{"id":416869,"date":"2026-09-09T11:49:16","date_gmt":"2026-09-09T04:49:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=416869"},"modified":"2026-09-09T11:49:16","modified_gmt":"2026-09-09T04:49:16","slug":"work-life-balance-pekerjaan-dan-hidup-seimbang-omong-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/work-life-balance-pekerjaan-dan-hidup-seimbang-omong-kosong\/","title":{"rendered":"Work-life balance itu semacam mantra omong kosong karena hidup dan pekerjaan nyatanya nggak bisa seimbang"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat saja, work-life balance itu mitos atau beneran? Kok rasanya kayak omong kosong aja karena nyatanya hidup dan pekerjaan nggak pernah bisa seimbang.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Mojok mengunggah gambar yang menohok di Instagram. Tiga panel, satu perempuan, dan satu kalimat yang menghantui hampir semua pekerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"instagram-media\" style=\"background: #FFF; border: 0; border-radius: 3px; box-shadow: 0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width: 540px; min-width: 326px; padding: 0; width: calc(100% - 2px);\" data-instgrm-captioned=\"\" data-instgrm-permalink=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DdBahZpmbiZ\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" data-instgrm-version=\"14\">\n<div style=\"padding: 16px;\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; align-items: center;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 19% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: block; height: 50px; margin: 0 auto 12px; width: 50px;\"><\/div>\n<div style=\"padding-top: 8px;\">\n<div style=\"color: #3897f0; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: 550; line-height: 18px;\">View this post on Instagram<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 12.5% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;\">\n<div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: 8px;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;\"><\/div>\n<div style=\"width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: auto;\">\n<div style=\"width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);\"><\/div>\n<div style=\"width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;\"><\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; line-height: 17px; margin-bottom: 0; margin-top: 8px; overflow: hidden; padding: 8px 0 7px; text-align: center; text-overflow: ellipsis; white-space: nowrap;\"><a style=\"color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: normal; line-height: 17px; text-decoration: none;\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DdBahZpmbiZ\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">A post shared by MOJOK (@mojokdotco)<\/a><\/p>\n<\/div>\n<\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/www.instagram.com\/embed.js\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panel pertama, si perempuan memijat pelipisnya di meja kerja. Kedua, dia membungkuk dan membenamkan wajah ke telapak tangan. Panel ketiga, dia bangkit, menatap layar komputer, mengetik, lalu bergumam, &#8220;<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terima-kenyataan-bahwa-work-life-balance-memang-bukan-untuk-semua-pekerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">I love my job<\/a>&#8221; tiga kali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua mengenali adegan itu. Dena Isni Pasha, ilustratornya, secara akurat menggambarkan isi hati para pencari keseimbangan antara hidup dan pekerjaan. Yang pada akhirnya sepakat kalau itu semua omong kosong.<\/span><\/p>\n<h2><b>Work-life balance itu beneran nggak sih?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Caption unggahan itu bertanya santai. Sudahkah kalian mencapai work-life balance itu, Kawand? Pertanyaan pendek, efeknya panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hati kecil menjawab, &#8220;Belum,&#8221; tapi mulut malah membalas story HRD dengan emoji api dan kalimat &#8220;Siap, aman!&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita hidup di zaman yang menjadikan <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/pentingnya-work-life-balance-dan-cara-mewujudkannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">keseimbangan sebagai slogan poster<\/a>, bukan sebagai hak. Perusahaan menempelkannya di dinding koridor, memotretnya untuk laporan tahunan, lalu melupakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari jujur sebentar soal sejarahnya. Serikat pekerja dulu memperjuangkan jam kerja yang manusiawi. Mereka turun ke jalan, mogok, dan menagih hak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manajemen modern mewarisi istilah itu, menyulapnya menjadi bahasa kerah putih yang lucu, dan para direktur menyukainya. Sejak saat itu, bos boleh mengucapkan &#8220;work-life balance&#8221; di depan kamera, tetapi tidak ada yang memangkas kerja tambahan dan tidak ada yang merevisi gaji. Kamus kantor kita bertambah satu istilah indah, dan kita memakainya buat mengeluh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sindiran yang on point kalau kata saya: pekerjaan dan hidup nggak mungkin seimbang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerjaan bikin pusing, kehidupan juga bikin pusing (Slide 2)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerja lelah, kehidupan ikutan melelahkan (Slide 3)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerjaan sulit, kehidupan sama saja (Slide 4)\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerjaan berantakan, kehidupan juga berantakan (Slide 5)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, begitulah, jangan merasa aneh kalau saya bilang work-life balance itu omong kosong. Lebih banyak orang yang nggak bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan karena banyak kebutuhan esensial tak terjangkau lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang itu nggak punya pilihan. Mereka hanya bisa (dan harus) menambah jumlah pekerjaan, menghabiskan banyak waktu dalam kehidupannya, ya semata supaya \u201cbisa hidup\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau cuma satu pemasukan, mereka nggak bisa memenuhi kebutuhan dasar, apalagi nabung. Sudah begitu, \u201cterjebak\u201d dalam konsep <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/generasi-sandwich-bajingan-bikin-saya-tak-lagi-cinta-keluarga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sandwich generation<\/a> lapis 3. Ditambah lagi berstatus WNI. Api neraka aja kalah panas itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, menurut saya, work-life balance itu sama kayak slow living. Sebuah konsep yang hanya bisa digapai oleh orang kaya. Ya karena sesuatu yang paling mahal itu sekarang adalah waktu. Work-life balance dan slow living itu kan separuhnya adalah usaha membeli waktu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi, sudahkah kalian mencapai work-life balance itu, Kawand?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok menutup unggahannya dengan pertanyaan dan pilihan itu sudah tepat. Teks Dony Iswara dan gambar Dena mengingatkan satu. Bagi banyak orang, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/status-karyawan-tetap-nggak-istimewa-di-mata-gen-z\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">keseimbangan sering hidup di mulut saja<\/a>. Keseimbangan paling realistis hari ini cuma satu, yaitu keseimbangan antara pura-pura waras dan benar-benar lelah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sisanya? Perusahaan menyerahkannya ke kita. Kita yang memijat pelipis, berusaha tersenyum ke layar, lalu bergumam, &#8220;I love my job,&#8221; sementara kantor memetik gumaman itu untuk brosur promosinya yang berjudul &#8220;Karyawan Bahagia&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, sudahkah kalian mencapai work-life balance itu, Kawand? Kalau belum, jangan sedih. Kalian mengejar barang yang memang tidak ada di etalase. Kalau sudah, kalian berbohong, dan itu manusiawi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membohongi diri sendiri, kan, hak asasi paling gratis yang masih ada. Boleh juga kalian menertawakan diri di kolom komentar. Kantor tidak melarang orang tertawa, asal sambil bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya undur diri dulu. Laptop sudah memanggil, deadline sudah menagih, dan saya harus mengulang mantra: I love my job. Kalian juga, kan?<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/gen-z-pilih-jadi-staf-biasa-demi-work-life-balance\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Standar Orang Have Menurut Gen Z: Pilih Jadi Staf Biasa demi Work-life Balance, Muak dengan Tuntutan Pekerjaan<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Work-life balance itu omong kosong. Mantra orang yang pura-pura waras menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan. <\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":416872,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13080],"tags":[838,3207,72,23282,11618],"class_list":["post-416869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-karyawan","tag-kerja","tag-pekerjaan","tag-slow-living","tag-work-life-balance"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=416869"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416869\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":416873,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416869\/revisions\/416873"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/416872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=416869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=416869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=416869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}