{"id":417475,"date":"2026-09-15T12:12:17","date_gmt":"2026-09-15T05:12:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417475"},"modified":"2026-09-15T13:47:17","modified_gmt":"2026-09-15T06:47:17","slug":"kebiasaan-orang-palembang-yang-dulu-bikin-syok-kini-terbiasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasaan-orang-palembang-yang-dulu-bikin-syok-kini-terbiasa\/","title":{"rendered":"4 kebiasaan orang Palembang yang bikin orang Lampung seperti saya syok, untungnya sekarang sudah terbiasa dan adaptasi"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Orang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mencoba-memahami-alasan-orang-orang-betah-tinggal-di-kota-bandar-lampung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lampung<\/a> seperti saya ternyata mengalami culture shock juga saat merantau ke Palembang.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau ke tempat baru ternyata bukan cuma soal meninggalkan rumah, membawa koper, lalu mencari tempat tinggal. Ada banyak hal baru yang mau tidak mau harus kita kenali. Mulai dari bahasa, makanan, kebiasaan sehari-hari, sampai cara orang belanja di pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri pertama kali merantau ke Palembang pada 2019. Saat itu tujuan saya sederhana, kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang. Tidak pernah terpikir kalau beberapa tahun kemudian saya masih akan tinggal di kota ini. Bahkan, pada 2026, saya sudah bekerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Palembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebenarnya bukan orang Lampung asli dalam hal suku. Saya lahir dan besar di Lampung, tetapi saya adalah orang Jawa. Jadi, sebelum datang ke Palembang, keseharian saya lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan keluarga yang berlatar belakang Jawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika pertama kali datang ke Palembang, tentu saja saya menemukan banyak hal yang berbeda dari kebiasaan saya di rumah. Namanya juga tinggal di tempat orang, kita pasti belajar menyesuaikan diri. Berikut beberapa hal yang cukup membuat saya <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-anak-rantau-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> ketika pertama kali merantau ke Palembang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kaget dengan bahasa Palembang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang paling saya rasakan adalah bahasa. Waktu pertama kali mengikuti kegiatan MPLS di kampus, saya bertemu dengan banyak teman baru yang mayoritas merupakan orang Palembang. Mereka tentu saja berbicara dengan gaya bahasa yang sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, bagi telinga saya yang baru pertama kali mendengarnya secara langsung, bahasa Palembang terdengar cukup tegas. Bahkan, awalnya saya sempat berpikir, \u201cKok ngomongnya seperti marah, ya?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal sebenarnya mereka tidak sedang marah. Mungkin karena saya terbiasa dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-bicara-bahasa-jawa-banyumasan-biar-cepat-akrab-dengan-warga-lokal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara bicara orang Jaw<\/a>a yang menurut saya cenderung lebih kalem, sehingga ketika mendengar gaya bicara yang lebih tegas, telinga saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal menariknya, saya juga merasa ada sedikit kemiripan dengan gaya bicara yang sering saya dengar dari orang Lampung. Kadang terdengar seperti membentak, padahal sebenarnya sedang berbicara biasa saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kaget dengan cara makan pempek <\/b><b>Palembang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang tidak tahu pempek? Makanan khas Palembang yang satu ini sepertinya sudah sangat terkenal di mana-mana. Saya sendiri sudah tahu pempek sejak sebelum datang ke Palembang. Namun, mengetahui pempek dan mengetahui cara orang Palembang makan pempek adalah dua hal yang berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya baru mengetahui satu kebiasaan yang cukup membuat saya heran ketika pertama kali makan pempek di Palembang. Cukonya diminum! Iya, diminum langsung dari mangkuk kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, ini cukup mengejutkan karena sejak dulu kalau saya dan keluarga makan pempek, cuko biasanya ditaruh di mangkuk yang cukup besar. Pempek dipotong-potong, kemudian direndam atau dicelupkan ke dalam cuko, lalu dimakan menggunakan sendok. Kurang lebih seperti sedang makan bakso.