{"id":418514,"date":"2026-09-22T14:50:06","date_gmt":"2026-09-22T07:50:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=418514"},"modified":"2026-09-22T14:50:06","modified_gmt":"2026-09-22T07:50:06","slug":"3-alternatif-pekerjaan-di-jogja-dengan-penghasilan-lumayan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alternatif-pekerjaan-di-jogja-dengan-penghasilan-lumayan\/","title":{"rendered":"Jadi karyawan UMR kecil, buka usaha banyak pungli, berikut 3 alternatif pekerjaan di Jogja dengan penghasilan lumayan"},"content":{"rendered":"<p><em>Jadi karyawan, UMR-nya kecil. Jadi pengusaha, kena pungli. Lalu, apa alternatif pekerjaan di Jogja yang bisa kita coba dengan potensi pemasukan yang oke?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sebuah mitos yang cukup kuat tentang Jogja: kota ini murah untuk ditinggali. Murah katanya. Makan masih bisa dapat belasan ribu. Ngekos masih ada yang di bawah Rp1 juta. Naik motor keliling kota juga tidak perlu menghabiskan satu tangki bensin. Bahkan kalau beruntung, nongkrong di angkringan bisa membuat seseorang merasa sedang menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan filosofis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, ada satu hal yang sering lupa dihitung: penghasilan. Sebab hidup murah tidak akan terasa murah kalau pemasukan juga murah. Padahal, pekerjaan di Jogja itu seringnya berupah rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat orang yang bekerja sebagai karyawan dengan gaji sekitar upah minimum misalnya, persoalannya bukan cuma bagaimana membayar kos, makan, transportasi, pulsa, dan kebutuhan sehari-hari. Ada juga kebutuhan yang lebih manusiawi seperti sesekali ngopi, jalan-jalan, membeli sepatu, mentraktir pacar, atau sekadar punya tabungan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serta, jangan lupakan inflasi. Harga hidup naik perlahan-lahan, sementara gaji kadang naiknya seperti orang sedang menaiki tangga sambil membawa galon, pelan-pelan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu muncullah solusi klasik: \u201cKalau gajinya kecil, ya buka usaha.\u201d Nah, ini juga tidak semudah itu. Buka usaha sekarang tidak hanya membutuhkan modal, produk, strategi pemasaran, dan kemampuan jualan. Ada banyak urusan lain yang kadang bikin calon pengusaha lebih sibuk mengurus perizinan dan tetek bengek administrasi daripada mengurus dagangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau usahanya menyangkut tempat fisik, parkir, lingkungan, keamanan, dan berbagai pungutan yang entah resmi atau tidak resmi. Akhirnya orang Jogja dihadapkan pada pilihan yang agak lucu: jadi karyawan, gajinya segitu-gitu saja. Mau buka usaha, ternyata banyak tarikan ini itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tenang. Saya tidak akan menyuruh kalian menjadi content creator. Sudah terlalu banyak orang yang menyuruh demikian. Karena itu, mari kita coba mencari alternatif pekerjaan di Jogja yang agak masuk akal. Bukan berarti pasti menghasilkan segini-segitu, sebab penghasilan setiap orang jelas berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka di bawah ini adalah simulasi sederhana untuk menunjukkan potensi pasar, bukan janji pendapatan, layaknya 19juta lapangan pekerjaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Musisi jalanan: modal gitar, suara, dan keberanian menghadapi lampu merah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerjaan di Jogja pertama yang mungkin terdengar agak nyeleneh adalah menjadi musisi jalanan. Jangan buru-buru mengernyitkan dahi. Kalau selama ini kita melihat musisi jalanan sebagai orang yang sekadar menyanyi di lampu merah, coba kita lihat profesi ini menggunakan spreadsheet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya kita ambil asumsi sederhana. Lampu merah berlangsung sekitar satu menit. Lampu kemudian berubah hijau selama sekitar 30 detik. Artinya, satu siklus berlangsung kurang lebih 1 menit 30 detik. Dalam satu jam berarti ada sekitar 40 siklus. Kalau setiap kali lampu