{"id":420221,"date":"2026-10-05T14:11:50","date_gmt":"2026-10-05T07:11:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=420221"},"modified":"2026-10-05T14:11:50","modified_gmt":"2026-10-05T07:11:50","slug":"bimbel-memang-penting-tapi-bukan-jaminan-bisa-lolos-tes-ptn-dengan-mudah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bimbel-memang-penting-tapi-bukan-jaminan-bisa-lolos-tes-ptn-dengan-mudah\/","title":{"rendered":"Bimbel memang penting, tapi bukan jaminan bisa lolos tes PTN dengan mudah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parkiran motor di tempat bimbel sudah mulai terlihat penuh setelah jam sekolah, dan mendekati jam pulang, biasanya menjelang petang terlihat beberapa orang tua menjemput anaknya yang masih berseragam putih abu-abu. Beberapa bulan lagi siswa kelas 12 yang berencana meneruskan kuliah di PTN akan menghadapi SNBT.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur SNBT ini adalah pilihan yang menarik, jika dibandingkan dua jalur lain untuk masuk ke PTN yaitu Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan jalur seleksi mandiri. Alasannya, jalur tes mandiri diikuti biaya <a href=\"https:\/\/glints.com\/id\/lowongan\/ipi-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Iuran Pengembangan Institusi<\/a> (IPI), sementara SNBP menyeleksi calon mahasiswa berdasarkan prestasi akademik tanpa tes masuk, tapi peluang masuk jurusan dan PTN yang diinginkan sulit diprediksi karena ada standar dan kuota yang berbeda-beda di tiap PTN, bahkan tiap jurusan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tak heran kalau jalur SNBT ini dianggap sebagai peluang masuk PTN yang \u201cpaling diusahakan\u201d. Namun, ada skor UTBK atau Ujian Tulis Berbasis Komputer yang harus diperjuangkan demi meraih jurusan dan PTN idaman, dan persaingan skor ini adalah persaingan nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah bimbel tampil. Mereka menawarkan latihan soal, tryout, pembahasan soal, sampai sistem belajar khusus untuk menghadapi UTBK. Yang jadi pertanyaan, sebenarnya siswa butuh bimbel atau tidak supaya tembus PTN?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Menambal celah yang kosong di sekolah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah pasti memberikan siswa kelas 12 latihan persiapan untuk menghadapi ujian masuk PTN. Tidak mungkin sekolah tidak membantu siswanya mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk PTN. Sebab sekolah, terutama sekolah negeri, pasti ikut harum namanya jika siswanya diterima di PTN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, waktu belajar di sekolah itu terbagi untuk beberapa mata pelajaran. Guru di sekolah negeri juga punya tugas administratif dan tugas lain yang sulit dihindari. Waktu yang diberikan guru untuk melatih soal-soal tes secara intensif dan mengevaluasi kesiapan siswa menghadapi tes sangat terbatas. Di sinilah bimbel melengkapi kebutuhan siswa yang tidak didapatkan di sekolah, yaitu fokus untuk persiapan menghadapi ujian masuk PTN atau UTBK.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bimbel memberi kebutuhan siswa yang tidak didapatkan di sekolah. Tapi bukan berarti sekolah gagal memberikan pendidikan, sebab, sekolah itu punya tujuan pendidikan yang lebih luas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang bisa dibeli di bimbel<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">UTBK, atau tes yang dipakai sebagai alat untuk menyeleksi calon mahasiswa PTN adalah tes yang mengukur kemampuan skolastik dan literasi, bukan sekedar menilai penguasaan materi pelajaran SMA atau SMK. Seperti pada umumnya, sebelum menghadapi ujian, persiapan tentu dibutuhkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persiapan menghadapi ujian inilah yang ditawarkan oleh bimbel, sebagian siswa ada juga yang merasa tidak perlu, cukup dengan berlatih soal dan belajar sendiri. Tapi bimbel bukan sekedar kumpulan soal tes yang bisa dibeli di toko buku atau didapatkan secara gratis internet. Bimbel punya mentor yang mengajari siswa cara efektif mengerjakan soal dan membahas jawabannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak berhenti di situ, bimbel juga memberi pendampingan siswa soal pilihan jurusan dan target PTN, memberi tryout dan menganalisa hasilnya, serta punya sistem belajar tersendiri yang diterapkan ke siswanya. Peserta bimbel yang berasal dari beragam sekolah juga secara tidak langsung membentuk lingkungan kompetisi yang berbeda dengan suasana kompetisi nilai di sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tidak ada sanksi nilai yang nyata seperti di sekolah, tapi siswa yang ikut sebenarnya membeli motivasi, target dan sistem belajar alternatif. Tujuannya satu, supaya diterima di PTN lewat seleksi tes UTBK.