{"id":420557,"date":"2026-10-08T15:37:47","date_gmt":"2026-10-08T08:37:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=420557"},"modified":"2026-10-08T15:37:47","modified_gmt":"2026-10-08T08:37:47","slug":"pasar-ngasem-magelang-dan-jogja-nama-sama-tapi-beda-nasib","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-ngasem-magelang-dan-jogja-nama-sama-tapi-beda-nasib\/","title":{"rendered":"Magelang juga punya Pasar Ngasem, tapi nasibnya berbeda dengan pasar yang ada di Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar kata \u201cPasar Ngasem\u201d, apa yang pertama kali terlintas di benak kalian? Pasti pasar viral di Jogja tempat favorit wisatawan berburu sarapan. Saking populernya, salah satu penulis Terminal Mojok sampai membahasnya dalam tulisan <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-aturan-tidak-tertulis-pasar-ngasem-jogja-pengunjung-harus-tahu\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 aturan tidak tertulis Pasar Ngasem Jogja yang sebaiknya diketahui pengunjung sebelum mampir<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, tahukah kalian, sejauh 48 kilometer dari Pasar Ngasem Jogja, ada pasar tradisional dengan nama yang sama. Lebih tepatnya di\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Poncowati, Bogeman, Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/magelang-daerahnya-nyaman-tapi-nggak-cocok-untuk-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Magelang<\/a>. Di sana juga ada juga Pasar Ngasem yang jadi andalan warga lokal (warlok) untuk berburu makanan tradisional.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pasar Ngasem Magelang tidak populer, tapi malah terasa lebih guyub<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal popularitas, Pasar Ngasem Magelang jelas kalah jauh daripada yang di Jogja. Pasar ini tidak didatangi wisatawan asing maupun artis ibu kota. Pengunjungnya kebanyakan warga lokal yang ingin beli jajanan tradisional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, suasana pasar yang di Magelang terkesan lebih santai, tidak perlu berdesak-desakan dan antre. Cari spot untuk menyantap jajanan pun mudah. Tidak seperti Pasar Ngasem Jogja yang harus bersiasat atau berstrategi dahulu untuk dapat bangku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ukuran pasar yang lebih kecil membuatnya terasa lebih guyub. Satu penjual dan penjual lain saling kenal. Tak jarang mereka saling bercanda sambil melayani pembeli. Begitu pula dengan para pembeli, mereka tampak akrab. Semua itu memungkinkan karena memang hanya warloi atau orang itu-itu saja yang belanja di tempat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa-rasanya, malah inilah wajah asli <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-tradisional-dengan-segala-keunikan-transaksi-dan-interaksinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasar tradisional<\/a> itu: guyub, akrab, dan hangat. Jujur, Pasar Ngasem Jogja sudah terlalu jauh dari nuansa itu. Mungkin pedagangnya kurang akrab karena terlalu sibuk berjualan. Pembelinya pun belum tentu kenal satu sama lain. Tempat satu ini sudah terlalu turistik sehingga kesan pasar tradisionalnya seolah luntur.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sama-sama tempat sarapan andalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada persamaan antara dua pasar ini selain namanya, dua pasar ini sama-sama tempat andalan untuk berburu sarapan. Di Pasar Ngasem Jogja, pedagang lebih sering berjualan dari pagi hari. Itu mengapa pembelinya lebih ramai di pagi hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan yang dijajakan pun banyak yang cocok untuk memulai hari. Ringan, tapi tetap menyegarkan. Salah satu yang paling digemari adalah <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jateng\/kuliner\/d-7585414\/segarnya-nyeruput-dawet-mak-cowek-pasar-ngasem-magelang-eksis-sejak-1960\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dawet Mak Cowek<\/a> yang konon sudah ada sejak 1960. Selain enak dan legendaris, dawet dijual dengan harga yang terjangkau, sekitar Rp5.000-an saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah dua pasar dengan nama mirip, tapi punya nasib yang jauh berbeda. Saya tidak sedang membandingkan mana yang lebih baik. Tiap tempat punya pangsa pasarnya masing-masing. Dan, saya yakin, Pasar Ngasem baik di Jogja maupun Magelang selalu bikin kangen dan punya tempat masing-masing di hati pelanggannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-pasar-kalcer-yang-bisa-dikunjungi-kalau-bosan-ke-pasar-ngasem-jogja\/\"><b><i>4 Pasar \u201cKalcer\u201d yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Magelang juga punya Pasar Ngasem seperti Jogja, sama-sama tempat berburu sarapan tradisional, tapi nasib keduanya jauh berbeda. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":420610,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[115,8599,33600,5109,23445,1200],"class_list":["post-420557","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-magelang","tag-ngasem","tag-pasar","tag-pasar-ngasem","tag-pasar-tradisional"],"modified_by":"Kenia Intan","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420557","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=420557"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420557\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":420611,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420557\/revisions\/420611"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/420610"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=420557"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=420557"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=420557"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}