{"id":417014,"date":"2026-09-12T14:21:11","date_gmt":"2026-09-12T07:21:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=417014"},"modified":"2026-09-12T14:21:11","modified_gmt":"2026-09-12T07:21:11","slug":"kelas-bawah-tiri-kelas-yang-lebih-sengsara-dibanding-kelas-menengah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kelas-bawah-tiri-kelas-yang-lebih-sengsara-dibanding-kelas-menengah\/","title":{"rendered":"Kelas bawah tiri, kelas yang lebih sengsara dibanding kelas menengah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mana kelas menengah berkeluh kesah, di situlah mereka menyeret kelas bawah. Di media sosial, sebegitu masif kelas bawah dijadikan pembanding atas perasaan ketidakberuntungan yang kelas menengah alami. Lebih lagi, influencer dan konten kreator ketika bicara soal sukses, senantiasa melabeli kelas bawah (baca: miskin) sebagai contoh buruk atas kegagalan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya muak. Selain dibanding-bandingkan, saya juga muak karena saya tahu ada kebenaran yang tidak pernah mereka lihat. Bahwa di antara kelas bawah yang mereka iri-kan itu, ada kelas bawah yang bahkan tidak terjamah bantuan (pemerintah). Kelas bawah tiri. Begitulah saya menyebutnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kemiskinan yang tidak diakui<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelas Bawah Tiri adalah mereka yang miskin, tapi kemiskinannya tidak terbaca oleh sistem. Tunawisma tanpa KTP. Lansia yang NIK-nya dicatut untuk akun judi online. Anak yatim piatu yang statusnya \u201cFamili Lain\u201d di KK orang. Mereka ada, tapi secara administratif tidak terdata. Mereka terlalu miskin untuk dikenali sistem, bahkan mengetahui cara masuk sistem pun mereka tak tahu. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan pengamat dari menara gading, justru saya adalah salah satu subjeknya. Saya tunawisma sampai detik ini, pernah ditolak bantuan untuk orang miskin karena terlalu miskin untuk memenuhi persyaratannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit cerita, saya pernah gagal mengajukan Bidikmisi karena usia kelebihan. Gara-garanya, saya terlambat membuat KTP. Bukan karena malas mengurusnya, tapi memang saya tidak tahu bahwa KTP sepenting itu. Tidak ada yang memberitahu. Tidak ada literasi administratif yang sampai kepada saya. Alhasil, Bidikmisi pun sirna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah ditolak beasiswa untuk masyarakat kurang mampu karena tidak bisa melampirkan foto rumah. Status saya di KK hanya famili lain. Menumpang nama di KK yang punya rumah bagus. Jelaslah saya tidak bisa menggunakan rumah tersebut, terlebih itu rumah orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beasiswa ketiga yang tidak mensyaratkan foto rumah pun saya coba. Dan tetap tidak lolos. Waktu itu, yang lolos kebanyakan orang menengah, beberapa bahkan orang atas, yang punya relasi dengan pihak penyelenggara. Saya tahu karena saya kenal orang-orangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan kemudian, salah satu penerima menggunakan uang beasiswanya untuk membeli iPhone. SPP-nya sudah dibayar orangtua. mereka hanya butuh uang jajan. Orangnya sendiri bilang begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bukan hanya terjadi pada saya. Banyak yang bernasib serupa. Yang saya tahu, sebagian karena syarat administrasi, banyaknya karena kalah orang dalam. Begini, untuk diakui miskin agar mendapat bantuan saja, kami kesulitan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesalahan Pendataan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data mendukung apa yang saya alami. Per Maret 2025, BPS <a href=\"https:\/\/www.bps.go.id\/id\/pressrelease\/2025\/07\/25\/2518\/persentase-penduduk-miskin-maret-2025-turun-menjadi-8-47-persen-.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mencatat<\/a> 23,85 juta orang miskin (8,47%). Tapi berapa yang benar-benar mendapat bantuan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset Stephen Kidd dkk. menunjukkan rata-rata exclusion error (kesalahan pendataan yang berhak) global dalam program perlindungan sosial berbasis targeting mencapai 57%. Lebih dari separuh orang yang berhak justru tidak menerimanya. Di Indonesia, angka ini bahkan pernah mencapai 70% di beberapa wilayah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, temuan PPATK dan BPK menunjukkan inclusion error (kesalahan pendataan yang tidak berhak) sekitar 45%. Bantuan sosial jatuh ke PNS, pegawai BUMN, bahkan dokter. Orang miskin tidak dapat bantuan. Orang tidak miskin justru menerimanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Kabupaten Pekalongan, keluarga lansia kehilangan bansos selama 10 bulan karena KTP-nya terindikasi judi online. NIK mereka dicatut pihak ketiga. Saat KKN di Kabupaten Bandung tahun 2023, saya mendengar langsung curhat warga soal kerumitan DTKS. Banyak yang bahkan tidak tahu bahwa bansos perlu pengajuan aktif. Pantas saja seumur hidup tidak pernah mendapat bansos, saya sendiri baru tahu soal pengajuan bansos bahkan saat KKN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi jika masih berpikir orang bawah dimanja bantuan, setidaknya setengah populasi miskin tidak menerimanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kelas menengah yang tersubsidi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data World Bank menunjukkan subsidi BBM Indonesia bersifat regresif. 