merah kita memperoleh minimal Rp2.000, maka: 40 \u00d7 Rp2.000 = Rp80.000 per jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika bekerja selama delapan jam seperti pekerja kantoran: Rp80.000 \u00d7 8 = Rp640.000 per hari. Kalau lima hari seminggu selama empat minggu: Rp640.000 \u00d7 20 hari = Rp12,8 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah. Tiba-tiba profesi musisi jalanan terdengar seperti pekerjaan yang layak dibahas di LinkedIn. Tentu saja, hitungan tersebut sangat sederhana dan tidak memperhitungkan kondisi nyata. Tidak setiap lampu merah akan menghasilkan Rp2.000. Tidak semua siklus lampu merah memungkinkan seseorang tampil. Ada hujan, polisi, lokasi yang tidak ramai, pengendara yang tidak memberi uang, sampai kemungkinan diusir dari lokasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupa: delapan jam berdiri di pinggir jalan bukan perkara ringan. Jadi angka Rp12,8 juta tadi jangan dibaca sebagai \u201cpengamen pasti dapat Rp12,8 juta sebulan\u201d. Itu adalah simulasi matematis berdasarkan asumsi tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun justru di situlah menariknya. Kita sering kali terlalu cepat menganggap pekerjaan tertentu tidak punya potensi ekonomi hanya karena status sosialnya tidak dianggap keren. Padahal kalau seseorang punya kemampuan musik yang bagus, punya repertoar lagu yang disukai orang, tahu lokasi yang ramai, punya komunitas, bahkan mampu membuat konten dari aktivitasnya, pekerjaan tersebut bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih besar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Alternatif pekerjaan di Jogja paling oke: fotografer atau videografer wisuda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada satu jenis pasar yang tidak pernah habis di Jogja, salah satunya adalah mahasiswa. Mahasiswa datang, kuliah, mengerjakan skripsi, lalu wisuda. Kemudian adiknya datang menggantikan. Begitu seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memiliki banyak perguruan tinggi. Artinya, ada pula pasar wisuda yang berulang setiap tahun. Bayangkan saja ada sekitar 130 perguruan tinggi yang menjadi pasar potensial. Kita gunakan asumsi sederhana bahwa rata-rata masing-masing perguruan tinggi mengadakan tiga kali periode wisuda dalam setahun. Maka: 130 \u00d7 3 = 390 periode wisuda per tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita masuk ke jasa fotografi. Misalnya kamu memasang tarif Rp150.000 per jam. Seorang wisudawan biasanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sesi foto. Berarti satu sesi: Rp150.000 \u00d7 2 = Rp300.000. Kalau kita menggunakan angka 390 periode wisuda tadi dan menganggap hanya mendapatkan satu sesi pelanggan dari masing-masing periode: 390 \u00d7 Rp300.000 = Rp117 juta per tahun. Kalau dibagi 12 bulan: Rp9,75 juta per bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, ini bukan berarti seorang fotografer wisuda di Jogja otomatis memperoleh Rp9,75 juta setiap bulan. Itu simulasi kasar. Realitasnya, ada bulan ramai dan ada bulan sepi. Ada periode wisuda yang ramai sekali dan ada yang tidak terlalu ramai. Belum dipotong biaya kamera, lensa, transportasi, baterai, memori, laptop, editing, maintenance, dan tentu saja waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ada satu hal yang membuat bisnis fotografi wisuda menarik: satu periode wisuda tidak hanya menghasilkan satu pelanggan. Satu kampus bisa meluluskan ratusan bahkan ribuan mahasiswa dalam satu periode. Dan mereka semua punya kebutuhan yang samaL foto dengan toga, orang tua, pacar, teman, sembari memegang ijazah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang fotografer yang sudah dikenal mahasiswa bahkan bisa mendapatkan beberapa klien dalam satu hari wisuda. Pagi memotret mahasiswa A. Siang mahasiswa B. Sore mahasiswa C. Malam mengedit semuanya. Kalau sudah sampai tahap itu, bisnisnya bukan lagi sekadar \u201cpunya kamera\u201d. Yang dijual adalah skill, reputasi, dan kepercayaan. Dan itu jauh lebih susah ditiru.