{"id":417695,"date":"2026-09-18T11:01:54","date_gmt":"2026-09-18T04:01:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417695"},"modified":"2026-09-18T11:01:54","modified_gmt":"2026-09-18T04:01:54","slug":"sudah-waktunya-tuban-memperbarui-identitasnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-waktunya-tuban-memperbarui-identitasnya\/","title":{"rendered":"Setelah 16 tahun menetap, saya rasa sudah waktunya Tuban memperbarui identitasnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya satu keluhan yang sampai sekarang belum selesai selama tinggal di Tuban: panas. Datang dari daerah kidulan Jawa Timur yang udaranya cenderung lebih dingin, membuat saya sejak awal-awal tinggal di sini saya sering bertanya: Kok iso ya orang-orang betah aktivitas di bawah matahari yang panase koyo ngene.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, panas itu ternyata bukan alasan saya kapok tinggal di sini. Dari beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur yang pernah menjadi tempat tinggal saya, Tuban justru menjadi satu-satunya daerah yang punya laut. Karena itu, ketika pertama kali datang sekitar 16 tahun lalu, hal yang membuat saya jatuh cinta dan menjadi kemewahan tersendiri terhadap Tuban, aalah satunya sebab saya suka lautnya. Ternyata rasa suka itu cukup untuk membuat saya bertahan sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 16 tahun tersebut, saya kemudian melihat Tuban berubah sedikit demi sedikit. Dulu, ketika ditanya tempat wisata di Tuban, nama yang gampang muncul di kepala saya mungkin <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pemandian_Bektiharjo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pemandian Bektiharjo<\/a>. Sebab, masih ada hubungannya dengan laut\u2014sama-sama air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang pilihannya mulai semakin beragam karena masyarakat juga semakin giat mengembangkan potensi wisata yang mereka punya, salah satunya bisa dilihat dari perkembangan Pantai Kelapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan itu ternyata tidak hanya terjadi di sektor pariwisata. Wajah kota juga ikut bergeser. Dulu misalnya, kalau ingin menonton film di bioskop atau sekadar merasakan suasana pusat perbelanjaan modern, kami diharuskan pergi ke daerah tetangga. Sekarang fasilitas semacam itu sudah mulai hadir di Tuban. Sementara pembangunan infrastruktur, kawasan industri, dan berbagai investasi membuat daerah ini semakin sering dibicarakan dalam konteks pertumbuhan ekonomi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tuban ingin dikenal sebagai apa?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena melihat perubahan itu dari dekat selama bertahun-tahun, saya kemudian punya pertanyaan yang awalnya sederhana. Sebenarnya, Tuban sekarang ingin dikenal sebagai apa? Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam obrolan tengah malam sambil nyeruput kopi bersama beberapa kawan kerja selepas berdinas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin dipikirkan, rasanya masuk akal juga kalau Tuban mulai memikirkan kembali identitas yang dapat dijadikan nilai tawar bernilai tinggi bagi orang lain di luar kabupaten perbatasan Jawa Timur ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini kita punya satu identitas yang cukup melekat, yaitu Bumi Wali. Identitas itu tentu bukan muncul tanpa alasan. Tuban memang punya jejak sejarah Islam yang kuat dan sejumlah makam tokoh wali serta ulama yang menjadi bagian penting dari sejarah daerah ini. Pemerintah Kabupaten Tuban sendiri tercatat dalam mesin pencari masih menggunakan Bumi Wali sebagai salah satu julukan yang melekat pada daerah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, di sinilah saya mulai merasa ada yang mengganjal. Ketika Cirebon juga dikenal sebagai Kota Wali dan Demak secara resmi memperkenalkan diri sebagai Kota Wali, sementara Kudus juga punya julukan Kota Wali\u2014selain Kota Kretek, saya jadi bertanya-tanya: kalau semua punya wali, apa yang membuat Tuban menjadi Tuban Bumi Wali?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti Bumi Wali harus dibuang. Saya juga tidak sedang mengusulkan agar makam para wali tiba-tiba dianggap tidak penting hanya karena urusan branding. Masalahnya lebih sederhana. Setelah 16 tahun melihat Tuban banyak berubah dan berbenah, saya merasa daerah ini punya terlalu banyak cerita lain yang juga layak ditawarkan kepada orang luar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hal-hal lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada laut yang sejak awal membuat saya jatuh cinta. Ada pariwisata yang mulai berkembang. Juga, ada masyarakat yang mulai mengolah potensi kreatifnya. Ada industri, kuliner, sejarah, budaya, dan sekarang ada pula fasilitas kota yang dulu terasa seperti milik daerah lain. Rasanya sayang kalau semua perubahan itu hanya menjadi catatan kaki dari sebuah identitas yang sudah lama dipakai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah saya teringat pengalaman tidak mengenakkan saya dengan KTP. Bayangkan Tuban hendak naik kereta dari Stasiun Gambir dengan membawa KTP yang fotonya dibuat belasan-puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu. Ketika wajahnya diperiksa, ia mungkin akan tertahan karena wajahnya sudah benar-benar berbeda. Bukan karena identitasnya salah, tetapi karena foto lamanya sudah tidak cukup menggambarkan banyaknya perubahan dirinya yang sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira Tuban sedang berada dalam situasi semacam itu. Identitas lamanya tidak salah, tetapi mungkin sudah waktunya memperbarui cara daerah ini memperkenalkan dirinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau daerah lain bisa menemukan satu kata yang terasa begitu melekat, seperti Lamongan dengan \u201cMegilan\u201d, Malang dengan \u201cMbois\u201d, atau Bojonegoro dengan \u201cMatoh\u201d-nya, mengapa Tuban tidak mencoba mencari satu kata yang benar-benar terasa sebagai Tuban?<\/span><\/p>\n<h2><b>Bayangan tentang Tuban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu mencari kata itu tidak sesederhana memilih istilah yang terdengar keren lalu mencetaknya besar-besar di baliho. Kata tersebut harus punya akar dalam kehidupan masyarakat Tuban, mudah diingat, tidak terasa dibuat-buat, dan yang paling penting punya daya pembeda. Sebab kalau orang mendengar kata itu, harapannya bukan sekadar tahu bahwa kata tersebut adalah slogan sebuah daerah, tetapi langsung punya bayangan tentang Tuban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kata itu berkaitan dengan lautnya. Bisa juga dengan karakter masyarakatnya, sejarahnya, atau bahkan sesuatu yang selama ini kita anggap terlalu biasa untuk dijadikan identitas. Saya sendiri belum tahu jawabannya. Justru itu yang membuat saya merasa pencarian ini menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mungkin sudah waktunya Tuban memperbarui foto KTP-nya. Wajahnya sudah banyak berubah, tinggal mencari satu kata yang benar-benar terasa sebagai Tuban. Jangan sampai setelah 16 tahun berbenah, orang justru mengenalnya cuma karena satu hal: panas.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yavid Rahmat Perwita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tuban-kota-elite-branding-sulit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tuban, Kota Elite Branding Sulit: Kabupaten yang Takdirnya Memang Sulit Terkenal, Diusahain pun Percuma<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin sudah waktunya Tuban memperbarui identitasnya. Wajahnya sudah banyak berubah, dan orang mulai lupa.<\/p>\n","protected":false},"author":3339,"featured_media":340410,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34983,34981,10749,34982],"class_list":["post-417695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-branding-tuban","tag-julukan-kota-tuban","tag-tuban","tag-tuban-kota-wali"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3339"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417695"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":418039,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417695\/revisions\/418039"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/340410"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}