{"id":419707,"date":"2026-10-02T14:48:59","date_gmt":"2026-10-02T07:48:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=419707"},"modified":"2026-10-02T14:48:59","modified_gmt":"2026-10-02T07:48:59","slug":"5-aturan-tidak-tertulis-pasar-ngasem-jogja-pengunjung-harus-tahu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-aturan-tidak-tertulis-pasar-ngasem-jogja-pengunjung-harus-tahu\/","title":{"rendered":"5 aturan tidak tertulis Pasar Ngasem Jogja yang sebaiknya diketahui pengunjung sebelum mampir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasar Ngasem Jogja sekarang viral. Pasar ini jadi pusat kuliner sarapan dan jajanan tradisional. Aku sendiri masih heran, kok bisa ya? Pasar ini dulu kumuh, dan 90% orang di dalamnya aku kenal. Sekarang lebih banyak wajah asing yang datang dari berbagai daerah bahkan mancanegara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya kalian cari apa, to?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, aku maklum saja, toh tetangga-tetanggaku jadi punya pemasukan baru. Dan, daripada kamu bingung, aku bisiki beberapa aturan tidak tertulis saat jajan di Pasar Ngasem Jogja. Minimal mengurangi plonga-plongomu di tengah lautan wisatawan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jangan lewat perempatan Tamansari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kamu sampai, aku harus ingatkan perkara akses masuk. Aku sarankan kamu lewat Plengkung Ngasem di sebelah Barat Alun-Alun Utara. Atau lewat Plengkung Madyasura di selatan Jogjatronik, lalu melintas Alun-Alun Selatan sebelum sampai ke Pasar Ngasem. Kecuali kamu punya hobi menikmati macet, jangan lewat Perempatan Tamansari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Area Jalan Tamansari adalah titik temu banyak orang. Apalagi saat hari Minggu. Ada arus Bis Pariwisata, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Trans_Jogja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Transjogja<\/a>, truk, dan kendaraan warga. Belum lagi kamu akan ketemu rombonganku dan umat pulang gereja. Sedangkan dua jalur yang kusebut tadi memang semi eksklusif untuk wisatawan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Masuk lewat gerbang utama atau pintu timur Pasar Ngasem Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih bicara perkara akses, biasanya kamu akan parkir di sisi barat pasar. Apalagi kalau kamu kesiangan dikit, dan parkir di dekat gerbang sudah penuh kendaraan. Tapi, jangan masuk lewat pintu barat yang tamppaknya lebih dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan karena pamali, tapi area itu adalah pasar tradisional. Dan para pembeli dan pedagang memakai jalan itu untuk keluar masuk barang. Aku sering dengar keluhan wisatawan yang harus saling senggol dengan tukang panggul beras atau kardus mie instan. Kalian sudah diberi kemewahan dengan akses lewat gerbang utama yang estetis. Biarkan kami mengalah memakai pintu samping yang dekat tempat pembuangan sampah.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Makan besar dulu baru jajan pasar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini pengalaman dari beberapa teman yang iseng sarapan di Pasar Ngasem Jogja. Mereka lapar mata saat melintas tenongan atau penjaja jajan pasar. Lalu belanja banyak jajanan sebelum mencari nasi rames atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/warung-sate-kere-mbah-mardi-dan-alasan-mahasiswa-memberi-nama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sate gajih<\/a>. Harapannya bisa untuk oleh-oleh saat pulang ke rumah atau kos. Tapi habis duluan di pasar. Saat sarapan, perut sudah terasa penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjaja Pasar Ngasem Jogja bukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fast food<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> modern. Dan, saat weekend, kamu harus antri panjang. Mending kamu tahan laparmu dan langsung antri makan besar. Baru setelah punya tenaga, puaskan lapar matamu dengan es dawet dan jajan pasar.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4<\/b><b><i> Hidden gem<\/i><\/b><b> ada di pasar tradisional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sudah ada beberapa nama kondang yang jadi jujugan saat sarapan di Pasar Ngasem. Tentu mereka sudah dikerubungi pembeli sejak pagi. Tapi, kalau kamu suka petualangan, coba bergeser ke pasar tradisional di sisi barat gerbang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situ ada banyak opsi sarapan yang tidak viral. Tapi, jadi langganan kami warga lokal setiap hari. Ada dawet ireng yang nikmat di antara penjaja sayur. Ada warung tenongan dengan harga lebih miring. Ada juga warung ramesan yang rasanya otentik. Jangan tanya titik maps nya di mana. Kan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/para-kreator-konten-please-kafe-di-dalam-gang-itu-bukan-hidden-gem\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em> hidden gem<\/em><\/a>, cari sendiri lah!<\/span><\/p>\n<h2><b>#5\u00a0 Di Pasar Ngasem Jogja angkat pantat berarti tempat duduk melayang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini salah satu aturan yang sepertinya berlaku di semua tempat viral. Kamu termasuk orang beruntung yang bisa dapat tempat duduk di meja dan bangku cor. Seandainya penuh, kamu bisa duduk di amphiteater Pasar Ngasem. Sudah penuh juga? Kamu bisa lesehan di gazebo. Tapi biasanya semua tadi sudah penuh, dan kamu harus makan jajanan sambil berdiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sebaiknya segera beli apa yang kamu mau, lalu duduk. Jangan pergi ke mana pun kecuali mau pulang. Karena sudah ada puluhan pasang mata yang mengintai tempat dudukmu. Kalau sudah selesai makan, kamu juga harus tahu diri. Segera bersihkan, kembalikan piring kalau perlu, dan angkat pantatmu. Jangan malah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">yapping<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan mengambil hak duduk orang lain selama berjam-jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu sudah baca semua, selamat menikmati sarapan viral di jantung Kota Jogja. Nikmati sarapan kalcer bersama ratusan manusia penasaran. Jangan lupa untuk buang sampah pada tempatnya dan jangan buang ludah sembarangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi, aku bisiki lokasi es dawet enak. Rasanya simpel, sangat tradisional dan klasik. Namanya Es Dawet Hj Ratmi. Tempatnya di dekat penjual bubur manis alias jenang yang viral itu. Percayalah, es dawet di situ selalu enak sejak aku masih TK. Jangan lupa sampaikan salamku kalau ketemu blio.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Kenia Intan<\/p>\n<p>BACA JUGA <em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasaan-aneh-orang-jogja-yang-kini-saya-malah-tiru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru<\/a>.<\/em><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0ini\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada aturan tidak tertulis yang sebaiknya diperhatikan saat mengunjungi Pasar Ngasem Jogja yang sedang viral agar bisa berwisata dengan nyaman. <\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":419714,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[115,33600,5109,33599,23444,35163],"class_list":["post-419707","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-ngasem","tag-pasar","tag-pasar-jogja","tag-pasar-ngasem-jogja","tag-pasar-ngsem"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419707","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419707"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419707\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":419716,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419707\/revisions\/419716"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/419714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419707"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419707"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419707"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}