{"id":418457,"date":"2026-09-22T13:40:29","date_gmt":"2026-09-22T06:40:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=418457"},"modified":"2026-09-22T13:40:29","modified_gmt":"2026-09-22T06:40:29","slug":"lamongan-bisa-lebih-unggul-dari-tuban-kalau-pemkab-berani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-bisa-lebih-unggul-dari-tuban-kalau-pemkab-berani\/","title":{"rendered":"Lamongan bisa lebih unggul dari Tuban kalau Pemkab berani benahi persoalan mendasar ini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Lamongan yang berada di lanskap Pantura, ada satu dinamika menarik yang sering bikin kita mengelus dada saat menengok kabupaten tetangga: Tuban. \u00a0 <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas panggung citra daerah, Tuban sering kali dipandang lebih garang. Mereka punya kilang minyak, hingga pabrik semen kelas berat membuat Tuban kerap dilabeli sebagai magnet investasi dan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/tuban-hidup-dari-geliat-industri-dan-karomah-para-wali-dcNP\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">raksasa ekonomi baru<\/a> di pesisir utara Jawa Timur. Sementara Lamongan, sering kali hanya dianggap sebagai daerah perlintasan, penghasil soto, atau destinasi kuliner dan tempat lewat kendaraan antarkota semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kalau kita mau sedikit lebih jeli membedah data dan mengesampingkan kepasrahan, posisi Lamongan itu tidak seburuk yang dibayangkan. Kita ini punya potensi besar untuk mengejar, bahkan sangat bisa lebih unggul dari Tuban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, unggul yang saya maksud bukan dengan cara meniru persis gaya pembangunan Tuban yang mengepulkan asap industri di mana-mana. Atau sekadar sibuk bikin proyek estetis yang bagus untuk diunggah di Instagram Pemkab demi pencitraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan bisa melompat jauh melampaui Tuban kalau Bupati dan jajaran Pemkab berani berbenah secara radikal pada persoalan mendasar berikut ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kualitas SDM: jangan sampai warlok cuma jadi penonton di rumah sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembangunan daerah itu bukan cuma soal seberapa banyak jalanan yang diaspal mulus. Atau, berapa banyak gedung megah yang diresmikan, atau berapa triliun nilai investasi yang masuk. Semua itu akan muspra kalau masyarakat lokalnya tidak memiliki kapasitas untuk menikmati kue pertumbuhan ekonomi tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Struktur pendidikan dan kompetensi tenaga kerja di Lamongan masih menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk. Ketika industri atau ekosistem ekonomi modern berkembang, sementara mayoritas tenaga kerja kita belum dibekali keterampilan spesifik yang sesuai kebutuhan zaman, jangan heran kalau warga lokal cuma jadi penonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perusahaan atau investor datang membawa modal, tapi warga asli Lamongan cuma kebagian tugas memasang spanduk peresmian, jadi juru parkir proyek, atau penyedia warung kopi instan di depan gerbang pabrik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemkab Lamongan harus lebih serius mengaitkan antara vokasi, pelatihan kerja, dan sektor prioritas yang ingin dikembangkan daerah. Persiapkan anak-anak muda Lamongan agar punya skill kompetitif. Tanpa pembangunan SDM yang presisi, Lamongan hanya akan jadi tempat yang ramah buat pengusaha luar. Tapi kurang ramah buat anak kandungnya sendiri untuk mencari penghidupan yang layak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukan cuma menyediakan lapangan kerja, tapi pastikan kerjanya layak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat statistik pengangguran daerah memang sering bikin terlena. Tapi, jangan buru-buru dipajang buat bahan gagah-gagahan kalau mayoritas warga yang bekerja masih mengandalkan sektor informal dengan pendapatan yang tidak pasti dan tanpa perlindungan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak warga kita yang bekerja di sektor usaha mikro, pertanian skala kecil, atau pekerjaan lepas yang produktivitasnya rendah. Mereka bekerja bukan karena ekonominya sudah sejahtera, melainkan karena tidak punya pilihan lain untuk sekadar bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemkab Lamongan harus mengubah kacamata dalam melihat persoalan ketenagakerjaan. Target pembangunan tidak boleh berhenti pada angka &#8220;yang penting tidak menganggur&#8221;, melainkan bagaimana menciptakan pekerjaan yang bernilai tambah tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Investasi yang masuk ke Lamongan harus diarahkan untuk membangun rantai ekonomi yang melibatkan UMKM dan pelaku usaha lokal. Jangan biarkan pertumbuhan ekonomi hanya indah dalam laporan akuntabilitas kinerja tahunan pemerintah, tapi isi dompet warga lokal tetap kempis tak berdaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Olah potensi dari hulu ke hilir di Lamongan, jangan cuma jadi bahan konten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan itu tidak miskin potensi. Kita punya sektor pertanian yang melimpah, perikanan pesisir yang luar biasa besar, destinasi wisata yang ciamik, hingga posisi strategis di jalur komersial Pantura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi masalah klasik kita adalah, kita rajin menggembar-gemborkan potensi, tapi malas menghitung berapa nilai tambah (value added) yang benar-benar tinggal di daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama petani dan nelayan kita hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, maka porsi keuntungan terbesar akan selalu dinikmati oleh tengkulak dan rantai industri pengolahan di luar daerah. Memiliki bahan baku dan memiliki industri pengolahan adalah dua hal yang sangat berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemkab Lamongan harus berani memikirkan ekosistem ekonomi dari hulu sampai hilir. Bangun industri pengolahan lokal, perbaiki akses pasar, dan fasilitasi anak-anak muda untuk masuk ke hilirisasi produk lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi daerah itu seperti bahan makanan di dalam lemari es. Kalau cuma dipamerkan di media sosial dan disimpan terus tanpa diolah secara profesional, lama-lama bakal busuk dan basi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, sekali lagi, jika tiga hal ini dibenahi dengan niat yang jujur dan konsisten, Tuban yang harusnya cemas melihat lompatan Lamongan di masa depan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebagai-warga-asli-lamongan-saya-risih-ketika-ada-yang-menyebut-lamongan-kota\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika tiga hal ini dibenahi dengan niat yang jujur dan konsisten, Tuban yang harusnya cemas melihat lompatan Lamongan di masa depan.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":417223,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[35027,2250,10749],"class_list":["post-418457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-industri-di-tuban","tag-lamongan","tag-tuban"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/418457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=418457"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/418457\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":418518,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/418457\/revisions\/418518"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417223"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=418457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=418457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=418457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}