{"id":419513,"date":"2026-10-01T12:37:54","date_gmt":"2026-10-01T05:37:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=419513"},"modified":"2026-10-01T12:37:54","modified_gmt":"2026-10-01T05:37:54","slug":"logat-orang-lamongan-keras-dan-cepat-di-kuping-orang-mojokerto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/logat-orang-lamongan-keras-dan-cepat-di-kuping-orang-mojokerto\/","title":{"rendered":"Logat orang Lamongan terlalu keras dan cepat di kuping orang Mojokerto"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang lahir, tumbuh besar, dan menghabiskan puluhan tahun hidup di Lamongan, saya selalu menganggap bahwa gaya interaksi sosial di daerah saya adalah hal yang biasa-biasa saja. Sampai akhirnya, saya menikah dengan perempuan asal Mojokerto dan mulai rutin wara-wiri ke sana selama setahun terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan menikah itu ternyata tidak hanya mengubah status sipil saya di KTP, tetapi juga membuka mata saya lebar-lebar soal sebuah konsep bernama <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-hospitality-jurusan-yang-dianggap-sepele-dan-suram\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">hospitality <\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">atau keramahtamahan daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> culture shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kecil-kecilan yang saya alami ketika pertama kali menginjakkan kaki di lingkaran keluarga dan lingkungan sosial istri saya di Mojokerto.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keramahan yang tidak dibuat-buat, dari tukang parkir hingga bahasa krama di rumah mertua<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Mojokerto, saya menemukan tingkat keramahtamahan yang jujur saja sempat bikin saya kaget, sungguh berbeda dengan Lamongan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berkunjung ke rumah mertua dan bertamu ke rumah kerabatnya, telinga saya disuguhi oleh tutur kata yang teramat sangat halus. Penggunaan bahasa Jawa Krama masih terawat dengan begitu natural dalam interaksi sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara mereka menyapa, menyajikan hidangan, hingga mendengarkan obrolan selalu dibungkus dengan gestur ngemong dan penuh penghormatan. Awalnya, saya pikir keramahtamahan itu cuma berlaku di ranah domestik atau keluarga saja, namanya juga menantu baru kan? Namun, prasangka saya keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto, cangkruk di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/seni-mengelola-kedai-kopi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kedai kopi<\/a>, atau sekadar belanja di pertokoan lokal, atmosfer ramah itu tetap konsisten. Bahkan tukang parkir di Mojokerto itu rata-rata ramah, berbahasa Jawa Krama, dan mengucapkan terima kasih tanpa wajah cemberut. Sebuah pengalaman langka yang membuat adem di hati.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penjual di Paciran Lamongan dianggap suka marah-marah di kuping orang Mojokerto<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, giliran istri saya yang mengalami <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berat ketika saya ajak main ke Lamongan, khususnya saat kita melipir ke kawasan pesisir seperti Paciran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, setelah membeli jajanan di desa saya, istri saya cerita dengan wajah kaget, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa sih penjualnya tadi kok marah-marah? Aku ada salah omong tah?<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang mendengar pertanyaan itu langsung tertawa. Saya jelaskan pelan-pelan ke istri saya bahwa default atau &#8220;setelan pabrik&#8221; cara bicara orang Pantura memang seperti itu. Nada bicaranya tinggi, artikulasi tegas, dan suaranya keras lantang mengalahkan deru ombak laut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, meskipun secara niat hati warga pesisir Lamongan itu sangat baik, jujur, dan tidak picik, cara penyampaian yang serba keras dan terkesan &#8220;ngegas&#8221; itu bisa ditafsirkan lain oleh orang luar daerah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjauh sejenak untuk melihat sisi lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari dinamika kecil dalam kehidupan pernikahan kami inilah, saya sampai pada sebuah kesimpulan kalau selama 30 tahun menetap di Lamongan, saya tidak pernah merasa ada yang salah dengan gaya komunikasi dan pelayanan publik di daerah sendiri. Saya menganggap nada keras dan impresi galak sebagai hal yang lumrah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, setelah menikah dan sering bolak-balik ke Mojokerto, saya baru menyadari bahwa untuk urusan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hospitality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pelayanan, dan kelembutan interaksi sosial, Mojokerto memang berada di level yang lebih oke.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peristiwa ini menyadarkan saya pada satu pencerahan, kadang-kadang, kita memang perlu menjauh sejenak dari rumah sendiri agar bisa melihatnya secara utuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan berarti Lamongan buruk dan Mojokerto tanpa cela. Tentu saja bukan. Warga pesisir Lamongan juga punya nilai plusnya sendiri. Meski demikian, saya kira tak ada salahnya juga kan, kalau kita warga Lamongan belajar sedikit kelembutan hospitality dari tetangga kita di Mojokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar kalau ada wisatawan luar daerah yang mampir beli soto atau jalan-jalan ke<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paciran,_Lamongan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Paciran<\/a>, mereka tidak mengira sedang mendengarkan orang marah-marah, melainkan merasa disambut dengan hangat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-bisa-lebih-unggul-dari-tuban-kalau-pemkab-berani\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Lamongan bisa lebih unggul dari Tuban kalau Pemkab berani benahi persoalan mendasar ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di kuping orang Mojokerto, logat orang Lamongan terlalu keras dan cepat. Orang Mojokerto memang lebib ramah dan halus sehari-hari. <\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":419589,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[761,2501,2250,2517,5532,32689],"class_list":["post-419513","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-jawa-timur","tag-lamongan","tag-logat","tag-mojokerto","tag-paciran"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419513"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":419590,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419513\/revisions\/419590"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/419589"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}