{"id":416971,"date":"2026-09-11T11:41:26","date_gmt":"2026-09-11T04:41:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=416971"},"modified":"2026-09-11T11:41:26","modified_gmt":"2026-09-11T04:41:26","slug":"dear-mahasiswa-jatinangor-baik-baik-saja-tanpa-kehadiran-kalian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-mahasiswa-jatinangor-baik-baik-saja-tanpa-kehadiran-kalian\/","title":{"rendered":"Mahasiswa tidak usah merasa penting, Jatinangor akan baik-baik saja tanpa kehadiran kalian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bAda satu penyakit yang sering menjangkiti mahasiswa di Jatinangor: merasa dirinya penting.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan penting secara akademik, melainkan merasa Jatinangor tidak bisa hidup tanpa kita. Begitu libur semester dan mahasiswa mudik, media sosial mendadak penuh keluhan tentang Jatinangor yang sepi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluhannya dramatis. Seolah-olah sepinya Jatinangor pantas jadi tragedi nasional. Padahal, Jatinangor tidak sedang kehilangan kehidupannya, daerah ini hanya sedang kehilangan konsumen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah bagaimana bayangan banyak orang terhadap daerah ini sebelum menjadi seperti sekarang. Barang kali, para mahasiswa ini merasa, tanpa mereka Jatinagor bukanlah apa-apa. Padahal, sebelum para mahasiswa datang membawa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jas-almamater-kampus-paling-keren-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jas almamater<\/a>, KTM, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">totebag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> organisasi, dan motor knalpot bising, Jatinangor baik-baik saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Daerah yang baik-baik saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jatinangor sudah punya kehidupan jauh sebelum kampus-kampus dan ribuan mahasiswa ini berdiri. Ada masyarakat yang bertani, berdagang, dan membangun ruang sosialnya sendiri. Kehadiran kampus lalu mengubah segalanya, tanah bernilai mahal, rumah warga berubah jadi kos-kosan, dan jalanan padat. Kita menyebutnya \u201cpembangunan\u201d, padahal itu cuma alih fungsi ruang hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bMari beri imajinasi sedikit. Bayangkan suatu pagi Jatinangor tanpa aktivitas kampus. Tidak ada ribuan motor memenuhi jalan, tidak ada yang menyeberang sembarangan sambil melihat layar ponsel, dan tidak ada kemacetan horor. Jalanan lengang, udara segar, sampah berkurang. Daerah ini terasa lebih tenang, hijau, dan manusiawi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang usaha lokal kehilangan sebagian konsumen, tetapi kehidupan sebuah wilayah jauh lebih luas dari sekadar dompet mahasiswa. Jatinangor tidak mati saat kita pergi, dia cuma berhenti bekerja lembur melayani kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bLucunya, mahasiswa punya kemampuan ajaib menganggap konsumsi sebagai aksi kepahlawanan. Beli <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/3-ciri-nasi-goreng-di-jogja-yang-biasanya-nggak-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi goreng<\/a> merasa membantu ekonomi lokal, beli kopi bikin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">caption<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">support local business<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal itu cuma beli makan, bukan program pemulihan ekonomi nasional. Kehadiran mahasiswa memang memutar uang, tetapi juga merusak struktur sosial-ekonomi. Warga yang dulu punya lahan, kini bergeser jadi pengelola kos atau pekerja jasa. Jadi, kalimat yang lebih jujur bukan \u201cmahasiswa menghidupkan Jatinangor\u201d, melainkan \u201cmahasiswa mengubah cara Jatinangor bekerja.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cDosa\u201d pada Jatinangor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bTentu saja, dosa ini tidak bisa sepenuhnya ditimpakan ke bahu mahasiswa. Ada aktor yang jauh lebih permanen: institusi kampus. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/sekolahan\/riset-kampus-unpad-bukan-sekadar-syarat-lulus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unpad<\/a>, ITB, dan <a href=\"https:\/\/www.ipdn.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IPDN<\/a> mendatangkan puluhan ribu manusia tiap tahun beserta dampak lingkungan yang menyertainya. Celakanya, kampus-kampus ini punya ribuan dosen, peneliti, dan laboratorium.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah Jatinangor, mulai dari banjir, macet, sampai sampah selalu diteliti. Namun, setelah masuk jurnal, apa kelanjutannya? Jangan sampai daerah ini hanya dijadikan laboratorium raksasa tempat kampus mengambil data, sementara warganya tetap menderita. Kampus harus bertanggung jawab secara nyata atas ruang hidup di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bKeberadaan kampus memang memberikan rezeki bagi sebagian warga lewat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/kos-medioker-di-jogja-harga-elite-fasilitas-sulit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kos-kosan<\/a> dan warung. Namun, masalahnya ada pada sudut pandang kita. Kita terlalu mudah merasa sebagai penyelamat hanya karena bahwa telah memberi \u201ckehidupan\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bItu mengapa, sudah saatnya mahasiswa menurunkan ego. Jatinangor bukan milik mahasiswa atau halaman belakang kampus semata. Ia adalah rumah bagi warga lokal yang sudah ada jauh sebelum kita datang. Kita datang untuk belajar, bukan untuk mengajari warga cara bertahan hidup di tengah kemacetan dan kenaikan harga tanah yang tak pernah mereka minta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bJadi, ketika libur semester tiba dan jalanan mendadak lengang, tak perlu bikin unggahan sentimental. Jalan yang sepi bukan berarti kota mati, dan kosan yang kosong bukan berarti Jatinangor kehilangan identitas. Jangan-jangan, yang selama ini kita sebut \u201cJatinangor hidup\u201d hanyalah Jatinangor yang sedang sibuk melayani kita. Dan, saat kita pulang kampung, Jatinangor bukannya mati, ia cuma akhirnya punya waktu untuk bernapas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Irpan Maulana Arip<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-istimewa-tapi-bandung-lebih-sempurna-untuk-ditinggali\/\"><b><i>Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa di Jatinangor tidak perlu merasa dirinya yang paling penting. Daerah di Jatinangor akan baik-baik saja tanpa kehadrian kalian. <\/p>\n","protected":false},"author":3301,"featured_media":417029,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[6501,194,3220,34,5807,18529,3222],"class_list":["post-416971","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ipdn","tag-itb","tag-jatinangor","tag-mahasiswa","tag-perantau","tag-perantauan","tag-unpad"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3301"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=416971"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417047,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416971\/revisions\/417047"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/417029"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=416971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=416971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=416971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}