{"id":419717,"date":"2026-10-02T16:26:33","date_gmt":"2026-10-02T09:26:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=419717"},"modified":"2026-10-02T16:26:33","modified_gmt":"2026-10-02T09:26:33","slug":"5-tanda-kalian-nggak-cocok-hidup-di-malang-jangan-coba-coba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tanda-kalian-nggak-cocok-hidup-di-malang-jangan-coba-coba\/","title":{"rendered":"5 tanda kalian nggak cocok hidup di Malang dan sebaiknya jangan coba-coba"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak orang yang menganggap Malang adalah kota atau wilayah yang enak untuk hidup. Hawa yang sejuk, biaya hidup yang cenderung murah, hingga lingkungan yang (katanya) asri menjadi beberapa alasannya. Nggak heran banyak orang, khususnya perantau, memutuskan untuk tetap tinggal di Paris van East Java setelah kuliahnya beres.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan-alasan tersebut ada benarnya. Malang memang punya hawa yang sejuk, secara letaknya ada di kaki gunung. Biaya hidupnya juga cenderung murah, mulai dari biaya tinggal (<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-jadi-pengelola-kos-kosan-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kos atau kontrakan<\/a>), hingga biaya makan. Mirip seperti Jogja, tapi dengan UMR yang lebih tinggi. Soal lingkungannya yang asri, ada beberapa tempat kota ini yang memang begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, nggak semua orang bisa cocok dan betah hidup di Paris van East Java. Ada banyak hal yang memang nggak ketemu antara ekspektasi dan kenyataan. Beberapa tanda di antaranya sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Malang tidak untuk mereka yang nggak bisa hidup di daerah yang dingin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak seperti dulu, Malang itu sudah nggak dingin. Makin hari, Malang makin panas. Pembangunan dan alih fungsi lahan jadi salah satu penyebabnya. Orang lokal asli sudah bertahun-tahun sambat perkara hal ini. Namun, bukan berarti panasnya Malang sudah sepanas Surabaya, Jakarta, atau beberapa kota di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/mahasiswa-kalimantan-dipaksa-srawung-khas-jawa-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kalimantan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanas-panasnya Malang, suhu rata-ratanya masih berada di 22-24 derajat. Kalau pagi dan malam, suhunya bisa mencapai 18 derajat, bahkan di bawahnya. Di bulan-bulan tertentu seperti Juni-Agustus, Malang masuk masa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bediding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> alias dingin yang cukup ekstrem. Suhunya bisa mencapai 16 derajat. Bagi yang nggak bisa hidup di daerah dingin, jelas nggak cocok hidup di Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, kalian yang terbiasa hidup di daerah yang suhunya 30 derajat, lalu hidup di daerah yang suhu 22 derajat bahkan lebih rendah, ya jelas kesulitan. Kalian akan gampang sakit, dan bisa jadi nggak betah.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Mereka yang mencari ketenangan, menghindari kebisingan tidak cocok hidup di Malang\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah besar kalau kalian memilih untuk hidup di Malang dengan alasan menghindari kebisingan, mencari ketenangan atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/slow-living-frugal-living-di-desa-memang-omong-kosong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">slow living<\/a>. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah kekeliruan dan kesalahpahaman yang perlu diluruskan berkali-kali. Sebab, Malang saat ini sudah jauh dari kata tenang, bahkan sudah sangat jauh dari cap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slow living.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, Malang itu isinya macet setiap hari. Belum lagi soal sound horeg yang seakan ada terus tiap bulan. Lalu soal rentetan konflik antar warga dan pemerintah, hingga kejadian lain seperti banjir di musim hujan. Semua ini jelas sangat jauh dari ketenangan. Makanya, kalau kalian bertujuan untuk mencari ketenangan, Malang sudah jelas bukan pilihan. Kalau tetap memaksa, sudah pasti kalian nggak akan cocok dan betah hidup di Paris van East Java.