{"id":419611,"date":"2026-10-01T15:42:26","date_gmt":"2026-10-01T08:42:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=419611"},"modified":"2026-10-01T15:42:26","modified_gmt":"2026-10-01T08:42:26","slug":"pantai-ngobaran-tempat-sang-raja-terakhir-majapahit-terbakar-dan-moksa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-ngobaran-tempat-sang-raja-terakhir-majapahit-terbakar-dan-moksa\/","title":{"rendered":"Pantai Ngobaran: tempat sang raja terakhir Majapahit terbakar dan moksa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya aku senewen setiap ada istilah \u2018rasa\u2019 di destinasi wisata Jogja. Misal Jogja rasa Korea, Jogja rasa Santorini, sampai Jogja rasa Bali. Tapi ketika bicara Pantai Ngobaran, mungkin aku bisa memaklumi sedikit. Karena keberadaan Pura Segara Wukir di tebing batu Ngobaran memang punya nilai estetis ala Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pura yang seperti tumbuh di tebing karang ini memang artistik. Apalagi saat rona jingga matahari senja jatuh di antara arca dan atap tumpang. Cocok untuk kamu yang bergaji di bawah UMR Jogja tapi ingin merasakan nuansa Hindu khas Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik keindahan Pantai Ngobaran yang sering jadi spot prewedding itu, ada juga legenda yang menarik. Tentang seorang ayah yang memilih membakar diri daripada berperang melawan anak. Sebuah masa berdarah yang menjadi titik terbenamnya Wilwatikta dan terbitnya Kerajaan Demak. Tapi aku sendiri skeptis pada legenda ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu penasaran dengan keindahan pura di tebing karang Pantai Ngobaran? Atau malah legenda moksa yang sakral? Pakai helm dan segera naik ke jok belakang. Kita akan mendaki gunung dan lewati lembah menuju ke tempat magis ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dimulai dari 2003<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya kita sampai. Maaf jika lama, sampai dua jam perjalanan. Tapi terbayar dengan keindahan pura dari batu andesit itu kan? Juga pantai yang tehampar bagai permadani bagi situs yang sakral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kamu membayangkan sebuah situs purbakala, aku harus memaksamu memandang realitas. Gapura, prasasti, dan beberapa patung bercorak Hindu baru diletakkan di Pantai Ngobaran pada 2003. Dilakukan oleh Pemerintah DIY sebagai penanda tentang tempat terjadinya peristiwa moksa <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kertabhumi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Brawijaya V<\/a>. Sedangkan peresmian lokasi ini baru terjadi pada 2004.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa lokasi \u2018unik\u2019 di area ini. Pertama adalah pendapa tempat ibadah para pelaku kepercayaan Kejawen, sebuah aliran yang bersumber dari Bondan Kejawan putra Brawijaya V. Ada juga sebuah mushola dengan posisi unik, seolah mihrab menghadap laut selatan. Tapi tetap ada penunjuk kiblat untuk menandai arah sholat yang benar menurut Islam. Yang terakhir tentu saja pura yang mengagumkan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk Pura Segara Wukir sendiri didirikan Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan diresmikan pada 2004. Tentu dengan izin dari Kraton Jogja. Pendirian pura di Pantai Ngobaran ini berlandaskan legenda bahwa lokasi tersebut adalah tempat Brawijaya V membakar diri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Brawijaya V yang terbuang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasti kamu penasaran kenapa Brawijaya V harus membakar diri. Semua dimulai pada masa runtuhnya Majapahit atau Wilwatikta. Brawijaya V harus menghadapi anaknya sendiri, Raden Patah. Majapahit yang sebenarnya sudah terseok-seok sejak lama tidak mampu menghadapi deklarasi berdirinya Kerajaan Demak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brawijaya V sendiri memilih untuk menghindari konflik, dan kabur dari Trowulan. Terjadi masa kejar-kejaran antara Brawijaya V dan Raden Patah. Karena sudah tidak tahan dalam pelarian, dan niat untuk mengutamakan perdamaian, Brawijaya V mengalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brawijaya memilih sebuah tebing di pantai selatan Pulau Jawa. Tepatnya di selatan sebuah gunung sakral dan pusat pemerintahan kerajaan agung Mataram sebelum dipindahkan Mpu Sindok ke Jawa Timur. Di pantai itu, Brawijaya V merebahkan tubuhnya di atas tumpukan kayu bakar. Para abdinya menyalakan api, dan kobar bernyala-nyala menerangi pantai yang sunyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahana berkobar dan Prabu Brawijaya V lenyap jiwa raganya. Hanya tersisa sepotong tulang, tanda sang raja terakhir meninggalkan dunia. Raden Patah tak pernah mampu menemui ayahnya, dan kembali mendirikan Kerajaan Demak. Api berkobar dikenang sebagai nama pantai ini, Pantai Ngobaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keren kan kisahnya? Sekarang aku jelaskan kenapa kisah keren ini bermasalah. Habiskan dulu es kelapa mudamu, kita akan lanjut jalan lagi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kabar kabur yang kabur di Pantai Ngobaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya ada banyak masalah dari legenda moksa Prabu Brawijaya V ini. Pertama adalah lokasi, karena ada dua versi di satu area yang sama. Versi pertama seperti yang aku ceritakan tadi, di Pantai Ngobaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ada versi lain yang mengatakan Brawijaya V moksa di Gua Langse. Itu lho, gua yang jadi tempat semedi banyak tokoh politik. Yang katanya tempat semedi pria dari Solo sebelum menang pemilu. Versi ini menyebut api di Pantai Ngobaran tidak membakar Brawijaya V, tapi membakar bangkai anjing sebagai kedok. Sedangkan Brawijaya V lari diam-diam ke Gua Langse dan bertapa hingga moksa di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan manggut-manggut dulu! Masih ada versi bahwa Brawijaya V moksa di Trowulan setelah ditemui Sunan Kalijaga. Ada juga yang bilang kalau blio kabur ke Bali bersama pelarian tentara Majapahit. Atau versi blio naik naga dan terbang menghilang sebelum tentara Raden Patah tiba di Trowulan. Yang versi terakhir itu karanganku saja sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan siapa Prabu Brawijaya V sendiri bermasalah. Ada terlalu banyak simpang siur yang saling memotong narasi. Pegangan paling kuat hanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Babad Tanah Jawi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang kental dengan legitimasi politis untuk memastikan hubungan kerajaan bercorak Islam dengan kejayaan Majapahit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya satu yang pasti, Pantai Ngobaran memang indah dan magis. Pura Segara Wukir memberi keindahan yang magis dan eksotis. Lupakan saja legenda itu, dan nikmati keindahan pantai ini tanpa sibuk debat sejarah. Sebuah pantai di ceruk tebing yang konon jadi pelarian raja. Kini jadi pelarian kita, penyintas upah murah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-candi-di-gunungkidul-yang-perlu-dikunjungi-mahasiswa-sejarah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Candi di Gunungkidul yang Perlu Dikunjungi Mahasiswa Sejarah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hanya satu yang pasti, Pantai Ngobaran memang indah dan magis. Sudah, lupakan legenda Brawijaya V. Nikmati saja suasananya.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":419612,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[35155,5281,35157,35154,35156],"class_list":["post-419611","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-brawijaya-v","tag-gunungkidul","tag-moksa","tag-pantai-ngobaran","tag-raja-majapahit"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419611","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419611"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419611\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":419613,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419611\/revisions\/419613"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/419612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419611"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419611"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419611"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}