{"id":417428,"date":"2026-09-15T15:27:02","date_gmt":"2026-09-15T08:27:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417428"},"modified":"2026-09-15T15:29:10","modified_gmt":"2026-09-15T08:29:10","slug":"pikir-ulang-sebelum-bagi-nasi-berkat-tahlilan-repot-dan-mubazir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pikir-ulang-sebelum-bagi-nasi-berkat-tahlilan-repot-dan-mubazir\/","title":{"rendered":"Pikir dua kali sebelum bagi-bagi nasi berkat tahlilan karena merepotkan dan rawan mubazir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi berkat dari tahlilan meninggalkan kenangan tersendiri. Di daerah tempat tinggal saya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-orang-tegal-itu-berat-tapi-saya-tidak-menyesal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tegal<\/a>, nasi berkat biasanya berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk. Ada ayam atau daging sapi, kentang balado, tempe orek, telur rebus, mi goreng, hingga kerupuk udang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi berkat di zaman saya kecil dahulu memang mirip dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-tegal-mikir-seribu-kali-sebelum-makan-di-warteg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warung Tegal atau warteg<\/a>. Dan, dulu nasi berkat seperti itu hampir selalu punya nasib baik. Begitu dibuka, anak-anak ikut makan. Orang tua ikut makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau masih ada nasi tersisa, biasanya tidak dibiarkan begitu saja. Keesokan harinya bisa diolah menjadi nasi goreng dengan bumbu sederhana. Hampir tidak ada bagian yang sia-sia dari nasi berkat dari tahlilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, waktu saya masih anak-anak dulu, nasi berkat bak primadona. Ditunggu-tunggu. Meski mengantuk berat dan menguap berkali-kali, anak-anak masih setia menunggu para bapak-bapak pulang dari tahlilan. Nasi berkat seperti hadiah kecil yang ditunggu setelah bapak menghadiri tahlilan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nasi berkat mulai ditinggalkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, belakangan saya melihat mulai ada pergeseran terhadap nasi berkat tahlilan. Setidaknya itu yang saya amati di daerah saya Tegal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua nasi berkat yang dibawa pulang langsung disantap. Kadang beseknya dibuka, ayam atau telur menjadi bagian pertama yang dicari, sementara nasi dan lauk lainnya masih tersisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa jam kemudian masih begitu. Besoknya mulai tidak menarik. Kalau sudah terlalu lama, nasi dan lauk tersebut tentu tidak bisa lagi dimakan. Pada akhirnya, makanan yang awalnya dibuat sebagai bentuk berbagi justru berisiko menjadi makanan yang terbuang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mengatakan semua keluarga mengalami hal seperti ini ya. Bisa jadi ini hanya pengalaman yang saya lihat di sekitar saya. Tetapi, dari situ saya mulai berpikir, apakah berkat setelah tahlilan memang harus selalu berupa nasi lengkap dengan berbagai macam lauk?<\/span><\/p>\n<h2><b>Berkat tidak harus selalu berupa nasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang mengusulkan agar tradisi memberikan nasi berkat setelah tahlilan dihilangkan. Justru menurut saya, tradisi ini menarik untuk dipertahankan. Hanya saja, bentuknya mungkin bisa dibuat lebih fleksibel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu alternatif yang menurut saya masuk akal adalah berkat berupa bahan-bahan mentah. Isinya bisa berupa beras, mi instan, telur, kecap, gula, kopi, atau bahan kebutuhan sehari-hari lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barang-barang tersebut memang terlihat sederhana. Namun, penerimanya bisa menggunakannya sesuai kebutuhan. Beras bisa dimasak kapan saja. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-pilihan-rasa-mi-instan-paling-enak-dari-pabrikan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mi instan<\/a> tidak harus langsung dimakan. Kecap, gula, dan kopi juga bisa disimpan. Tidak ada keharusan untuk menghabiskan semuanya pada hari itu juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, ini merupakan salah satu kelebihan bahan-bahan mentah dibandingkan makanan matang. Apalagi tuan rumah tidak selalu bisa memperkirakan secara tepat jumlah orang yang hadir. Misalnya, keluarga sudah menyiapkan seratus paket berkat. Namun, ternyata beberapa orang yang diundang berhalangan hadir. Makanan matang yang sudah disiapkan tentu punya batas waktu untuk dikonsumsi. Berbeda dengan bahan mentah yang masih bisa disimpan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saya pernah mengalaminya sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya pengalaman yang membuat semakin paham akan persoalan ini. Ketika keluarga mengadakan haul kakek saya, sebenarnya anak-anaknya sudah sepakat untuk memberikan berkat dalam bentuk bahan mentah. Pertimbangannya sederhana, lebih praktis dan kemungkinan mubazirnya lebih kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, nenek saya memiliki pertimbangan lain. Dia lebih memilih mengikuti kebiasaan yang sudah berlangsung di keluarga besar kami selama bertahun-tahun.\u00a0 Menurutnya, berkat ya nasi berkat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, berdasar keputusan keluarga, nasi berkat yang dibagikan. Tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut. Toh, itu bagian dari tradisi keluarga kami. Hanya saja, setelah acara selesai, ternyata nasi berkat masih tersisa cukup banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pengalaman tersebut saya kemudian berpikir bahwa pilihan bentuk berkat sebenarnya bukan perkara benar atau salah. Ada konteks yang perlu dipertimbangkan. Kalau keluarga memang terbiasa menghabiskan makanan dan jumlah tamunya bisa diperkirakan dengan baik, nasi berkat tentu bukan masalah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kalau kemungkinan makanan tersisa cukup besar, berkat mentah mungkin bisa menjadi pilihan yang lebih praktis.