun sudah jadi hal yang wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Tingkat ambisi mahasiswa tetap bergantung pada masing-masing individu. Ada mahasiswa UIN Jogja yang tekun belajar dan memiliki target karier yang tinggi. Sebaliknya, tidak semua mahasiswa UGM, UI, atau <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-itb-bikin-iri\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">ITB<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> selalu berorientasi pada prestasi akademik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-alumnus-uin-yang-kaget-tidak-ada-dna-uin-di-uin-jakarta\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai alumnus UIN Malang dan Jogja, saya kaget tidak menemukan \u201cDNA UIN\u201d di UIN Jakarta.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang nggak terima UIN Jogja jadi kampus ke-2 terbaik se-Indoensia versi THE WUR karena beberapa alasan ini. <\/p>\n","protected":false},"author":2956,"featured_media":421553,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[115,1579,20007,35287,5442,9282],"class_list":["post-421528","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-ptn","tag-pts","tag-the-wur","tag-uin","tag-uin-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421528","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2956"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421528"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":421552,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421528\/revisions\/421552"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/421553"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}