{"id":421500,"date":"2026-10-13T15:07:02","date_gmt":"2026-10-13T08:07:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=421500"},"modified":"2026-10-13T15:07:02","modified_gmt":"2026-10-13T08:07:02","slug":"5-dosa-pemilik-kos-yang-bikin-penghuninya-nggak-betah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-dosa-pemilik-kos-yang-bikin-penghuninya-nggak-betah\/","title":{"rendered":"5 dosa pemilik kos yang bikin penghuninya nggak betah, ingin segera keluar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup sebagai anak kos adalah fase hidup yang menempa karakter seseorang. Di saat itulah kita belajar mencuci baju sendiri, mengatur <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-estimasi-uang-bulanan-mahasiswa-di-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">uang bulanan<\/a>, dan berdamai dengan mi instan sebagai menu utama. Tapi, ada satu pelajaran yang tidak tercantum di kurikulum mana pun yakni bertahan hidup di bawah kekuasaan pemilik kos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu tidak semua pemilik kos itu jahat. Banyak yang baik hati, bahkan sampai menitipkan sayur lodeh di depan pintu kamar. Tapi, namanya juga hidup, selalu ada oknum. Dan, oknum inilah yang membuat penghuni kos mulai membuka aplikasi pencari kamar pukul dua pagi, diam-diam, sambil menahan napas. Berikut lima dosanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pemilik kos menaikkan harga sewa tanpa aba-aba<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini berdasar cerita saya ngekos. Awalnya saya menyewa kamar seharga Rp800.000. Harga yang masuk akal, cocok dengan fasilitas yang ditawarkan dan kondisi dompet. Lalu suatu hari, tiba-tiba ada pengumuman di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/grup-whatsapp-keluarga-tempat-menghakimi-hidup-orang-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">grup WhatsApp<\/a>. &#8220;Mulai bulan depan harga naik jadi satu juta, karena listrik naik.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Listrik naik, tapi kamar saya tetap saja kasur tipis, lemari bau apak, dan keran yang mengalirnya mirip orang menangis. Tidak ada tambahan fasilitas, tidak ada diskusi, tidak ada ucapan &#8220;mohon maaf&#8221;. Cuma satu kalimat, lalu selesai. Saya kenal seorang mahasiswa yang akhirnya memilih tidur di sekretariat organisasi demi menghemat Rp200.000.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenaikan harga itu hak pemilik memang. Namun, cara menyampaikannya seperti ultimatum perang, membuat penghuni merasa seperti rakyat jelata yang ditarik pajak. Padahal sedikit basa-basi dan tenggang waktu sudah cukup bikin hati lapang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Masuk kamar sesuka hati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini dosa yang paling bikin elus dada. Saya pulang kuliah, membuka pintu, dan mendapati lemari sudah bergeser sedikit. Ada bekas sapu di lantai. Ibu Kos dengan santai berkata, &#8220;Tadi cuma ngecek, takut ada kebocoran.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuma ngecek. Padahal kamar itu sudah saya bayar. Secara hukum maupun adab, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/sekolahan\/derita-mahasiswa-tinggal-di-kos-green-flag\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kamar kos<\/a> adalah ruang pribadi penyewa selama masa sewa. Pemilik boleh memeriksa, tapi seharusnya izin dulu, bukan mengandalkan kunci cadangan yang selalu tersimpan di laci ruang tamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah punya teman yang menemukan jemuran pakaiannya dipindah ke belakang, padahal sengaja ia taruh di sudut. Alasannya, &#8220;biar rapi.&#8221; Rapi menurut siapa, Bu? Saya sendiri tinggal di rumah bertingkat, kami tinggal di ruang tiga kali tiga yang sudah harus muat segalanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Aturan berubah-ubah seperti cuaca<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aturan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jam-malam-kampus-aturan-paling-konyol\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jam malam<\/a> paling mentok pukul 10.00 WIB masih terdengar masuk akal. Begitu pula dengan aturan tidak boleh menginap hingga larangan memasak di dalam kamar. Semua itu masih masuk akal hingga muncul aturan aneh-aneh yang terlalu mengekang. Misal, soal aturan jalan di lorong, menjemur pakaian dan banyak hal membangongkan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih menyebalkan, aturan itu sering tidak tertulis. Ia lahir dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mood<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pemilik kos pada hari tertentu. Kemarin boleh, hari ini tidak. Tetangga kamar melanggar tidak apa-apa, giliran kita langsung disidang di ruang tamu. Seorang teman pernah ditegur gara-gara menaruh galon di lorong, padahal minggu sebelumnya galon itu justru disuruh pindah ke lorong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aturan tertulis itu penting, bukan untuk mengekang, tapi supaya semua tahu batasnya. Kalau aturan berubah tiap minggu, penghuni bukan lagi penyewa, melainkan peserta uji coba.