{"id":417263,"date":"2026-09-13T13:32:40","date_gmt":"2026-09-13T06:32:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417263"},"modified":"2026-09-13T13:32:40","modified_gmt":"2026-09-13T06:32:40","slug":"10-alasan-jogja-sudah-nggak-senyaman-dulu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-alasan-jogja-sudah-nggak-senyaman-dulu\/","title":{"rendered":"10 alasan Jogja sudah tidak lagi nyaman untuk menjadi tempat tinggal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daya tarik Jogja itu kuat banget. Tapi itu dulu. Ketika udaranya masih sejuk, jalannya masih lengang, dan orang masih bisa jajan tanpa takut pedagang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harga-nuthuk-di-jogja-bukan-hanya-milik-wisatawan-warga-lokal-juga-kena\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menembak harga seenaknya<\/a>. Kini keadaannya berubah. Jogja perlahan kehilangan rasa nyaman yang dulu membuat siapa pun betah berlama-lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa Jogja sudah nggak senyaman dulu sebagai tempat tinggal? Izinkan saya merangkum 10 alasannya, lengkap dengan data dari media dan kesaksian orang-orang yang mengalaminya langsung.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jogja semakin macet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemacetan Jogja kini bukan lagi cerita musiman. Pada malam pergantian tahun 2026, Polda DIY melaporkan hampir 2 juta kendaraan menyerbu masuk dari segala penjuru, dan sekitar 450 ribu orang memadati kawasan Malioboro (Kompas). Saking macetnya, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memilih berkeliling memantau kota naik motor. &#8220;Karena macet, jadi mending saya tak sambil pantau naik motor,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengakui padatnya jalur utama. Dia menyebut Jalan Solo &#8220;sudah crowded sama ringroad&#8221; sehingga kendaraan luar kota sebaiknya menghindari pusat kota (Kumparan). Di luar musim liburan pun, titik-titik seperti Perempatan Gondomanan, Tugu Pal Putih, Simpang Gejayan, sampai Ring Road Maguwo tetap saja menahan laju kendaraan setiap hari (Bernas).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi warga lama, perubahan ini nyata benar. Dulu orang bisa menyeberangi kota dalam 15 menit. Sekarang, 30 menit belum tentu cukup.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kota kecil yang penghuninya terus berlipat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Luas Kota Yogyakarta hanya 32,5 kilometer persegi atau sekitar 1% dari total wilayah DIY (Portal Pemkot Yogyakarta). Di atas tanah sekecil itu, sekitar 400 ribu jiwa menetap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Kota Yogyakarta menghitung kepadatan rata-rata mencapai 13 ribu jiwa per kilometer persegi, dan Kecamatan Ngampilan bahkan menampung lebih dari 22 ribu jiwa per kilometer persegi (DPMPTSP Kota Yogyakarta).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka itu pun belum menghitung para mahasiswa dan pekerja ber-KTP luar. BPS DIY mencatat sekitar 400 ribu mahasiswa berkuliah di 135 perguruan tinggi di wilayah DIY (Espos). Setiap hari, mereka berbagi jalan, air bersih, lahan parkir, dan depo sampah dengan warga tetap. Semakin sesak kotanya, semakin cepat pula kenyamanannya menipis.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Ruang hijau menyusut, bangunan terus mengepung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 menuntut setiap kota menyediakan ruang terbuka hijau minimal 30% dari luas wilayah. Jogja belum sampai ke sana. Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta menyebut proporsinya baru 23,35% (Ruang Kota), sementara kajian Rifky Faisal Achmad dan kawan-kawan pada 2024 malah menghitung angka 18,6% (Wartaeq).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sawah, kebun, dan halaman rumah satu per satu berubah menjadi kos, hotel, kafe, dan ruko. Kepala DLH Kota Yogyakarta kala itu, Suyana, menyebut Jogja sebagai &#8220;kota yang sudah jadi, bukan kota yang sedang berkembang&#8221;, sehingga pemerintah kesulitan mendesain ulang ruang hijaunya, apalagi harga lahannya mahal. Akibatnya, warga kehilangan tempat bernapas, dan panas kota semakin susah turun.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Harga rumah terbang tinggi, upah di Jogja merangkak pelan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah kontradiksi Jogja yang paling menyakitkan. Harian Jogja melaporkan harga tanah di DIY naik 10-20% setiap tahun, sementara upah buruh hanya naik 1-3% (Harian Jogja). Asosiasi pengembang REI DIY bahkan menyebut harga tanah di sekitar Malioboro menyentuh Rp70 juta per meter persegi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal Gubernur DIY menetapkan UMP 2026 hanya Rp2.417.495 dan UMK Kota Yogyakarta Rp2.827.593 (Kompas). Safarianto, buruh yang mengikuti aksi Hari Buruh 2024, menegaskan, &#8220;Rumah itu kebutuhan dasar.