{"id":417090,"date":"2026-09-12T12:54:17","date_gmt":"2026-09-12T05:54:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417090"},"modified":"2026-09-12T12:54:17","modified_gmt":"2026-09-12T05:54:17","slug":"pemerintah-menambal-kekurangan-guru-dengan-mahasiswa-magang-bukti-malas-mikir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pemerintah-menambal-kekurangan-guru-dengan-mahasiswa-magang-bukti-malas-mikir\/","title":{"rendered":"Pemerintah menambal kekurangan guru dengan mahasiswa magang, bukti mereka malas mikir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa daerah menerapkan solusi darurat mengatasi kekurangan guru dengan menambalnya menggunakan mahasiswa magang. Terdengar sangat solutif, tapi jujur saja, fakta ini bukti kalau pemerintah malas mikir. Kebijakan semacam ini seolah menjadi jalan pintas yang diambil tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya terhadap mutu pendidikan generasi penerus bangsa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang kebijakan ini niatnya sangat positif. Dari sisi mahasiswa bisa menambah pengalaman dan jam terbang mengajar. Untuk sekolah, bisa mengatasi masalah kekurangan guru. Tapi yang perlu dipahami mahasiswa magang tidak bisa disamakan dengan guru profesional. Ada proses panjang yang harus dilalui seorang guru sebelum benar-benar siap berdiri sendiri di depan kelas, dan proses itu tidak bisa digantikan hanya dengan status &#8220;magang&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka tetap perlu pendampingan atau supervisi dari guru, bukan dilepas begitu saja. Karena pada praktiknya, mahasiswa magang ini dijadikan bantalan empuk sebagai guru pengganti dengan upah murah. Alih-alih menjadi sarana belajar yang terbimbing, posisi mereka justru dimanfaatkan sebagai solusi hemat anggaran bagi sekolah maupun pemerintah daerah. Bayangkan masa depan kualitas pendidikan bangsa ini dipertaruhkan sebegitu gampangnya, hanya demi menutupi kekosongan tenaga pengajar secara instan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Akrobat kebijakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih merapikan sistem perekrutan guru, pemerintah malah berakrobat dalam mengambil kebijakan. Padahal dampaknya tidak main-main terhadap keberlangsungan kehidupan bangsa. Bayangkan kualitas pendidikan yang diisi oleh mahasiswa magang tanpa pendampingan. Sementara di sisi lain negara terus menuntut lahirnya generasi unggul yang siap bersaing secara global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal pemerintah pusat sudah bagus mengadakan program <a href=\"https:\/\/ppg.kemendikdasmen.go.id\/ppg-calon-guru\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PPG Prajabatan<\/a>, dan masih banyak lulusannya yang belum terserap. Mereka sudah digodok mulai dari tes pendaftaran, selama pendidikan hingga kelulusan yang tidak mudah. Dan kenapa pemerintah tidak mempergunakan mereka? Padahal secara logika, lulusan PPG jauh lebih siap secara kompetensi dibanding mahasiswa yang masih berstatus magang dan belum menyelesaikan pendidikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau alasannya terkait anggaran yang diperuntukkan untuk upah mereka, berarti pemerintah memang tidak menganggap serius sektor pendidikan ini. Karena kalau ada kemauan pasti ada jalan. Buktinya ada program yang menghabiskan dana begitu besar bisa dijalankan begitu cepat. Memang itu semua penting tapi ada yang lebih penting yaitu soal kualitas pendidikan, karena pendidikan adalah pondasi yang menentukan wajah bangsa ini beberapa dekade ke depan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mahasiswa magang jelas kerepotan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan kelas diisi oleh mahasiswa magang tanpa pendampingan. Mulai dari murid yang kurang respek, dan belum ada jaminan kualitas dari si mahasiswa yang mengajar, sedangkan murid butuh pendidikan yang berkualitas. Dan pemerintah menuntut sumber daya manusia yang unggul. Sungguh sulit menemukan korelasinya antara harapan besar pemerintah dan kebijakan kecil yang justru kontraproduktif seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa pemerintah lebih sibuk ngurusin hal-hal yang tidak penting seperti mengubah kurikulum, mengubah istilah tes, yang setiap tahun ganti. Dan melupakan esensi dari pendidikan itu sendiri. Ya memang kurikulum itu penting tapi jangan lupa ujung tombak dari pendidikan itu ya guru itu sendiri. Percuma kurikulum dirancang secanggih apa pun kalau yang mengeksekusinya di lapangan tidak memiliki kompetensi yang memadai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau diubah berapa kali dan bagaimanapun juga itu kurikulum, istilah-istilah pembelajaran, juga nama tesnya, kalau kualitas gurunya jeblok ya sama saja bohong. Apalagi mengambil jalan pintas dengan menaruh mahasiswa magang untuk mengajar di kelas tanpa pengawasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang paling bikin sakit hati, mayoritas pembuat kebijakan anaknya tidak ada yang bersekolah di negeri. Mereka menaruh anaknya di sekolah elite, yang tidak terpengaruh pendidikannya dengan kebijakan yang mereka buat. Sedangkan anak-anak dari warga biasa yang kena getahnya dari kebijakan serampangan mereka. Ironi ini seharusnya menjadi bahan renungan bersama, sebab pendidikan yang berkualitas semestinya menjadi hak semua anak bangsa, bukan hanya milik segelintir orang yang mampu membayar lebih.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Diaz Robigo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gara-gara-pada-magang-nggak-magang-jadi-kerasa-aneh-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gara-gara semua orang magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa daerah menerapkan solusi darurat mengatasi kekurangan guru dengan menambalnya menggunakan mahasiswa magang.<\/p>\n","protected":false},"author":1920,"featured_media":417156,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[16864],"tags":[2094,34898,27559,24212],"class_list":["post-417090","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-guru","tag-mahasiswa-magang","tag-mahasiswa-ppg-prajabatan","tag-ppg-prajabatan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417090","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1920"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417090"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417090\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417157,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417090\/revisions\/417157"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417090"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417090"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417090"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}