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ketika melihat orang makan pempek dengan cara yang berbeda, saya sempat berpikir, \u201cOh, ternyata begini cara orang Palembang makan pempek.\u201d Maklum, bukan orang Palembang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kaget dengan pindang patin\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau yang satu ini bukan karena tidak suka. Justru saya suka sekali <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pindang_Ikan_Patin\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pindang patin<\/a>. Sejak di rumah, saya memang sudah terbiasa makan pindang patin. Ibu saya sering membuatnya dan saya suka sekali dengan masakannya. Namun, ternyata pindang patin buatan ibu saya dan pindang patin yang saya temui di Palembang punya tampilan yang cukup berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pindang patin buatan ibu saya biasanya berkuah bening. Ketika pertama kali makan pindang patin di Palembang, saya langsung berpikir, \u201cLho, kok beda?\u201d Kuahnya lebih pekat dan kaya rempah. Ada cabai merah, cabai rawit, nanas, tomat, dan berbagai bumbu lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, setelah dicicipi, ternyata pindang patin oalahan ala warlok Palembang ini ternyata enak juga. Bahkan, bisa dibilang rasanya lebih \u201cnendang\u201d. Walau begitu, kalau ditanya mana yang lebih enak, saya tetap tidak bisa memilih. Pindang Palembang enak, tetapi pindang patin buatan ibu tetap punya tempat khusus di hati saya. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kaget dengan cara belanja di pasar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal terakhir yang cukup membuat saya terkejut adalah cara berbelanja di pasar. Sebelum tinggal di Palembang, saya memiliki kebiasaan belanja yang cukup berbeda. Di tempat saya tinggal di Lampung, kalau ingin membeli bahan makanan di pasar, biasanya saya menyebutkan jumlah atau berat yang ingin dibeli.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, \u201cBu, cabenya satu kilogram.\u201d Jadi jumlahnya sudah ditentukan dari awal. Ketika pertama kali berbelanja di pasar Palembang, saya baru mengetahui bahwa ternyata tidak selalu harus membeli dalam jumlah tertentu. Mau beli cabai lima ribu rupiah, bisa. Mau beli kentang satu biji, juga bisa. Bagi saya, cara seperti ini justru terasa lebih praktis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi kalau sedang tinggal sendiri sebagai<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/3-dosa-anak-kos-yang-nggak-bersyukur-punya-dapur-bersama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> anak kos<\/a>. Kita tentu tidak membutuhkan bahan makanan dalam jumlah banyak. Mau beli satu atau dua buah saja bisa disesuaikan dengan kebutuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa hal yang cukup membuat saya syok ketika pertama kali merantau ke Palembang. Sebenarnya, kalau dipikir lagi, semuanya bukan sesuatu yang aneh. Hanya saja, kebiasaan yang berbeda memang terasa aneh ketika pertama kali kita temui.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya mungkin bingung. Kadang juga salah tingkah. Tetapi lama-kelamaan kita belajar memahami dan menyesuaikan diri. Pada akhirnya, merantau membuat saya sadar bahwa perbedaan kebiasaan bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Justru dari perbedaan itulah kita punya cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marcelina Rina Wahyuni<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/palembang-tanpa-pempek-cuma-kota-biasa-nggak-ada-istimewanya\/\"><b><i>Palembang Tanpa Pempek Cuma Kota Biasa, Nggak Ada Istimewanya.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Lampung yang merantau ke Palembang ternyata juga bisa mengalami beberapa culture shock, tapi lama-lama terbiasa dan adaptasi juga. <\/p>\n","protected":false},"author":2013,"featured_media":417492,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[2921,6303,34,1418,7729,5807,34941],"class_list":["post-417475","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-culture-shock","tag-lampung","tag-mahasiswa","tag-merantau","tag-palembang","tag-perantau","tag-syok"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2013"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417475"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417475\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417514,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417475\/revisions\/417514"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}