<\/span><\/p>\n<h2><b>Membuat nasi berkat juga bukan perkara sederhana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada alasan lain mengapa saya melihat berkat mentah sebagai alternatif yang menarik, proses menyiapkan nasi berkat cukup merepotkan. Bayangkan saja, keluarga harus membeli bahan, menanak nasi, memasak lauk, menyiapkan wadah, membungkus makanan, lalu membereskannya setelah acara selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau semua dikerjakan sendiri, tentu membutuhkan tenaga dan waktu. Kalau tidak ada anggota keluarga yang bisa memasak dalam jumlah banyak, mungkin harus meminta bantuan orang lain. Artinya, ada biaya tambahan yang perlu dikeluarkan. Sementara itu, berkat mentah relatif lebih sederhana. Bahan tinggal dibeli, disusun, kemudian dibagikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu bukan berarti berkat mentah selalu lebih murah. Harga bahan makanan juga bisa berubah dan kebutuhan setiap keluarga berbeda. Namun, dari sisi persiapan, pilihan ini terasa lebih praktis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau berkat mentah terasa terlalu jauh dari kebiasaan, sebenarnya ada banyak pilihan lain. Misalnya roti. Roti lebih praktis untuk dibagikan dan tidak membutuhkan proses memasak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak pun kemungkinan lebih antusias menerima roti dibandingkan sebungkus nasi lengkap dengan lauk yang belum tentu mereka sukai. Tentu roti juga memiliki masa simpan. Jadi pilihan ini tetap harus disesuaikan dengan kondisi dan jumlah penerima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat bahkan tidak harus selalu berupa makanan. Saya pernah mendapatkan mushaf <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Al-Qur%27an\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Al-Qur&#8217;an<\/a> dari sebuah acara tahlilan. Sampai sekarang mushaf tersebut masih saya gunakan. Saya juga pernah mendapatkan sarung. Dua benda tersebut menurut saya memiliki manfaat yang panjang. Tidak seperti makanan matang yang harus segera dikonsumsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ saya semakin merasa bahwa esensi berkat sebenarnya bukan terletak pada seberapa banyak lauk yang bisa dimasukkan ke dalam satu besek. Yang lebih penting adalah manfaat yang diterima oleh orang yang membawanya pulang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan sampai tradisi malah menjadi beban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting daripada menentukan apakah berkat harus berupa nasi atau bahan mentah, kemampuan keluarga yang mengadakan acara. Jangan sampai karena ingin mengikuti kebiasaan atau memenuhi ekspektasi keluarga besar, tuan rumah justru merasa harus menyediakan sesuatu di luar kemampuannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mampu menyediakan nasi berkat, silakan. Namun, kalau lebih nyaman memberikan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/nasi-berkat-tahlilan-dimasak-susah-payah-tapi-berakhir-mubazir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahan mentah<\/a>, juga tidak masalah. Kalau pilihannya roti atau bentuk barang lain yang bermanfaat, menurut saya sah-sah saja selama sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan keluarga. Sebab, jangan sampai tradisi yang seharusnya menjadi bagian dari kebersamaan justru berubah menjadi beban. Apalagi kalau setelah acara selesai keluarga masih harus memikirkan makanan yang tersisa dalam jumlah banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, mempertahankan tradisi tidak berarti harus mempertahankan setiap bentuknya persis seperti dulu. Tradisi bisa tetap hidup sambil beradaptasi dengan keadaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu nasi berkat menjadi sesuatu yang sangat dinanti anak-anak. Sekarang mungkin kebiasaan makan setiap keluarga sudah berubah. Ada yang lebih suka makanan tertentu, ada yang sedang mengurangi nasi, ada pula yang justru lebih membutuhkan bahan makanan untuk dimasak sendiri. Sudah waktunya kita melihat berkat bukan hanya dari apa yang biasa diberikan, tetapi juga dari apa yang benar-benar bermanfaat bagi penerimanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Malik Ibnu Zaman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ikut-kenduri-cara-saya-healing-dari-dunia-yang-memusingkan\/\"><b><i>Ikut kenduri cara saya healing dari dunia yang kian memusingkan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pikir dua kali sebelum bagi-bagi nasi berkat setelah tahlilan karena rawan mubazir dan repot, sebaiknya pertimbangkan berkat bentuk lain. <\/p>\n","protected":false},"author":1488,"featured_media":417534,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[8539,4467,32165,8545],"class_list":["post-417428","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-berkat","tag-nasi","tag-nasi-berkat","tag-tahlilan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417428","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1488"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417428"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417428\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417538,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417428\/revisions\/417538"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417428"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417428"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417428"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}