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Mudah baper dengan gaya bicara arek<\/b><b><i> Malang <\/i><\/b><b>yang lugas dan ceplas-ceplos<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gaya berbicara orang Malang memang nggak seceplas-ceplos dan selugas orang Surabaya. Namun, sebagai sesama penutur dialek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">arek,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> gaya bicara orang Malang masih tergolong ceplas-ceplos. Frasa \u201ccok\u201d atau \u201cjancok\u201d masih jadi kosakata harian, nada-nada yang lebih tinggi juga sudah jadi ciri khas. Orang lokal juga nggak sungkan untuk ngomong langsung (mengonfrontasi) di depan orang yang bersangkutan. Ini sudah jadi identitaslah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang susah beradaptasi, apalagi mudah baper, tentu akan nggak siap jika mendengar bagaimana orang Malang kalau sedang ngobrol. Kalian juga nggak akan siap mendengar frasa \u201ccok atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jancok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cjancok<\/a>\u201d yang terselip di setiap kalimat. Kalian akan menganggapnya sebagai umpatan, atau kemarahan. Kalian akan merasa terkonfrontasi, padahal konteksnya ya cuma ngobrol biasa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, kalau kalian masih mudah baper dan gampang sakit hati, mending nggak usah berpikir untuk tinggal di Malang. Jelas nggak akan cocok!<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Terobsesi dengan jalan kaki<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katakanlah kalian sudah lama tinggal di Eropa, atau mungkin di kota-kota lain di Indonesia yang cukup ramah dengan pejalan kaki. Lalu suatu saat kalian tinggal dan hidup di Malang, maka itu jelas adalah sebuah kemerosotan. Sebab Malang adalah kota yang sangat nggak ramah dengan pejalan kaki. Trotoarnya berantakan, nggak jelas, sangat nggak layak, lah, untuk pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, kalian yang sangat terobsesi dengan jalan kaki, yang ke mana-mana suka jalan kaki pasti nggak akan cocok hidup di daerah ini. Alih-alih bahagia, kalian akan marah melihat bagaimana Malang memperlakukan para pejalan kaki. Plus, pihak Pemkot juga kayak nggak peduli akan hal ini. Jadi, lupakan saja angan-angan tinggal dan hidup di Malang kalau kalian terobsesi dengan jalan kaki.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Terobsesi dengan transportasi publik yang terintegrasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain nggak ramah dengan pejalan kaki, Malang juga nggak ramah dengan transportasi umum. Maksudnya, transportasi umum di Malang ini masih belum terintegrasi, bahkan masih berantakan, lah. Angkutan kotanya masih nggak jelas (baik secara kualitas maupun operasionalnya). Adanya Trans Jatim yang baru juga belum mampu mengintegrasikan tiap-tiap titik di Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa Malang bukanlah kota\/daerah yang cocok untuk kalian yang sangat terobsesi dengan transportasi umum yang terintegrasi. Kalian akan tetap butuh kendaraan pribadi (minimal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-tidak-saya-sangka-bisa-dilakukan-driver-ojek-online\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ojek <\/a><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) kalau ingin menuju beberapa wilayah yang belum \u201ctersentuh\u201d angkutan umum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kelima hal di atas ada pada kalian, berarti kalian sudah pasti nggak cocok hidup di Malang. Kalau kalian nggak bisa hidup di suhu yang dingin, kalau kalian mencari slow living, atau kalau kalian terobsesi dengan jalan kaki dan transportasi umum yang terintegrasi, Paris van East Java jelas bukan jadi pilihan. Mending cari kota lain saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malang-lebih-banyak-mengajarkan-saya-cara-hidup-daripada-jogja\/\"><b><i>Malang lebih banyak mengajarkan saya cara bertahan hidup daripada Jogja<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak semua orang cocok hidup di Malang terutama mereka yang nggak kuat hawa dingin, baperan, suka ketenangan, dan transum. <\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":419725,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[10740,985,1418,5807],"class_list":["post-419717","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kota-malang","tag-malang","tag-merantau","tag-perantau"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419717","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419717"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419717\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":419726,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419717\/revisions\/419726"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/419725"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419717"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419717"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419717"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}