{"id":417257,"date":"2026-09-13T15:51:49","date_gmt":"2026-09-13T08:51:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417257"},"modified":"2026-09-13T15:51:49","modified_gmt":"2026-09-13T08:51:49","slug":"saya-tidak-kagum-dengan-gedung-di-jakarta-tapi-transportasi-umumnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-tidak-kagum-dengan-gedung-di-jakarta-tapi-transportasi-umumnya\/","title":{"rendered":"Saya tidak kagum dengan gedung pencakar langit di Jakarta, tapi transportasi umumnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak hal yang biasanya membuat orang dari daerah takjub ketika pertama kali datang ke Jakarta. Gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang seolah tidak ada habisnya, jalan raya yang ramai hampir setiap waktu, sampai orang-orang yang berjalan cepat seperti sedang dikejar deadline. Saya pun tentu sempat memperhatikan semua itu ketika pertama kali datang ke Jakarta untuk menjalani magang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ternyata bukan itu yang paling membuat saya kagum. Sebagai mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Garut, hal yang justru membuat saya cukup terkesan adalah transportasi umumnya. Selama di Jakarta, saya memang belum mencoba semua moda transportasi yang tersedia. Sejauh ini, saya baru menggunakan KRL, MRT, dan <a href=\"https:\/\/transjakarta.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TransJakarta.<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dari tiga moda itu saja, saya sudah mendapatkan pengalaman yang cukup untuk membuat saya berpikir, \u201cKenapa di daerah saya belum seperti ini?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Di Jakarta, tinggal tap, lalu jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang saya rasakan ketika menggunakan transportasi umum di Jakarta adalah betapa mudahnya sistemnya. Untuk masuk, tinggal tap. Setelah itu tinggal mencari peron atau halte, menunggu kendaraan datang, lalu berangkat. Tidak perlu terlalu banyak memikirkan kendaraan harus diparkir di mana, berapa biaya bensin yang harus dikeluarkan, atau harus menerobos kemacetan menggunakan kendaraan pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang tidak semua transportasi umum di Jakarta selalu datang tepat waktu. Namun, dibandingkan dengan pengalaman saya sehari-hari menggunakan kendaraan pribadi di Garut, keberadaan jadwal dan sistem yang sudah tertata membuat semuanya terasa lebih mudah diprediksi. MRT membuat saya kagum dengan ketepatan waktunya, KRL terasa mudah diakses, sementara TransJakarta membuat saya melihat bagaimana luasnya jangkauan transportasi umum di sebuah kota. Banyak halte dan stasiun juga terhubung dengan moda transportasi lain. Jadi, kalau salah turun atau harus berganti kendaraan, rasanya tidak seperti sedang memulai perjalanan dari nol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, menggunakan transportasi umum di Jakarta bukan berarti hidup langsung menjadi tenang. Ada saatnya saya harus berdempetan dengan banyak orang di dalam kereta atau bus. Pada jam-jam sibuk, perjalanan bisa berubah menjadi latihan kesabaran. Berdiri sambil berpegangan, berusaha tidak menginjak kaki orang lain, dan berharap masih ada sedikit ruang untuk bernapas adalah bagian dari rutinitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi anehnya, di tengah kesibukan itu saya tetap merasa terbantu. Mungkin begitulah Jakarta: bahkan untuk sekadar pergi dari satu tempat ke tempat lain, kita harus ikut sibuk bersamanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rp3.000 yang membuat saya berpikir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang cukup membuat saya kagum adalah tarifnya. Saya cukup sering menggunakan KRL dengan tarif yang menurut saya sangat terjangkau. Dengan biaya sekitar Rp3.000 untuk perjalanan tertentu, saya bisa menggunakan kereta untuk menunjang aktivitas magang. Bagi sebagian warga Jakarta, mungkin nominal tersebut sudah menjadi sesuatu yang biasa. Bagi saya yang berasal dari daerah, angka itu terasa cukup luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga sadar bahwa tarif murah tersebut tidak muncul begitu saja. Ada subsidi pemerintah yang membuat masyarakat bisa menikmati transportasi umum dengan biaya yang lebih ringan. Tetapi justru dari situ saya melihat bahwa subsidi transportasi bukan sekadar membuat ongkos perjalanan murah. Ada manfaat yang lebih besar ketika masyarakat mempunyai pilihan untuk bepergian tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa bisa pergi kuliah, pekerja bisa berangkat