{"id":421325,"date":"2026-10-12T14:44:13","date_gmt":"2026-10-12T07:44:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=421325"},"modified":"2026-10-12T14:44:13","modified_gmt":"2026-10-12T07:44:13","slug":"gara-gara-saya-belajar-saham-saya-jadi-paham-kenapa-orang-tua-memilih-beli-tanah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gara-gara-saya-belajar-saham-saya-jadi-paham-kenapa-orang-tua-memilih-beli-tanah\/","title":{"rendered":"Gara-gara saya belajar saham, saya jadi paham kenapa orang tua lebih memilih investasi tanah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini saya mulai sedikit mengenal investasi saham. Bukan berarti sudah menjadi investor yang rajin memantau grafik setiap hari. Jangankan membaca laporan keuangan perusahaan, memahami istilah-istilah di dunia saham saja saya masih belajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi dari situ saya mulai tahu bahwa investasi memang tidak sesederhana memasukkan uang lalu menunggu bertambah. Ada risiko yang harus siap ditanggung. Harga saham bisa naik cukup cepat, tetapi bisa turun dengan cepat pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, semakin saya belajar tentang saham, saya justru teringat pada cara orang tua di daerah menyimpan kekayaan. Sebagian dari mereka mungkin tidak terlalu mengenal saham, reksa dana, atau berbagai instrumen investasi yang sekarang cukup sering dibicarakan anak muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi bukan berarti mereka tidak memikirkan investasi. Mereka hanya punya cara yang berbeda. Kalau punya uang lebih, salah satu yang terpikir justru membeli tanah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ saya mulai berpikir, mungkin tanah memang tidak secanggih saham kalau dilihat dari cara kita berinvestasi hari ini. Tidak ada aplikasi untuk melihat grafik harga tanah setiap lima menit. Tidak ada angka merah dan hijau yang berubah-ubah setiap detik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi bagi sebagian orang tua di daerah, tanah justru terasa lebih masuk akal karena bentuknya nyata dan bisa dimiliki dalam waktu yang panjang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang tua teman saya lebih suka membeli tanah ketimbang saham<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya pengalaman dari orang tua seorang teman yang cukup membuat saya berpikir tentang hal ini. Kalau dilihat dari kekayaan yang mereka miliki sekarang, keluarga teman saya bisa dibilang orang berada. Tetapi ada satu hal yang cukup menarik. Ketika anak-anaknya meminta membeli mobil untuk kebutuhan keluarga, orang tuanya tidak langsung mau membeli. Mereka justru memilih gadai mobil milik orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri tidak tahu alasan pastinya, karena orang tuanya tidak pernah memberikan penjelasan yang jelas. Tetapi yang menarik, di sisi lain mereka justru sering meminta teman saya mengecek tanah yang akan dibeli. Kadang tanah tersebut berada di tempat yang berbeda-beda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, tanah yang mereka miliki sekarang sudah cukup banyak dan nilainya juga tidak kecil. Ada yang hanya disimpan begitu saja, ada juga yang sudah direncanakan untuk dibangun sesuatu. Saham sih nggak tau mereka punya apa nggak. Kalau tanah, bejibun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu cerita yang pernah disampaikan teman saya bahkan membuat saya semakin paham. Sekitar dua tahun lalu, orang tuanya pernah membeli tanah di kawasan pabrik dengan harga sekitar Rp800 jutaan. Sekarang sudah ada yang menawar tanah tersebut dengan harga di atas Rp1 miliar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja saya tidak bisa menjadikan satu pengalaman itu sebagai bukti bahwa semua tanah pasti akan mengalami kenaikan seperti itu. Tetapi setidaknya, dari cerita tersebut saya mulai memahami kenapa orang tua di daerah begitu percaya kepada tanah. Bukannya pada saham.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang desa tidak selalu terlihat kaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini, kita sering melihat kekayaan dari sesuatu yang mudah terlihat. Mobil mahal, rumah besar, barang bermerek, atau mungkin sekarang <a href=\"https:\/\/pegadaian.co.id\/artikel\/investasi\/portofolio-investasi-adalah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">portofolio investasi<\/a> saham yang bisa dibuka lewat aplikasi. Padahal di daerah, kekayaan kadang bentuknya berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada orang yang kendaraannya biasa saja, rumahnya juga tidak terlalu mewah, tetapi punya sawah, kebun, beberapa bidang tanah, atau bahkan hewan ternak. Kalau semua aset tersebut dihitung, nilainya mungkin tidak kalah dengan orang yang dari luar terlihat lebih kaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga pernah melihat pengalaman serupa dari keluarga sendiri. Orang tua saya pernah membeli tanah, kemudian ketika tanah tersebut dijual, harganya sudah mengalami kenaikan puluhan juta. Dari situ saya semakin memahami bahwa tanah memang punya cara sendiri dalam menyimpan nilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin inilah yang membuat sebagian orang tua di daerah lebih nyaman dengan tanah. Mereka tidak perlu melihat grafik saham untuk tahu bahwa asetnya masih ada. Tanahnya tetap di sana, bisa didatangi, bisa digunakan, bisa diwariskan, atau suatu saat dijual ketika memang dibutuhkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tanah tidak secepat saham, tapi tidak membuat saya deg-degan setiap hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mengatakan tanah lebih baik daripada saham. Saya juga belum terjun langsung ke saham. Ini juga saya baru mempelajarinya sedikit demi sedikit. Menurut saya, saham justru menarik karena bisa dimulai dengan modal yang relatif rendah. Kita tidak harus memiliki uang ratusan juta untuk mulai membeli saham.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi saham juga menuntut kesiapan menghadapi risiko. Harganya bisa naik dengan pesat, tetapi bisa turun dengan cepat pula. Sementara tanah biasanya tidak mengalami perubahan harga setiap hari seperti saham. Kenaikannya mungkin tidak secepat saham, tetapi pergerakannya terasa lebih tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin karena itulah saya mulai memahami pilihan orang tua di daerah. Mereka tidak sedang mencari investasi yang terlihat paling modern. Mereka mungkin hanya mencari sesuatu yang bisa disimpan lama dan tetap memiliki nilai. Tanah memenuhi kebutuhan itu. Pada akhirnya, saya masih belajar memahami investasi. Bisa jadi suatu hari saya akan benar-benar membeli saham, dan mungkin juga suatu hari membeli tanah. Saya tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi setidaknya sekarang saya mulai memahami satu hal, yaitu orang tua di daerah bukan tidak mengenal investasi. Mereka hanya menyimpan kekayaan dengan cara yang berbeda. Anak muda mungkin sibuk melihat grafik saham di layar ponsel. Sementara orang tua di daerah cukup melihat sebidang tanah dan berkata, \u201cKalau ada uang lebih, beli lagi.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Fikri Almarufi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-investasi-saham-bagi-investor-awam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ini Tips Investasi Saham yang Saya Perhatikan sebagai Investor Awam<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang tua bukannya tidak paham investasi atau saham, yang dibeli saja yang beda. Tanah adalah primadona investasi orang tua.<\/p>\n","protected":false},"author":3308,"featured_media":421327,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13085],"tags":[208,35274,8681],"class_list":["post-421325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-investasi","tag-investasi-tanah","tag-saham"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3308"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421325"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":421331,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421325\/revisions\/421331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/421327"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}