&#8221; Dia mengaku berat mengangsur rumah subsidi seharga Rp160 juta karena cicilannya menyedot hampir separuh upah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rekannya, Maesaroh, bicara lebih lugas: &#8220;Nggak bisa beli rumah. Buat sehari-hari aja kurang.&#8221; (<a href=\"https:\/\/jogja.idntimes.com\/news\/jogja\/cerita-buruh-di-jogja-upah-murah-tidak-mampu-beli-rumah-00-kmxph-qw47f3\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IDN Times<\/a>). Koordinator MPBI DIY Irsad Ade Irawan menyimpulkan dengan gamblang: &#8220;Upah minimum tidak bisa untuk beli rumah.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Liputan Tirto pada 2016 bahkan sudah memperingatkan bahwa anak muda Jogja berisiko kehilangan rumah di kotanya sendiri. Sepuluh tahun berlalu, peringatan itu semakin mendekati kenyataan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Kawasan kampus tidak pernah tidur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memang kota pelajar, dan kampus-kampusnya adalah magnet utama. Namun magnet itu juga mengubah wajah permukiman. Kawasan seperti Caturtunggal, Seturan, Gejayan, dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bundaran-ugm-simpangan-tersibuk-dan-berbahaya-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sekitar kampus UGM<\/a> kini penuh kos, kafe, jasa laundry, dan tempat nongkrong yang hidup hampir 24 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muslih Junianto, penulis di Kompasiana, menggambarkan bagaimana ratusan ribu mahasiswa mengubah peta ruang dan ekonomi kota. Mereka mengisi ruang-ruang kosong, mengundang investor, lalu menaikkan harga lahan di sekitarnya (Kompasiana).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mahasiswa, semua serba mudah. Namun bagi penduduk lama, kampung yang dulu sunyi kini riuh sampai dini hari, dan harga sewa di sekeliling mereka ikut melonjak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Jogja semakin panas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang dulu mengenal Jogja sebagai kota yang teduh. Catatan BMKG berkata lain. Pada 19 Juli 2026, Kota Jogja menjadi wilayah terpanas se-Indonesia dengan suhu menembus 36 derajat Celsius.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data reanalisis iklim juga menunjukkan suhu rata-rata harian kota ini merangkak dari 24 derajat Celsius pada 1940 menjadi 26,1 derajat Celsius pada 2026. Ini naik 2,1 derajat dalam 87 tahun (<a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/demografi\/statistik\/5842b111e6b68ba\/wilayah-kota-yogyakarta-hari-ini-jadi-yang-terpanas-di-indonesia-suhu-tembus-36-0-c\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Databoks Katadata<\/a>). Rekor tertingginya masih bertahan: 37,2 derajat Celsius pada 21 Oktober 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Oktober 2024, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta Warjono mencatat suhu maksimum 35 derajat Celsius dan mengaitkannya dengan gerak semu matahari serta minimnya tutupan awan (Kompas TV).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niko Firmansyah, mahasiswa perantau asal Surabaya, menyuarakan keluhan yang mewakili banyak orang: &#8220;Jogja panas banget beberapa hari ini.&#8221; Bahkan pada awal Februari 2026, BMKG masih mencatat suhu 34 derajat Celsius di Kota Yogyakarta (RRI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang hijau yang menyusut dan aspal yang terus meluas membuat panas itu semakin betah tinggal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Urusan sampah belum juga beres<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja sudah lama hidup di bawah bayang-bayang bom sampah. Ketika TPA Piyungan kelebihan muatan dan berhenti menerima kiriman pada 23 Juli sampai 5 September 2023, gunungan sampah membanjiri sudut-sudut kota dan Pemda DIY menetapkan kondisi darurat (Detik). Sebelum itu, Piyungan menerima sampai 700 ton sampah setiap hari dari Kota, Sleman, dan Bantul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya belum selesai. Piyungan berhenti beroperasi sepenuhnya pada awal 2026. Sementara itu Kota tetap menghasilkan 290-300 ton sampah per hari dengan kemampuan olah di dalam kota baru sekitar 190 ton (Kompas).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wakil Ketua DPRD Kota, Sinarbiyat Nujanat, menyebut situasi ini &#8220;sebuah emergency&#8221; (Kompas). Warga pun mencium baunya, melihat tumpukannya, dan menanggung risikonya setiap hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Hujan sebentar, genangan datang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota yang semakin rapat juga semakin sulit menyerap air. Dinas PUPKP Kota Yogyakarta memetakan 16 titik langganan genangan, dari Simpang Tegal Gendu, Jalan Magelang, sampai Jalan Parangtritis (Joglosemar). Pada Agustus 2025, hujan deras kembali menggenangi enam titik sekaligus, termasuk Kampung Iromejan dan Jalan Batikan (Tribun Jogja).