{"id":417093,"date":"2026-09-13T08:45:53","date_gmt":"2026-09-13T01:45:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417093"},"modified":"2026-09-13T09:52:42","modified_gmt":"2026-09-13T02:52:42","slug":"dibanding-jogja-dan-malang-lamongan-kekurangan-di-hal-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dibanding-jogja-dan-malang-lamongan-kekurangan-di-hal-ini\/","title":{"rendered":"Setelah merantau ke Malang dan Jogja, saya baru sadar hal penting yang tidak dimiliki Lamongan\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga asli Lamongan, saya tumbuh dengan kebanggaan khas masyarakat pesisir Pantura. Kota kami memang punya segalanya untuk dibanggakan. Bicara kuliner ada soto Lamongan dan pecel lele. Pariwisata? Ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wbl-katanya-wisata-andalan-lamongan-kok-jalannya-berlubang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wisata Bahari Lamongan (WBL)<\/a> dan makam para Sunan Drajad.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, kalau mau mengukur fanatisme olahraga, Persela dan jajaran suporternya punya tempat tersendiri di peta sepak bola nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, cara pandang seseorang terhadap tanah kelahirannya sering kali baru terbuka lebar justru setelah dia melangkah keluar. Iya, pengalaman merantau di dua &#8220;Kota Pelajar&#8221; utama Jawa Timur dan DIY (Malang dan Jogja) memberikan saya ruang komparasi yang sangat jernih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mengecap dinamika hidup di Malang yang dingin, serta merenungi ritme Jogja yang serba pelan dan romantis, saya mendadak tersadar akan satu hal. Ternyata, ada satu aset tak kasat mata yang teramat krusial yang dimiliki oleh Malang dan Jogja, tapi sama sekali belum dimiliki oleh Lamongan, yakni ruang publik yang menghidupkan ekosistem ide.<\/span><\/p>\n<h2><b>Malang dan Jogja Punya Kultur Cangkruk yang Menghasilkan Karya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba perhatikan kultur nongkrong di Malang dan Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Malang, warung kopi dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/pengalaman-pertama-ke-coffee-shop-jogja-malah-malu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">coffee shop<\/a> bukan sekadar tempat mengusir kantuk atau pamer pakaian estetik. Di sana, warkop adalah laboratorium gagasan. Mahasiswa dan anak muda duduk melingkar mendiskusikan draf skripsi, merancang gerakan komunitas, hingga menulis esai dan artikel opini. Ada energi intelektual yang terus mengalir di antara asap rokok dan secangkir kopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja lebih dahsyat lagi. Ruang publik di sana, dari angkringan pinggir jalan, pelataran kampus, hingga kantung-kantung seni, bisa mendadak berubah jadi ruang diskusi publik. Seni, literasi, dan budaya diperbincangkan secara wajar oleh siapa saja, dari pakar akademisi bertitel profesor sampai mahasiswa yang baru masuk semester satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana dengan Lamongan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diakui bahwa kultur warkop di Lamongan sangat hidup dan menjamur dari pelosok desa sampai pusat kota. Tapi, harus diakui secara jujur, fungsi warkop kita masih dominan berhenti di level ruang pelarian. Menjadi tempat main game online sampai subuh, ajang nonton bareng bola, atau sekadar tempat melepaskan penat sehabis bekerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekosistem yang merangsang anak muda untuk berkarya, menulis, berdiskusi kritis, atau menciptakan produk kreatif kolektif masih sangat minim.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketiadaan wadah bagi berseminya anak muda kreatif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Malang dan Jogja, seorang pemuda yang hobi menulis, bermusik, atau membuat konten kreatif akan dengan sangat mudah menemukan &#8220;rumahnya&#8221;. Ada festival literasi independen, ada ruang pameran kolektif, ada komunitas esais yang saling mengkritik draf tulisan, dan ada media-media lokal yang siap menampung suara warganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di Lamongan, anak muda yang punya kegelisahan kreatif sering kali merasa &#8220;sendirian&#8221;. Ketika ada anak muda yang mencoba bicara agak serius soal tata kota, isu lingkungan pesisir, atau dinamika budaya di warung kopi, narasi yang sering terdengar di sekitarnya justru, \u201c<a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/apa-itu-fomo-ini-pengertian-gejala-dan-dampaknya?srsltid=AfmBOooeqttdMTOfgjn9wpRU48iPCFVUso9SEQamqUiZFIqu2hw8TbS5\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">FOMO<\/a><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sok kritis<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan ungkapan merendahkan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya apa? Potensi-potensi anak muda hebat dari Lamongan pada akhirnya lebih memilih &#8220;menghibahkan&#8221; ide dan karya terbaik mereka untuk membangun kota perantauan orang lain. Mereka bersinar di Malang, tumbuh di Jogja, atau menjajal nasib di Jakarta, sementara tanah kelahirannya sendiri kekurangan pasokan gagasan segar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saatnya warkop Lamongan \u201cbersinar\u201d\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini sama sekali bukan dibuat untuk mengerdilkan Lamongan. Sebaliknya, ini adalah bentuk rasa cinta seorang warga yang ingin melihat daerahnya mengejar ketertinggalan aspek kualitas hidup (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">quality of life<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, Lamongan tidak kekurangan orang pintar. Kuliner kita juara. Ketahanan ekonomi warga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantura-indramayu-dan-kisah-pilu-radiator-springs-nya-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pantura<\/a> terkenal tangguh dan ulet. Tapi, agar kota ini tidak cuma dikenal sebagai &#8220;pemasok warung soto&#8221; atau kota transit di jalur Pantura, kita butuh ruang-ruang publik yang lebih inklusif bagi ide dan kreativitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya warkop-warkop di Lamongan tidak cuma jadi tempat meratapi nasib atau menghabiskan kuota internet, tapi juga jadi rahim bagi lahirnya karya-karya hebat anak daerah. Karena kota yang maju itu bukan cuma kota yang punya banyak tempat wisata, tapi kota yang sanggup memberi ruang bagi warganya untuk tumbuh dan bersuara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malang-lebih-banyak-mengajarkan-saya-cara-hidup-daripada-jogja\/\"><b><i>Malang lebih banyak mengajarkan saya cara bertahan hidup daripada Jogja.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warlok merasa Lamongan punya segalanya, sampai mereka merantau ke Jogja dan Malang, baru sadar Lamongan ternyata punya banyak kekurangan.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":417223,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[115,2250,985,5622],"class_list":["post-417093","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-lamongan","tag-malang","tag-pantura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417093","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417093"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417093\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417222,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417093\/revisions\/417222"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417223"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417093"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417093"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417093"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}