{"id":42059,"date":"2020-05-02T13:38:20","date_gmt":"2020-05-02T06:38:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=42059"},"modified":"2020-05-02T13:38:59","modified_gmt":"2020-05-02T06:38:59","slug":"gerakan-indonesia-tanpa-pacaran-malah-jualan-bikin-marketplace-sekalian-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gerakan-indonesia-tanpa-pacaran-malah-jualan-bikin-marketplace-sekalian-aja\/","title":{"rendered":"Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran Malah Jualan, Bikin Marketplace Sekalian Aja!"},"content":{"rendered":"<p>Cukup lama tak terdengar deru nyaring kampanye besar-besaran gerakan anti pacaran, belakangan gerakan itu mencuat kembali. Di <em>timeline<\/em> tweet, Indonesia Tanpa Pacaran sukses nyelip di antara trending. Jumlahnya sampai belasan ribu tweet.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mula-mulanya media internasional kaliber British Broadcasting Corporation (BBC) yang entah dapat wangsit dari mana sudi menelusuri pergerakan komunitas Indonesia Tanpa Pacaran. Video hasil reportasenya pun tersebar di Twitter. Eks anggota dan mereka yang tak suka pergerakan ini campur baur menebar cuitan Indonesia Tanpa Pacaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya belum pernah bergabung ke komunitas ini di cabang mana saja. Hanya dapat cerita dari beberapa teman yang kurang beruntung terjebak dalam kubangan Indonesia Tanpa Pacaran. Member komunitas ini umumnya berasal dari mereka yang terlanjur kecewa dengan konsep pacaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang baru putus atau diputusin pacar, akhirnya terbius buat join. Pokoknya kalau putus yang dibenci pacarannya. Pacaran itu haram, merugikan, merusak akhlak, dan sebagainya. Lebih baik ta&#8217;arufan seperti yang diajarkan dalam Islam daripada pacaran bikin galau. Begitu kira-kira bunyi kampanyenya dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hebatnya satu jutaan orang\u2014dilihat dari followers Instagram-nya\u2014tertarik pada gerakan ini. Meski belum pernah memadu kasih bareng perempuan selain ibu, saya enggan terdaftar dalam komunitas. Apalagi dapat cerita dari teman, kalau para anggota komunitas ini hanya dimanfaatkan oleh si penggagas untuk meraup keuntungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya nggak percaya. Maksudnya, kok orang alim nan soleh macam La Ode Munafar tega berbuat semacam itu. Rasa tak percaya tersebut membawa saya akhirnya belakangan ini mengintip akun Instagram Indonesia Tanpa Pacaran. Saya akan beberkan hasilnya pada kamu, iya kamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mengetik &#8220;Indonesia Tanpa\u2026&#8221; sistem Instagram tak langsung merekomendasikan Indonesia Tanpa Pacaran. Saya nggak tahu di antara komunitas ini dan Instagram lagi marahan atau gimana. Fitur pencarian Instagram justru memberi rekomen akun &#8220;Indonesia Tanpa Poligami&#8221; pada pilihan teratas. Nah, dari sini saya paham, si Instagram tak menyukai poligami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lanjut. Saya pun menulis lengkap &#8220;Indonesia Tanpa Pacaran&#8221;, dan muncul banyak sekali akun di sana. Barangkali itu cabangnya di kota-kota\u2014mirip Markobar gitu. Saya mengklik yang paling atas karena saya pikir itu akun utamanya. Benar saja, followersnya sudah satu juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menelanjangi akun tersebut, ternyata feed Instagram-nya nggak jelek-jelek amat. Masih lumayan, nggak kalah keren sama akun IG mahasiswa hits di kampus saya. Pesan-pesan bernuansa anjuran supaya meninggalkan budaya pacaran paling banyak di-publish. Nah, menariknya di antara selipan kata-kata provokatif dibalut religi tersebut, ada postingan produk untuk dijual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak percaya? Cek aja sendiri. Susunan feed diatur sedemikian rupa, sehingga memancing buat tertarik gabung. Ada yang di tengah feed terselip penawaran produk. Bagi kamu-kamu yang belajar ekonomi pasti pahamlah. Saya sendiri menduga ini hanya strategi bisnis semata yang kemungkinan besar tokcer. Iya gimana nggak tokcer? Pakainya hadis dan kutipan ayat, je!