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di level provinsi, hujan lebih dari enam jam pada 28 Maret 2025 membanjiri Bantul dan Gunungkidul (Tempo). BPBD Kota Yogyakarta merespons dengan menyiagakan 169 Kampung Tangguh Bencana dan 26 sistem peringatan dini di tiga sungai, yaitu Code, Winongo, dan Gajahwong (Times Indonesia).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua langkah itu penting. Tetapi, bagi warga yang motornya mogok di tengah genangan, kenyataannya sederhana. Jogja ini semakin sulit menelan air hujannya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Biaya hidup naik, budaya &#8220;nuthuk&#8221; bikin waswas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja masih menawarkan angkringan murah, tetapi pengalaman kena getok harga terus membayangi citranya. Pada Juli 2025, seorang wisatawan menjadi viral setelah juru parkir liar memungut Rp50 ribu di depan gerbang Kantor Gubernur DIY dekat Malioboro. Polisi lalu menangkap dua pelakunya (Republika).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, ongkos becak Rp80 ribu juga membuat wisatawan mengeluh (Detik). Ada juga kasus warung pecel lele &#8220;nuthuk&#8221; sempat menggemparkan media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan sampai meminta wisatawan aktif melapor ketika menemukan tarif parkir atau harga makanan yang tidak wajar (Kompas). Ketika pemerintah harus mendirikan pos pengaduan agar tamunya merasa aman berbelanja, kenyamanan kota sebenarnya sedang bermasalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, BPS mencatat angka kemiskinan DIY lama bertengger di atas rata-rata nasional. Dengan 10,4% berbanding 8,57% pada September 2024 dan rasio gini 0,428 menunjukkan ketimpangan yang lebar (RRI). Meski kemiskinan turun ke 9,7% pada Maret 2026 (Kumparan), jurang antara harga properti dan upah tetap membuat banyak warga merasa sesak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Jogja pelan-pelan kehilangan suasana lamanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan terakhir ini mungkin paling sulit kita ukur, tetapi justru paling kuat kita rasakan. Jogja Police Watch masih mencatat rentetan klitih sepanjang semester pertama 2025, dari Kulon Progo sampai Bantul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadiv Humas JPW Baharuddin Kamba menyebut kejahatan jalanan itu &#8220;masih menjadi momok yang menakutkan&#8221; bagi warga yang beraktivitas pada malam hari (Bernas). Rasa aman, yang dulu hadir dengan sendirinya, kini menuntut kewaspadaan ekstra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking normalnya kemacetan, pada akhir 2022 Sri Sultan bahkan meminta warga tidak mengeluh dan menjalani macet dengan ikhlas ketika wisatawan menyerbu kota (CNN Indonesia). Pesan itu justru menegaskan betapa macet sudah menjadi rutinitas yang harus warga terima sebagai tuan rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan-perubahan ini bukan berarti semuanya buruk. Fasilitas bertambah, ekonomi bergerak, dan peluang usaha bermunculan. Namun ada harga yang harus kita bayar: suasana Jogja yang dulu tenang, teduh, dan bersahaja perlahan menghilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang baru datang mungkin masih memandang Jogja sebagai kota paling nyaman di Indonesia. Tetapi orang yang sudah tinggal 20 atau 30 tahun merasakan Jogja yang berbeda. Dan mungkin, di situlah letak kehilangannya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-mahal-karena-yang-murah-hanya-upah-pekerjanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Mahal, karena yang Murah Hanya Upah Pekerjanya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daya tarik Jogja itu kuat banget. Tapi itu dulu. Kini, Jogja perlahan kehilangan rasa nyaman yang dulu membuat siapa pun betah berlama-lama.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":417265,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34914,5766,1413,34915,115,23937,34913,34912,7235,9577,6094],"class_list":["post-417263","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banjir-jogja","tag-bantul","tag-diy","tag-harga-tanah-jogja","tag-jogja","tag-jogja-macet","tag-jogja-tempo-dulu","tag-jogja-tidak-nyaman","tag-sleman","tag-umk-jogja","tag-umr-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417263","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417263"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417263\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417267,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417263\/revisions\/417267"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417265"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417263"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417263"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417263"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}