{"id":420009,"date":"2026-10-03T14:59:39","date_gmt":"2026-10-03T07:59:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=420009"},"modified":"2026-10-03T14:59:39","modified_gmt":"2026-10-03T07:59:39","slug":"jangan-kapok-ikut-rewang-di-kampung-lama-lama-bermanfaat-kok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-kapok-ikut-rewang-di-kampung-lama-lama-bermanfaat-kok\/","title":{"rendered":"Jangan buru-buru kapok ikut rewang di kampung, lama-lama akan terasa manfaatnya kok"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kerja bakti, rewang adalah bentuk gotong royong yang khas di kalangan masyarakat Indonesia. Tujuan rewang adalah untuk meringankan beban pemilik hajat yang sedang menyelenggarakan acara, seperti pernikahan, kelahiran, maupun kematian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, tulisan berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ikut-rewang-di-kampung-untuk-srawung-malah-berakhir-trauma\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Inisiatif ikut rewang di kampung biar nggak dikira antisosial malah berujung trauma<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> naik di Terminal Mojok. Tulisan tersebut menceritakan kisah penulis yang ikut rewang di tempat tinggalnya. Penulis menyoroti hal-hal negatif yang membuatnya kecewa saat rewang sehingga sempat kapok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, rewang juga punya sisi positif yang menurut saya nggak seharusnya membuat seseorang jadi trauma untuk ikut rewang lagi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rewang adalah momen pas untuk belajar masak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak menampik fakta bahwa terkadang kita sangat kikuk waktu pertama kali ikut rewang. Kita masih bingung mengerjakan apa. Kadang kita cuma mengekor ibu, mengerjakan tugas-tugas kecil, atau mirisnya lagi nggak dikasih perintah apapun karena dianggap masih sangat pemula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Momen seperti ini memang menyebalkan. Tapi, itu cuma satu fase awal. Wajar kalau ibu-ibu yang sudah lama ikut rewang nggak ngasih kita tugas. Mereka hanya masih sungkan karena belum tahu kita ahli atau suka mengerjakan bagian apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah sering ikut rewang, percayalah, rewang itu bakal jadi tempat yang lebih powerful dibandingkan ikut kelas memasak. Di sini, ibu-ibu yang sudah veteran dalam hal mengolah makanan nggak akan pelit membagikan <em>hacks<\/em> dan tips biar makanan jadi lebih enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun kita salah dalam menyiapkan hidangan, mereka pasti akan menegur. Dan teguran ini bukan untuk mempermalukan kita. Justru mereka melakukan itu biar kemampuan kita jadi lebih baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kalau kita salah atau nggak efisien saat mengolah makanan, jelas mereka akan menegur. Kan di sini posisi mereka juga hanya meringankan beban pemilik hajat. Mereka pasti nggak mau dong durasi memasak membengkak karena kita kelamaan, misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapapun yang pertama kali ikut rewang pasti akan merasakan jadi anak bawang. Asalkan nggak kapok dan menyerah, <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/list\/starter-pack-memulai-belajar-masak-bagi-yang-awam-bonus-resep-simpel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">skill<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> memasak kita pasti ikut berkembang setelah di-drill sama ibu-ibu lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rewang yang katanya selalu jadi forum gosip<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mata sebagian orang, citra rewang itu buruk. Rewang disebut tak ubahnya forum gosip yang memfasilitasi ibu-ibu untuk membicarakan kejelekan tetangganya sendiri. Bahkan, di tulisan yang saya sebut tadi, disebut bahwa slogan warga dukung warga nggak berlaku saat rewang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akui, rewang memang menjadi momen untuk mendapatkan berita paling cepat, bahkan kita bisa tahu kabar \u201crahasia\u201d saat ikut rewang. Tapi, kalau dimanfaatkan dengan benar, justru rewang itu berjasa di kehidupan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah ada suatu waktu ketika tetangga di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/anak-muda-jadi-ketua-rt-pekerjaan-kuli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">RT<\/a> saya sudah nggak kelihatan beberapa hari. Ibu-ibu langsung bertanya-tanya sembari mengiris bawang. Tetangga sebelah rumahnya langsung bercerita bahwa beliau memang sedang sakit. Langsung deh ibu-ibu rombongan membesuk beliau keesokan harinya. Nah, yang seperti ini kan bukan gosip, tapi bentuk perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kasus di kampung saya pun obrolan yang dibahas ibu-ibu saat rewang nggak pernah habis. Ada saja topiknya. Tapi, kalau mulai ngomongin orang, ibu-ibu itu cuma akan membahas orang-orang yang membangkang dan menyalahi aturan. Nggak akan kok ibu-ibu itu menjelek-jelekkan orang yang baik dan nurut pada aturan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai makhluk sosial, ya mau nggak mau kita harus mengikuti aturan di tempat kita hidup. Contoh nih, kalau kita tinggal di daerah pedesaan tapi perilaku kita liberal bahkan cenderung rebel, ya kita harus siap dengan konsekuensi diomongin tetangga. Kalau kita tinggal di lingkungan yang agamis tapi kita hidup dengan cara yang berkebalikan, ya jangan marah kalau tetangga menegur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teguran dan gosip itu bentuk kontrol sosial. Kontrol sosial sudah sepaket kita dapatkan ketika kita memutuskan tinggal di suatu tempat. Justru dari kontrol sosial semacam ini kita bisa mengambil nasihatnya. Kecuali kalau obrolan ibu-ibu menjurus ke fitnah, nah itu baru sisi negatif.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kearifan lokal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya bangga dengan kearifan lokal yang kita miliki dalam bentuk rewang di kampung ini. Ketika tinggal di luar negeri, saya nggak pernah menjumpai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gotong_royong\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gotong royong<\/a> yang sama atau minimal serupa dengan rewang. Maka dari itu saya beberapa kali memperkenalkan tradisi rewang dan berbagai kegiatan gotong royong lain yang kita miliki kepada orang-orang di luar negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang betul rewang juga punya sisi negatif, sebagaimana semua hal di dunia ini. Tapi jangan sampai sisi negatif rewang membuat otak kita ikut tercuci pendapat bahwa rewang itu nggak bermanfaat. Jangan sampai tradisi rewang pada akhirnya punah karena nggak ada anak muda yang mau melanjutkan. Kan sayang banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span>Noor Annisa Falachul Firdausi<br \/>\n<span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kadang-orang-ikut-rewang-bukan-karena-ingin-membantu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa.<\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ikut rewang di kampung tidak seburuk dalam bayanga. Awalnya mungkin terasa berat, tapi lama-lama akan terbiasa dan terasa manfaatnya. <\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":420013,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[1936,7649,9875,35177],"class_list":["post-420009","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-gotong-royong","tag-kampung","tag-rewang","tag-rewang-di-kampung"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420009","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=420009"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420009\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":420015,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/420009\/revisions\/420015"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/420013"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=420009"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=420009"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=420009"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}