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harganya juga tak merakyat. Minimal kita perlu satu kali nyairin fee penulis Terminal Mojok dulu kalau mau beli marchandise di situ. Namun, semahal berapa saja harganya, saya kok berpikir positif masih ada yang beli. Indonesia Tanpa Pacaran bagai punya ceruk pasarnya sendiri buat menjual segala jenis produknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali mereka cuma butuh satu-dua kata-kata memikat, kemudian pembeli pun berdatangan. Dagangan laris manis. Sesimpel itu berjualan berkedok agama. Saya pelajari dari akun Instagram-nya, Indonesia Tanpa Pacaran ini bisa jadi peluang meraup uang sebanyak-banyaknya loh. Seriusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan nih ya, saya nggak perlu ragu mengatakan gerakan Indonesia Tanpa Pacaran semestinya mulai bergerak untuk bikin semacam marketplace gitu. Andai ide cemerlang ini beneran terwujud, entah lewat aplikasi sendiri atau cuma media sosial, harusnya bisa dikelola member secara kaffah. Karena sayang sekali, komunitas yang terbangun dan tersebar di seluruh Indonesia, sampai diliput BBC segala, nggak menghasilkan pundi-pundi rupiah\u2014buat bosnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jualannya udah kayak Malioboro, lengkap banget soalnya. Marchandise-nya juga macam-macam, seperti jaket, kaos, dan buku. Tentu bukan jaket atau kaos polos yang dijual 30 ribuan, melainkan ditempeli sablonan tulisan-tulisan bernada anti pacaran. Supaya marketnya makin tertarik membeli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teruntuk ukh-ukh dan akh-akh anggota Indonesia Tanpa Pacaran sebaiknya juga ikut menjualkan produknya, deh. Mengirimkan produknya sendiri untuk dijual. Boleh aksesoris, furniture, kendaraan, atau apa saja yang bisa dikonversi jadi duit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buntutnya member nggak cuma menerima dogmanya saja, dapat uang juga. Nanti lewat satu platfrom saja: Indonesia Tanpa Pacaran. Mirip-mirip Koperasi Unit Desa (KUD) yang jualan produk UMKM gitu sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak usah khawatir mikirin siapa yang mau beli. Indonesia Tanpa Pacaran punya basis pembelinya sendiri, kok. Tenang saja, bakal dibantu promosi kan bisa. Komunitas punya stok hadis dan ayat sebagai bahan advertensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada lagi-lagi yang jualan akhwat La Ode Munafar, mending semuanya aja ikut jualan. Meramaikan marketplace yang telah dibangun. Bisa juga nanti yang dijual tak hanya buku-buku karya La Ode Munafar. Lagipula saya heran, pengikut jutaan, tapi yang nulis buku satu orang itu melulu. Akh, mengapa anggotanya nggak diajarin nulis, toh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya mereka bisa membantu mewujudkan ribuan buku bertema Indonesia Tanpa Pacaran loh, akh. Beban akh La Ode Munafar jadi lebih ringan. Target menulis ribuan buku itu bukan urusan enteng akh, ibarat mendamba Amin Rais duduk di kursi RI satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling tidak dengan marketplace mampu menyejahterakan para anggota. Lewat situ pula perekonomian anggota Indonesia Tanpa Pacaran mudah-mudahan agak terbantu, asal nggak ada yang main belakang aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa tahu entar bisa bersaing dengan Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan sebangsanya\u2014walau sekadar angan-angan. Gimana ide saya ini menurut ukhti dan akhwat sekalian? Cocok? Gaskeun!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nikah-di-usia-12-tahun-demi-cegah-zina-itu-ramashok-mending-puasa-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! <\/a>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\">Muhammad Arsyad<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teruntuk ukh-ukh dan akh-akh anggota Indonesia Tanpa Pacaran sebaiknya juga ikut menjualkan produknya, deh.<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":40827,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6446,3249],"class_list":["post-42059","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-indonesia-tanpa-pacaran","tag-marketplace"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42059","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42059"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42059\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40827"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42059"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42059"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42059"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}