40% manfaatnya dinikmati 20% penduduk terkaya. Artinya begini, setiap kali kelas menengah mengisi Pertalite, mereka sedang menikmati subsidi negara. Bedanya, subsidi itu tidak datang dalam amplop atau sembako. Maka, mungkin tidak terasa seperti bantuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kelas bawah menerima BLT Rp600.000, itu disebut &#8220;bantuan.&#8221; Ketika kelas menengah menikmati subsidi BBM jutaan rupiah per tahun, itu disebut &#8220;hak.&#8221; Tambahannya, Ketika kelas atas mendapat insentif pajak, itu disebut \u201cpro-investasi.\u201d Perbedaannya bukan di substansi, tapi bagaimana bantuan-bantuan tersebut dinarasikan. Yang menguasai narasi adalah mereka yang punya akses kepada media.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kita belum menghitung tunawisma di kolong jembatan, lansia pengayuh becak, atau anak-anak yang tidur di atas gerobak rongsokan. Mereka tidak punya ponsel untuk aplikasi Cek Bansos, tidak tahu Kemensos itu apa. Mereka adalah Kelas Bawah Tiri dalam bentuk paling orisinil. Ada, tapi tidak diakui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya membuka media sosial, saya melihat keluhan kelas menengah seperti ngadu kasusah. Berlomba-lomba dalam menceritakan kesengsaraan hidup. Memang benar apa kata Bambang Pacul, kemiskinan itu enak diceritakan, tapi kalau sudah dijalani, sakitnya minta ampun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mengatakan kesulitan kelas menengah tidak nyata. Tentu saja itu nyata. PPN naik, harga properti gila-gilaan, biaya pendidikan naudzubillah. Tapi ada perbedaan kualitatif antara susah membayar cicilan rumah dan susah karena tidak punya rumah dan tidak mampu nyicil. Ada jurang antara susah bayar BPJS dan \u201cHah? BPJS? Mending makan gak sih?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Menagih janji pemerintah (pada kelas menengah dan kelas-kelas lain)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini bukan ajakan untuk perang antar-kelas. Kelas menengah mengalami kesusahan akibat kebijakan pemerintah yang amburadul. Pajak naik tanpa peningkatan layanan publik, subsidi dicabut tanpa kompensasi memadai, biaya hidup melonjak sementara upah stagnan. Data BPS bahkan menunjukkan kelas menengah sendiri menyusut dari 57,33 juta (2019) menjadi 47,85 juta (2024).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, kelas bawah terus-menerus sulit akibat tindakan pengentasan kemiskinan selalu terjebak ke dalam banalitas. Data usang, birokrasi berbelit, targeting yang lebih sering salah daripada tepat. Mau itu kelas menengah atau bawah, kedua kelas ini tidak baik-baik saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musuh kita sama. Bukan kelas bawah yang seakan mencuri benefit kelas menengah. Bukan kelas menengah yang sengaja menindas kelas bawah. Yang menciptakan kondisi ini adalah kebijakan yang gagal. Sudah saatnya berhenti saling tunjuk dan menghitung luka. Dengan semangat membara mari kita menagih janji (baca: memaki-maki) pemerintah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Haris Wahyudin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-kelas-menengah-dan-saya-beneran-pengin-kaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di mana kelas menengah berkeluh kesah, di situlah mereka menyeret kelas bawah.<\/p>\n","protected":false},"author":3310,"featured_media":417169,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[9766,34903,4311,34904,429],"class_list":["post-417014","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bansos","tag-kelas-bawah","tag-kelas-menengah","tag-kemiskinan-di-indonesia","tag-orang-miskin"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417014","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3310"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=417014"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417014\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417170,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/417014\/revisions\/417170"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=417014"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=417014"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=417014"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}