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Pemilik kos nggak gercep ketika dapat laporan kerusakan dari penghuni<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Chat &#8220;Bu, keran kamar mandi bocor&#8221; dibalas dengan jempol. Seminggu kemudian, &#8220;Bu, tadi malam airnya mati lagi&#8221; dibalas untuk menunggu. Dua minggu berlalu, dan semua janji-janji pemilik kos hanya jadi angin lalu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penghuni kos biasanya cuma bisa pasrah. Lampu kamar mati, kita beli sendiri. Atap bocor, kita taruh ember. Colokan kendor, kita ganjal pakai kertas. Lama-lama kita merasa seperti pemilik kos, tapi tetap harus bayar sewa tiap bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih menyakitkan, urusan tagihan selalu cepat. Perbaikan boleh menunggu berminggu-minggu, tapi pesan &#8220;Sewa bulan ini sudah ditransfer belum?&#8221; datang tepat waktu, lengkap dengan emotikon senyum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal pemeliharaan fasilitas adalah kewajiban dasar. Kalau memang tidak ada niat memperbaiki, jangan mengiklankan &#8220;kamar nyaman, fasilitas lengkap&#8221; di brosur. Itu penipuan yang dibungkus keramahan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Pemilik kos terlalu kepo urusan pribadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemilik <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/berita-hari-ini\/arti-kepo-dan-bahasa-gaul-yang-sering-diucapkan-generasi-milenial-1xYNjbEb78E\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kepo<\/a> adalah dosa yang halus, tapi paling menyiksa. Setiap pulang malam, ditanya, &#8220;Dari mana, Nak?&#8221; Setiap ada tamu, ditanya, &#8220;Itu siapa? Pacarnya ya?&#8221; Setiap kiriman paket datang, ditanya, &#8220;Beli apa itu? Mahal?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya kita jawab dengan sopan. Lama-lama kita sadar, pertanyaan itu tidak berhenti. Ia berubah jadi pengawasan, dan pengawasan berubah jadi penilaian. Kita pun mulai pulang lewat pintu belakang, mengendap-endap seperti maling di kamar sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatian dari pemilik kos tentu bisa jadi hal baik, apalagi bagi perantau yang jauh dari orang tua. Tapi, ada garis tipis antara peduli dan campur tangan. Bertanya &#8220;sudah makan?&#8221; itu kehangatan. Bertanya &#8220;kemarin pulang jam berapa, kok saya dengar pintu?&#8221; itu interogasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hubungan pemilik dan penghuni sejatinya adalah hubungan saling butuh. Pemilik butuh pemasukan, penghuni butuh tempat berteduh. Kalau keduanya bisa saling menghormati, tidak ada alasan seorang anak kos membuka aplikasi pencari kamar pukul dua pagi. Tapi, kalau kondisinya sudah seperti lima dosa di atas, jangan heran kalau suatu hari ada kos-kosan dengan kamar-kamar yang selalu kosong. Kemudian, gulung tikar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><i>BACA JUGA <\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-jadi-pengelola-kos-kosan-di-jogja\/\"><b><i>Suka duka jadi pengelola kos-kosan di Jogja: harga murah belum tentu mudah terisi, justru bisa sebaliknya<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak melulu soal fasilitas atau lingkungan, banyak penghuni nnggak betah tinggal di kosan karena tabiat pemilik kos yang red flag<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":421572,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[29825,5591,34,21075,28185],"class_list":["post-421500","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-indekos","tag-kos","tag-mahasiswa","tag-pemilik-kos","tag-penghuni-kos"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421500"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421500\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":421580,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421500\/revisions\/421580"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/421572"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}