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bimbel berguna, tapi tidak untuk semua siswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bimbel memang menawarkan sistem belajar alternatif yang tujuannya tembus PTN, tapi bukan berarti bimbel berguna bagi semua siswa. Ada siswa yang ambis habis ingin masuk PTN. Siswa model ini biasanya sudah terbiasa belajar sendiri secara mandiri. Dia rela bertanya ke temannya demi menyelesaikan satu soal. Dia hanya butuh menjaga konsistensi latihan soal yang terjadwal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Model siswa seperti ini bisa jadi tidak perlu bimbel demi mengejar PTN impiannya. Sebab ia punya daya juang sendiri. Dan kalau ia ikut bimbel, ya tambah josjis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga siswa yang merasa membutuhkan lingkungan belajar yang sistemnya terarah. Ada juga siswa yang sudah paham materi tapi ia paham kalau butuh latihan soal yang terarah serta evaluasi. Tiga jenis siswa tadi sudah punya modal awal. Bimbel hanya membantu menyediakan struktur belajar yang lebih tersistem. Ada arah yang jelas kapan harus belajar, soal apa yang dikerjakan hari ini, dan siswa juga mendapat evaluasi soal kemampuan dan kekurangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, bimbel tidak banyak membantu siswa yang tidak memiliki niat sendiri. Misalnya ikut bimbel adalah hasil keputusan orang tua yang tidak dapat dibantah atau ikut bimbel karena FOMO. Sebab, bimbel itu fungsinya bukan menyuapi siswa agar kenyang, tapi mengajarkan siswa agar bisa makan sendiri, perkara sudah kenyang atau belum siswa yang memutuskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar bisa makan sendiri, tentu saja bimbel mengajarkan beragam cara. Tapi kalau siswanya sendiri tidak ingin bisa makan sendiri, tidak ada gunanya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada gunanya uang belasan juta dipakai untuk persiapan masuk PTN jika siswa datang ke bimbel dengan terpaksa, datang hanya untuk mengikuti proses tapi tidak berniat serius. Bimbel hanya menyediakan sistem, mentor dan latihan soal, tapi yang menjalankan tetap siswanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Membeli rasa aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bimbel itu bukan alat yang wajib dibeli untuk mendukung persiapan masuk PTN, tapi masih banyak siswa dan orang tua yang menganggapnya demikian. Tak usah jauh-jauh ke jenjang SMA, beberapa waktu lalu sebuah bimbel lokal di Jogja diserbu antrean orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk persiapan kelulusan SMP. Bukan hal yang wajib, tapi dipercaya bisa bisa menambal apa yang tidak bisa didapatkan di sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar, ikut bimbel berarti membeli sepaket persiapan menghadapi UTBK. Paket itu berisi tryout, sistem belajar yang terarah dan motivasi untuk siswa. Tapi tak hanya siswa yang mendapat manfaat, orang tua juga membeli sesuatu, yaitu rasa aman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, keputusan mengikuti bimbel tidak selalu berasal dari niat siswa, orang tua juga punya peran menentukan keputusan tersebut. Kekhawatiran menghadapi persaingan masuk PTN, melihat teman-teman anaknya mengikuti bimbel atau punya anggapan bimbel bisa memberi peluang lebih besar diterima di PTN.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bimbel tidak sekedar menjadi tempat siswa berlatih soal dan mengerjakan tryout. Bimbel juga bisa memberikan rasa aman bagi orang tua, karena merasa sudah melakukan sesuatu untuk membantu anaknya agar tembus PTN. Maka tak jarang, orang tua rela menyekolahkan emas untuk mendaftarkan anak ke bimbel. Tak ada yang salah dengan kekhawatiran orang tua, namanya juga demi anak.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Keputusan harus datang dari diri sendiri<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun terakhir di SMA harus diakui adalah periode yang penuh drama bagi orang tua dan siswa, karena di sini saatnya anak menentukan arah. Namun, keputusan mengikuti bimbel sebaiknya dimulai dari mengenali kebutuhan belajar siswa. Bukan berangkat dari anggapan bahwa semua calon mahasiswa PTN harus mengikuti bimbel. Kenyataannya ada siswa yang belajar mandiri, tapi lolos UTBK.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sebenarnya siswa butuh bimbel atau tidak supaya tembus PTN? Jawabnya tidak semua siswa harus ikut, tapi memang ada yang membutuhkannya. Kalau keputusannya ikut, hal penting yang sebaiknya dipahami: bimbel hanya alat yang membantu persiapan mengerjakan ujian masuk PTN, bukan tiket masuk PTN.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rina Widowati<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-tua-baru-bisa-tenang-setelah-anak-ikut-les-mata-pelajaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang tua bersyukur ada les mata pelajaran karena menemani anak belajar nyatanya tak mudah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bimbel hanya alat yang membantu persiapan mengerjakan ujian masuk PTN, bukan tiket masuk PTN. Pahami itu dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":2605,"featured_media":416025,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[12910],"tags":[19195,1579,23382,19131,35195],"class_list":["post-420221","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bimbel","tag-ptn","tag-snbp","tag-snbt","tag-tes-ptn"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420221","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2605"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=420221"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420221\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":420229,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420221\/revisions\/420229"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/416025"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=420221"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=420221"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=420221"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}