{"id":417757,"date":"2026-09-17T13:03:43","date_gmt":"2026-09-17T06:03:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417757"},"modified":"2026-09-17T13:03:43","modified_gmt":"2026-09-17T06:03:43","slug":"sekarang-lebih-pilih-naik-bus-karena-harga-tiket-kereta-api-mahal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sekarang-lebih-pilih-naik-bus-karena-harga-tiket-kereta-api-mahal\/","title":{"rendered":"Saya beralih naik bus karena harga tiket kereta api semakin mencekik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ramai di Threads perihal warganet yang resah soal harga tiket kereta api yang dianggap makin mahal. Akun KAI pun terlihat memberikan jawaban yang kesannya terlalu normatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya mereka menyebutkan bahwa tarif KA komersial bersifat dinamis, bisa berubah sesuai kelas, rute, tanggal keberangkatan, dan kondisi permintaan. Selama masih berada di antara tarif batas bawah dan batas atas, harga tersebut sudah sesuai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, yang dipersoalkan bukan harganya yang bersifat dinamis, tapi kenaikannya yang memang terlalu tinggi. Bisa naik puluhan bahkan ratusan ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih gambaran dengan melihat KA Matarmaja rute Malang-Jakarta. Pada Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2024, tarif tiketnya tertera sekitar Rp270 ribu untuk subclass CA, Rp280 ribu untuk CB, sampai Rp290 ribu untuk CC. Namun, pada 2026, tiket dengan rute yang sama sudah berada di sekitar Rp350 ribu. Artinya ada kenaikan 30 persen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi serupa juga dilihat dari KA Gaya Baru Malam Selatan rute Surabaya\u2013Jakarta. Pada akhir tahun 2024, tarif <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keunggulan-kereta-api-eksekutif-yang-tidak-akan-dipahami-kaum-mendang-mending\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tiket kelas ekonominya<\/a> di kisaran Rp320 ribu sampai Rp390 ribu. Saat ini sudah menyentuh lebih dari Rp440 ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu belum berbicara layanan bisnis atau eksekutif yang kenaikannya bisa jauh lebih tinggi. Situasi ini membuat masyarakat menganggap bahwa kereta api adalah pilihan ekonomis yang mulai terasa mahal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada d<i>ynamic pricing<\/i><\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu alasan yang bisa jadi penyebab kenaikan harga tiket kereta api adalah soal <a href=\"https:\/\/www.jurnal.id\/id\/blog\/dynamic-pricing-strategy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>dynamic pricing<\/em><\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi pada prinsipnya KAI dapat menjual tiket dengan harga yang tidak tetap untuk satu subkelas. Dalam subkelas yang sama misalnya, tarifnya bisa berbeda satu sama lain meski kelas pelayanan yang diberikan tetap sama. Besarnya tarif ditentukan oleh rentang tarif batas bawah dan atas. Sementara kesediaan tiap subkelas bisa disesuaikan dengan permintaan konsumen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah yang membuat dua orang yang naik kereta dan fasilitas yang sama bisa membayar tiket dengan harga yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatikan baik-baik, ketika jadwal keberangkatan masih jauh-jauh hari dan permintaan masih rendah, tiket subkelas yang lebih murah umumnya bisa lebih mudah ditemukan. Sebaliknya ketika mendekati keberangkatan dan permintaan tinggi karena akhir pekan atau musim liburan, maka harganya jauh lebih mahal karena tiket murahnya sudah habis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa bisa seperti itu? Jadi dalam satu kali perjalanan, KAI akan menjual tiket dengan tarif yang berbeda menurut subkelas. Misalnya dalam kelas ekonomi bisa ada CC, CB, CA, C, P, Q, atau S. Masing-masing punya harga sendiri meski fasilitasnya sama. Penumpang yang membeli lebih awal biasanya berpeluang mendapatkan tiket subkelas dengan harga yang lebih rendah. Sebaliknya ketika subkelas murah sudah habis, pilihan yang tersisa adalah subkelas dengan harga yang lebih tinggi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa KAI harga tiket kereta api menggunakan menerapkan skema ini?