{"id":420318,"date":"2026-10-06T11:06:53","date_gmt":"2026-10-06T04:06:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=420318"},"modified":"2026-10-06T11:06:53","modified_gmt":"2026-10-06T04:06:53","slug":"ugm-nggak-jamin-sukses-ijazahnya-malah-jadi-beban-buat-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ugm-nggak-jamin-sukses-ijazahnya-malah-jadi-beban-buat-saya\/","title":{"rendered":"Curhatan alumnus UGM yang pegal menanggung nama besar almamater dan ijazahnya malah jadi beban tersendiri"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sempat mencicip kuliah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-ugm-nyambi-mua-nggak-malu-malah-jadi-bekal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Gadjah Mada<\/a> (UGM), Yogyakarta, ternyata merupakan berkah sekaligus momok bagi saya. Di satu sisi, pengalaman itu jelas membanggakan. Tapi di pihak lain, ada beban mental tak kasat mata yang mengekor ke mana saja saya melangkah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau mau buka kartu, jalan saya menyandang toga dari UGM tidaklah semulus bayangan orang. Sebenarnya saya termasuk beruntung. Pasalnya, saya baru lolos masuk UGM setelah percobaan kedua. Itu saja bukan di jurusan pilihan pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya waktu itu, intinya masuk UGM saja dulu. Arah kompas masa depan saya benar-benar masih buram. Siapa sangka, keputusan impulsif itu justru menyeret saya pada lingkaran ekspektasi sosial yang panjang dan melelahkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dihantui kutukan IPK aman tapi tak menonjol<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai informasi awal, saya akhirnya tercemplung ke <a href=\"https:\/\/feb.ugm.ac.id\/id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB)<\/a>\u00a0dengan mengambil jurusan manajemen. Percayalah, di sini, IPK itu sudah seperti tiket fast track masuk Dunia Fantasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada segelintir manusia jenius yang lulus cum laude dan fasih berbahasa Inggris. Upahnya, perusahaan multinasional merekrut mereka bahkan sebelum tinta ijazahnya kering.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, IPK saya anteng saja di rentang tiga koma kecil. Alhasil, saya terdampar di zona abu-abu yang tanggung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dikata bodoh, ijazah UGM tetap sah di tangan. Namun kalau dibilang cemerlang, rasanya masih kurang layak buat flexing. Wajar saja, publik kadung menganggap alumni Bulaksumur sebagai pabrik pencetak kaum intelektual yang ideal dan siap mengubah dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah ekspektasi sosial yang dipatok setinggi langit itu, angka IPK pas-pasan yang saya kantongi seolah menampar saya dengan kesimpulan telak. Bahwa pencapaian saya bisa lolos dan bertahan sampai garis akhir di UGM kemarin murni karena faktor mujur belaka, meski harus merangkak dan terseok-seok sepanjang jalan. Dan bayarannya benar-benar mahal, saya bertaruh mental.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jeda setahun yang dianggap sebagai sarjana UGM yang gagal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah akhirnya berhasil menuntaskan S1 dengan susah payah, saya mengira penderitaan sudah usai. Ternyata, itu baru babak pembuka dari ujian hidup berikutnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya langsung gas pol menyebar surat lamaran kerja, saya justru mengambil jeda selama satu tahun. Jujur saja, niat saya setelah lulus adalah menekuni usaha yang sudah dirintis sejak jadi mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, orang tua alias pemodal utama saya sampai menyandang gelar sarjana, kurang rela kalau ilmu mahal dari UGM harus berakhir jadi pengusaha amatiran. Sedangkan, pemikiran saya saat itu, mengantongi gelar sarjana dengan IPK medioker rasanya kurang bertaring kalau harus diadu di pasar tenaga kerja yang isinya orang-orang ambisius.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, saya harus menambah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-saya-kuliah-di-mm-ugm-kampus-paling-bergengsi-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bargaining power untuk modal cari kerja nanti<\/a>. Misalnya dengan serius belajar Bahasa Inggris selama masa jeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, niat mulia gap year buat upgrade skill ini tidak pernah terlihat mulus di mata keluarga besar dan tetangga. Jeda satu tahun itu tidak pernah diterjemahkan sebagai investasi diri. Di mata mereka, itu adalah menganggur bermartabat versi kaum terdidik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering rasanya ingin mengoceh bahwa hidup ini bukan grafik linier. Kalimat saja butuh ada tanda koma. Mengapa hidup tak boleh ambil jeda?<\/span><\/p>\n<h2><b>Belajar ilmu manajemen di UGM tapi tak kunjung kaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kocaknya, punya ijazah dari FEB UGM membuat orang-orang di sekitar mendadak mengira saya punya indra keenam. Mereka pikir saya jago baca grafik saham, paham seluk-beluk kripto, atau punya trik cepat jadi kaya raya dari trading. Faktanya, pengetahuan saya tentang dunia itu adalah nol besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya justru jauh lebih lihai menerapkan ilmu frugal living tingkat dewa yang murni saya asah bukan dari teori ekonomi makro. Namun, dari penderitaan masa-masa jadi anak perantauan yang harus <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-memilih-ugm-sebagai-tempat-kuliah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bertahan hidup di Jogja<\/a> dengan uang saku mepet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah ada rongga menganga yang kerap bikin sesak di dalam diri. Terutama, ketika orang-orang mulai mempertanyakan apa faedahnya ilmu manajemen yang saya pelajari bertahun-tahun. Bahkan, durasinya nyaris satu dekade.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan-pertanyaan itu terasa makin menohok karena kenyataannya saldo di rekening saya masih saja betah di angka itu-itu saja. Ditambah, rutin mengalami sakaratul maut menjelang akhir bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali, kisah hidup saya ini bisa jadi monumen pengingat bagi masyarakat. Yakni, bahwa ijazah UGM tidak pernah dilengkapi garansi instan jadi orang kaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah bukti kalau tidak semua lulusan UGM bernasib jadi pejabat, pengusaha sukses, atau CEO perusahaan multinasional. Sebagian dari kami ada yang melanjutkan hidup dengan membawa keglamoran nama besar kampus dengan isi dompet yang hanya cukup untuk menyambung hidup sampai bulan berganti.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/ugm-statusnya-kampus-terbaik-tapi-alumni-menderita-sulit-kerja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UGM, Kampus Terbaik yang Bikin Alumni Menderita karena Sulit Dapat Kerja, padahal Nyatanya Tidak: Alumni Stop Banyak Mengeluh, Bikin Muak Saja<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak semua lulusan UGM bernasib jadi pejabat, pengusaha sukses, atau CEO. Banyak alumni yang anggap almamater malah jadi beban.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":420319,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[27634,35202,28837,35204,35203,195,20107],"class_list":["post-420318","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-alumni-ugm","tag-alumnus-ugm","tag-feb-ugm","tag-lulusan-ugm","tag-sarjana-ugm","tag-ugm","tag-universitas-gadjah-mada"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420318","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=420318"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420318\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":420320,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420318\/revisions\/420320"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/420319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=420318"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=420318"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=420318"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}