{"id":417321,"date":"2026-09-14T13:34:31","date_gmt":"2026-09-14T06:34:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417321"},"modified":"2026-09-14T13:34:31","modified_gmt":"2026-09-14T06:34:31","slug":"in-this-economy-sekadar-bengong-sambil-merenungi-nasib-saja-butuh-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/in-this-economy-sekadar-bengong-sambil-merenungi-nasib-saja-butuh-uang\/","title":{"rendered":"In this economy, sekadar bengong sambil merenungi nasib saja butuh uang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin sore, saya merasa beban hidup sedang berat-beratnya. Otak rasanya penuh oleh rentetan agenda skripsi, batin yang mulai minta perhatian, dan berita-berita absurd di lini masa. Resolusi paling masuk akal saat itu cuma satu: saya butuh bengong. Sekadar menatap kosong ke suatu titik tanpa memikirkan apa-apa, sebuah pelarian paling purba bagi manusia yang sedang kelelahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, niat mulia ini langsung menabrak tembok kenyataan. Di mana saya bisa bengong dengan tenang? Di kamar kos? Sumpek. Di teras? Pasti diajak basa-basi oleh tetangga, atau minimal disangka sedang diganggu jin. Pilihannya tentu saja mencari angin di luar. Dan di titik inilah saya sadar kalau di masa sekarang kota-kota kita sama sekali tidak dirancang untuk orang bokek yang cuma butuh ruang untuk melamun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Taman kota yang menguji iman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara teori, kita punya yang namanya ruang publik. Alun-alun, taman kota, atau apalah sebutannya, kita bisa bengong di situ. Tapi mari kita bicara realitas. Cobalah Anda datang ke taman kota jam dua siang. Kalau tidak pingsan terkena heatstroke karena pohonnya lebih sedikit dari jumlah tiang lampu taman, Anda hebat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam hari? Ceritanya beda lagi. Baru mau duduk santai di bangku semen yang desainnya sangat tidak ergonomis itu, kita harus siap mendonor darah gratis buat nyamuk-nyamuk sekitar. Bukannya tenang, pikiran malah tambah runyam dan bentol-bentol. Ruang publik kita sering kali tidak memberi ruang untuk sendirian. Ia terlalu bising, terlalu silau, atau terlalu tidak terawat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga sebuah<\/b> <b>ketenangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ujung-ujungnya, kaki ini melangkah mencari suaka paling aman untuk bengong, yaitu caf\u00e9 atau coffe shop. Begitu membuka pintu, embusan AC menyambut bak bisikan malaikat penyelesai masalah. Tapi ingat, surga pasti ada tiket masuknya. Mbak barista di balik mesin <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Espreso\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">espresso<\/a> langsung tersenyum ramah, senyum yang secara implisit berkata, &#8220;Selamat datang, silakan beli sesuatu kalau mau numpang duduk di sini.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau pesan air mineral saja rasanya kok tidak tahu diri. Akhirnya, demi menjaga martabat dan mengamankan satu kursi kayu di pojokan, saya memesan segelas kopi susu seharga Rp25 ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba pikirkan sejenak. Dua puluh lima ribu rupiah. Dengan kondisi ekonomi yang sedang serba mencekik ini, saya harus mengeluarkan uang setara harga seporsi nasi padang dengan lauk rendang hanya untuk menyewa hak guna pakai kursi. Bengong, yang dulunya adalah hiburan paling demokratis dan gratis bagi seluruh umat manusia dari masa pra-aksara, kini telah menjelma menjadi gaya hidup mewah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Komersialisasi waktu luang, jadi sulit untuk sekadar bengong<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja ini bukan salah caf\u00e9 atau coffe shopnya. Mereka berbisnis, bukan yayasan panti sosial. Masalah utamanya ada pada tata kota kita yang mengidap penyakit komersialisasi akut. Entah kenapa, segala hal yang tidak menghasilkan perputaran uang seolah tidak pantas diberi ruang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trotoar sekadar formalitas, taman nggak nyaman, perpustakaan daerah tutup jam 4 sore, dan alun-alun disulap menjadi pasar malam yang memaksa Anda jajan. Semua sudut kota seolah berteriak serempak: &#8220;Kalau kamu nggak bawa duit, mending tidur aja di rumah!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, nenek moyang kita bisa duduk berjam-jam di pos ronda atau pinggir lapangan tanpa keluar sepeser pun. Sekarang, sekadar mengambil jeda untuk bernapas dan menenangkan isi kepala saja sudah masuk dalam pos pengeluaran bulanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, segitu saja keluhan saya. Saya mau lanjut menyeruput kopi susu yang esnya sudah mulai mencair dengan rasanya yang mulai hambar. Sehambar kenyataan bahwa untuk menjadi manusia utuh di kota ini, atau sekadar bengong saja, kita harus terus-terusan menggesek uang dari dompet lucu ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Zain Ahdan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-pusat-yang-bising-punya-4-tempat-melamun-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kasta Tempat Melamun Terbaik di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta Pusat<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di mana saya bisa bengong dengan tenang, dan tak perlu keluar uang? Di masa kini, hal itu hampir tak mungkin.<\/p>\n","protected":false},"author":3296,"featured_media":417374,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[34933,6856,17814,34932],"class_list":["post-417321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bengong","tag-kafe","tag-taman-kota","tag-tempat-melamun-terbaik"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3296"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417321"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417321\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417375,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417321\/revisions\/417375"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}