\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan lanjutannya, mengapa KAI memberlakukan skema<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> dynamic pricing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini? KAI berdalih bahwa skema ini digunakan agar penjualan tiket menjadi lebih optimal dengan mempertimbangkan sepi atau ramainya permintaan. Saat banyak orang ingin bepergian, harga bisa lebih tinggi. Sebaliknya, ketika sedang sepi, KA bisa menawarkan tarif yang lebih rendah atau bahkan promo agar kursi tetap terisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu berangkat dari permintaan terhadap tiket kereta yang tidak pernah merata. Fluktuasinya bisa begitu kentara antara hari biasa, akhir pekan, atau libur nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam situasi begitu, menjual tiket dengan satu harga yang sama membuat KAI berpotensi kehilangan kesempatan mendapatkan pendapatan lebih tinggi sekaligus menanggung biaya operasional lebih besar apabila seluruh kursi tidak terisi penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pada intinya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> dynamic pricing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat KAI dapat melakukan dua hal yaitu mendorong penjualan tiket ketika permintaan rendah agar kursi terisi dan memaksimalkan pendapat ketika permintaan sedang tinggi. Makanya nggak heran kalau ada yang memperoleh harga tiket yang jauh lebih mahal dari sebelumnya. Meski begitu, skema ini memang tidak diberlakukan untuk seluruh harga tiket kereta api.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, terlepas dari itu, saya punya asumsi lain mengapa KAI begitu repot-repot memberlakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dynamic pricing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu saya ingatkan bahwa KAI sekarang bukan perusahaan yang cuma membawahi persoalan kereta api antar kota. Ada berbagai investasi besar lain dengan tenor panjang dan beban bunga tinggi yang yang ditanggungnya, salah satunya proyek <\/span><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/articles\/c70l84en7x0o\"><span style=\"font-weight: 400;\">Whoosh<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua tahu bahwa proyek ini masih mencatat kerugian triliunan rupiah. Oleh karena itu sulit untuk tidak mengaitkannya dengan pola penggunaan tarif yang dilakukan oleh KAI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi ekonomi saat ini, tentu jadi sangat masuk akal ketika orang mulai mempertimbangkan moda transportasi lainnya. Saya pribadi akan memilih menggunakan bus.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tarif bus lebih masuk akal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih perbandingan harga saja. Rute Malang-Jakarta dari berbagai PO dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sleeper-bus-mulai-jadi-favorit-jegal-popularitas-kereta-eksekutif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bus VIP atau eksekutif<\/a> sudah bisa diperoleh dengan harga Rp300 ribu \u2013 Rp350 ribu. Sudah dapat snack, makan, bantal, selimut, dan legrest. Memang, bus punya masalah soal macet. Tapi, banyak dari mereka melakukan perjalanan malam dan sudah via tol. Sehingga potensi terjebak macet bisa berkurang. Kecuali saat libur nasional, musim mudik lebaran, atau ada insiden kecelakaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau lebih nyaman lagi, ada sleeper bus yang tarifnya kisaran Rp450 ribu \u2013 650 ribuan untuk rute yang sama. Bandingkan dengan kereta eksekutif yang bisa jadi di angka Rp700 ribuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya saya tetap mempertimbangkan harga tiket kereta api setiap kali ingin berpergian jauh. Hanya saja, saat ini kereta tidak otomatis menjadi prioritas. Kalau perjalanan tidak terlalu mendesak dan ada pilihan menggunakan bus, maka saya lebih memilih menggunakan bus. Harga lebih murah, tetap bisa tidur, dapat makan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ka-prameks-juru-selamat-warga-purworejo\/\"><b><i>KA Prameks, Juru Selamat Warga Purworejo dari Rutinitas Motoran ke Jogja yang Melelahkan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Harga tiket kereta api yang makin mahal membuat pelanggannya beralih naik bus. Walau ada kemungkinan macet, harga tiketnya lebih terjangkau. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":417763,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[12903],"tags":[483,34968,15268,30598,29167,1154],"class_list":["post-417757","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-bus","tag-harga-kereta-api","tag-harga-tiket","tag-harga-tiket-kereta-api","tag-ka","tag-kereta-api"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417757","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417757"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417757\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417764,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417757\/revisions\/417764"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417763"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417757"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417757"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417757"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}