ke kantor, dan masyarakat bisa berpindah tempat dengan biaya yang relatif terjangkau. Di sisi lain, semakin banyak orang menggunakan transportasi umum, semakin sedikit pula ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Setidaknya, ada upaya untuk mengurangi kemacetan dan emisi dari kendaraan yang terus memenuhi jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lalu saya ingat Garut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali naik transportasi umum di Jakarta, entah kenapa saya sering teringat kehidupan sehari-hari di Garut. Kalau berangkat kuliah, saya biasanya menggunakan motor pribadi. Memang ada angkot, ojol, dan taksi online, tetapi pengalaman menggunakan transportasi tersebut tentu berbeda dengan sistem transportasi umum yang saya rasakan di Jakarta. Apalagi Kabupaten Garut bukan hanya wilayah perkotaan. Wilayahnya luas dan tidak semuanya berada dalam kawasan yang memiliki akses transportasi publik yang memadai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ muncul pertanyaan yang sebenarnya sederhana: apakah suatu saat Garut bisa memiliki transportasi publik yang lebih baik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang membayangkan Garut tiba-tiba memiliki MRT yang melintas di atas sawah atau KRL yang berhenti di depan kampus. Saya sadar kondisi setiap daerah berbeda. Yang saya harapkan justru lebih sederhana: transportasi publik yang aman, nyaman, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau suatu hari Garut memiliki BRT, misalnya, tentu akan menjadi sesuatu yang menarik. Meski melihat kondisi Garut sekarang, mungkin memang masih banyak hal yang harus dipersiapkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jakarta ternyata tidak hanya soal gedung tinggi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum datang ke Jakarta, saya mungkin akan menganggap kemajuan sebuah kota dari apa yang terlihat oleh mata. Gedungnya tinggi, jalannya besar, pusat perbelanjaannya banyak, lalu lampunya tidak pernah benar-benar mati. Setelah tinggal beberapa waktu di sini, pandangan saya sedikit berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, salah satu tanda sebuah kota maju justru bisa dilihat dari bagaimana masyarakatnya bergerak. Seberapa mudah seseorang pergi bekerja, kuliah, berobat, berbelanja, atau sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus memiliki kendaraan pribadi. Gedung tinggi memang mudah membuat orang kagum. Tetapi transportasi umum yang bisa digunakan banyak orang setiap hari mungkin justru lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan mungkin itu yang paling saya rasakan selama magang di Jakarta. Saya datang dari Kabupaten Garut dan awalnya mengira ibu kota akan membuat saya kagum karena kemegahannya. Ternyata yang membuat saya iri justru sesuatu yang mungkin bagi warga Jakarta sudah dianggap biasa: bisa pergi ke banyak tempat dengan transportasi yang mudah, aman, nyaman, dan relatif murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu kapan Garut akan memiliki transportasi publik seperti kota-kota besar lainnya. Namun, saya berharap suatu hari nanti masyarakat daerah tidak perlu datang ke Jakarta terlebih dahulu untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki transportasi umum yang layak. Sebab, kalau mengikuti istilah yang sedang ramai digunakan sekarang, transportasi umum seperti di ibu kota masih menjadi \u201cmimpi basah\u201d masyarakat daerah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Fikri Almarufi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-menikmati-transportasi-umum-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Panduan Menikmati Transportasi Umum di Jakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum datang ke Jakarta, saya mungkin akan menganggap kemajuan sebuah kota dari apa yang terlihat oleh mata. Tapi, semuanya berubah.<\/p>\n","protected":false},"author":3308,"featured_media":396891,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[4326,529,34920],"class_list":["post-417257","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-garut","tag-jakarta","tag-transportasi-umum-di-jakarta"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3308"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417257"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417257\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417278,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417257\/revisions\/417278"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/396891"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}