<\/span><\/p>\n<h2><b>Agency atau konsultan remote: tinggal di Jogja, kliennya jangan ikut tinggal di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini mungkin pilihan yang paling menarik bagi orang yang sudah punya skill profesional. Misalnya kamu bekerja di bidang komunikasi, public relations, digital marketing, desain, software development, data, atau bidang lain yang pekerjaannya bisa dilakukan menggunakan laptop dan internet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuncinya sederhana: Jangan hanya mencari klien di sekitar tempat tinggal. Kalau tinggal di Jogja tetapi hanya mencari perusahaan Jogja, penghasilanmu berpotensi ikut terikat dengan ekonomi lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal laptop tidak peduli kamu bekerja dari Bulaksumur, Jakarta, Singapura, atau bahkan warung kopi. Yang penting internetnya tidak mati. Yang penting pasarnya bukan Jogja. Ini yang menurut saya menarik. Sebab salah satu cara meningkatkan pendapatan tanpa harus pindah kota adalah menjual keahlian ke pasar yang daya belinya lebih tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja ada syaratnya. Pasar tidak membayar kita hanya karena kita bisa. Pasar membayar ketika kemampuan tersebut menyelesaikan masalah. Karena itu, pekerjaan agency atau konsultan membutuhkan skill, portfolio, reputasi, dan relasi. Kalau sudah dipercaya, nilai proyeknya juga bisa jauh berbeda dibandingkan pekerjaan satuan. Satu proyek komunikasi bisa bernilai puluhan juta. Proyek teknologi bisa lebih besar lagi. Agency dengan beberapa klien bahkan bisa memiliki pendapatan bulanan yang cukup besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun konsekuensinya juga jelas: penghasilannya tidak selalu stabil. Bulan ini dapat proyek Rp100 juta. Bulan depan dapat Rp10 juta. Tapi, bisa jadi bulan berikutnya malah dapat email: \u201cMas, untuk sementara project-nya kita hold dulu ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, menjadi freelancer atau konsultan bukan berarti hidup tanpa masalah. Masalahnya hanya berganti bentuk. Tetapi setidaknya ada peluang untuk menentukan harga berdasarkan nilai pekerjaan, bukan semata-mata berdasarkan standar upah daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, saya baru kepikiran tiga saja. Karena memang pekerjaan yang pendapatannya lumayan saat ini sesusah itu. Jadi karyawan <a href=\"https:\/\/yogyakarta.bps.go.id\/id\/statistics-table\/2\/MjcyIzI=\/upah-minimum-kabupaten-upah-minimum-provinsi-di-di-yogyakarta.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR-nya rendah<\/a>, buka usaha banyak punglinya. Tapi yang jelas, rezeki itu sudah tertakar dan tidak akan tertukar.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Haqqi Hidayatullah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pekerjaan-di-jogja-yang-bisa-mendatangkan-kekayaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi karyawan, UMR-nya kecil. Jadi pengusaha, kena pungli. Lalu, apa alternatif pekerjaan di Jogja yang bisa kita coba dengan potensi pemasukan yang oke?<\/p>\n","protected":false},"author":2962,"featured_media":418546,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[35029,115,35030,35028],"class_list":["post-418514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-fotografer-wisuda-jogja","tag-jogja","tag-musisi-di-jogja","tag-pekerjaan-di-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/418514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2962"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=418514"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/418514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":418551,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/418514\/revisions\/418551"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/418546"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=418514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=418514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=418514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}