{"id":419494,"date":"2026-09-30T17:04:15","date_gmt":"2026-09-30T10:04:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=419494"},"modified":"2026-09-30T17:04:15","modified_gmt":"2026-09-30T10:04:15","slug":"ikut-rewang-di-kampung-untuk-srawung-malah-berakhir-trauma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ikut-rewang-di-kampung-untuk-srawung-malah-berakhir-trauma\/","title":{"rendered":"Inisiatif ikut rewang di kampung biar nggak dikira antisosial malah berujung trauma"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya rewang di kampung sudah tak asing lagi bagi masyarakat. Tradisi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gotong_royong\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gotong royong<\/a> di area dapur ini kental dengan nuansa kehangatan dan kekeluargaan.\u00a0 Namun, bagi seorang pemula yang baru pertama kali andil sepenuhnya di ruang dapur rewang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, pengalaman ini berubah menjadi ujian mental yang cukup menguras energi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya terpaksa harus mengiyakan ajakan Ibu saya untuk turut serta membantu hajatan saudara. Saya yang notabenenya jarang ikut kegiatan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rewang kampung<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, sedikit merasa enggan. Bukan karena nggak mau capek, tapi takut dicap nggak bisa apa-apa. Tapi, sudahlah, pikir saya, pengalaman ini toh tetap perlu dicoba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niat awalnya memang sederhana, ingin belajar bermasyarakat dan sekadar bantu-bantu ringan. Dalam bayangan saya, mungkin cukup datang, menyapa orang-orang, lalu membantu pekerjaan sekadarnya dengan keadaan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ayem tentrem<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, realitas di lapangan berkata lain. Di sana, orang-orang tampak sudah memahami apa yang harus dilakukan tanpa banyak bertanya. Sementara saya, berdiri sebentar saja sudah sibuk menerka, \u201cIni harus bantu apa, ya?\u201d Saya dilanda kebingungan. Pasalnya, saya satu-satunya orang yang paling muda di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiba-tiba saja saya diminta bantuan mengerjakan hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Mau bilang tidak bisa, sungkan. Akhirnya, pilihan paling aman adalah mengiyakan sambil berharap tangan dan otak bisa saling bekerja sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik itulah saya mulai paham, bahwa rewang di kampung ternyata bukan sekadar menguji tenaga, tetapi juga keberanian untuk beradaptasi. Dan, tentu saja, hal ini baru permulaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ikut rewang di kampung malah merasa jadi beban di dapur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mulai memahami medan dapur, saya mulai percaya diri. Saya berpikir mulai bisa mengikuti ritme <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rewang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di kampung <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan tidak lagi berdiri linglung bingung mau ngapain. Mengupas bawang, memotong buah, menggoreng <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ciri-combro-yang-sudah-pasti-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">camilan<\/a> suguhan, dan pekerjaan dapur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">basic <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, rasa percaya diri ini hanya bertahan sekejap. Ada saja kejadian yang membuat saya kembali sadar bahwa saya masih pemula. Salah mengambil sesuatu atau mengerjakan pekerjaan dengan cara yang menurut saya sudah benar, tetapi tidak bagi mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua pekerjaan yang saya lakukan, terasa tak sejalan dengan mereka. Selalu ada celah kesalahan untuk dilontarkan. Alih-alih terlihat berguna, saya malah terlihat tidak bisa apa-apa. Rupanya menjadi bagian dari masyarakat memang membutuhkan keberanian untuk sesekali terlihat bodoh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik setiap tahun<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bayangan saya pertanyaan-pertanyaan keramat hanya akan keluar di waktu hari raya saja. Ironinya, di dapur <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rewang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0ini, bahkan saya nggak lolos dari pertanyaan klasik itu lagi. Saya sudah hafal polanya. Mulai dari pertanyaan kuliah, kemudian bergeser ke pekerjaan, lalu entah bagaimana berujung ke urusan pasangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal datang ke dapur niat hati memasak, malah jadi sesi wawancara mengenai rencana hidup. Hadeh. Mau tidak mau satu per satu pertanyaan dari para penghuni <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/apa-perempuan-harus-mencintai-dapur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dapur<\/a> rewang harus saya jawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun mulai menggunakan strategi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">basic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menghadapi pertanyaan-pertanyaan familiar ini. Menjawab seperlunya, tersenyum, kemudian pura-pura sibuk dengan pekerjaan. Barangkali ini memang jadi konsekuensi anak muda yang ikut <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minggir-sleman-ajari-slow-living-frugal-living-yang-benar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kegiatan kampung<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dapur menjelma menjadi panggung bergosip<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan bahwa ketika ibu-ibu berkumpul, obrolan akan berujung pada gosip ternyata bukan sekadar stereotip. Di dapur perewangan, saya justru menemukan buktinya secara langsung. Topik yang dibahas nggak ada habisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang nggak terlalu banyak bicara, saya cukup diam dan mendengar tanpa harus menimpali. Jujur saja, mendengar kalimat-kalimat pedas yang keluar dari mulut mereka, cukup menguras energi saya. Apa nggak capek ngomong sambil masak, pikir saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu teman laki-laki saya pernah nyeletuk, \u201cWah, kalau ibu-ibu di kampung yang sudah berkumpul, habis semua dibahas sama mereka.\u201d Dan kali ini saya setuju, karena saya mengalaminya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Slogan warga dukung <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">warga tidak berlaku di sini. Semua yang tampak tidak beres di mata mereka jadi bahan omongan di dapur seketika itu. Bahkan, menyindir bukan hal aneh lagi bagi mereka. Saya sampai berpikir, jangan-jangan dapur perewangan memang memiliki dua fungsi, tempat menyiapkan hidangan sekaligus pusat pertukaran informasi warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman perdana ini sukses membuat saya kapok sejenak. Jika besok-besok ada undangan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rewang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di kampung lagi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, sepertinya saya tidak cuma harus menyiapkan tenaga, tapi juga stok mental dan cadangan energi dua kali lipat lebih banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Siti Istiqomah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-istilah-di-hajatan-tegal-yang-membingungkan-bagi-banyak-orang\/\"><b><i>5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang<\/i><\/b><\/a><b>.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ikut rewang di kampung supaya srawung dan dikira tidak antisosial, malah berakhir trauma karena diajak nggosip melulu. <\/p>\n","protected":false},"author":3302,"featured_media":419509,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[45,322,1936,35140,9875,35139],"class_list":["post-419494","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-dapur","tag-desa","tag-gotong-royong","tag-rawang-di-desa","tag-rewang","tag-sosialisasi-desa"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419494","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3302"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419494"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419494\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":419511,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419494\/revisions\/419511"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/419509"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}