{"id":416551,"date":"2026-09-06T17:58:39","date_gmt":"2026-09-06T10:58:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=416551"},"modified":"2026-09-06T17:58:39","modified_gmt":"2026-09-06T10:58:39","slug":"mending-ke-kotagede-jogja-daripada-maliboro-yang-bikin-bosan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mending-ke-kotagede-jogja-daripada-maliboro-yang-bikin-bosan\/","title":{"rendered":"Mending plesir ke Kotagede Jogja kalau nggak betah dengan Malioboro yang ramai dan gitu-gitu aja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saudara sepupu saya yang tinggal di provinsi lain berkunjung ke Jogja. Sebagaimana biasanya setiap kali ke Jogja, dia minta diantar ke Malioboro. Dia nggak pernah absen main ke Malioboro. Cuma yang berbeda kali ini ia mengatakan bahwa Malioboro sudah nggak seperti dulu. Malioboro yang sekarang ramai, sesak, dan kurang seru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malioboro memang destinasi favorit wisatawan dari luar daerah. Lokasinya dekat banget dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/stasiun-tugu-jogja-nggak-cocok-untuk-orang-yang-suka-drama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Tugu Yogyakarta<\/a>, yang menjadi tempat pemberhentian bagi para pelancong yang datang dengan kereta api. Begitu keluar stasiun, mereka langsung mampir ke Malioboro. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Branding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Malioboro sebagai tempat wisata yang wajib dikunjungi kalau main ke Jogja juga sangat kuat. Nggak heran kalau Malioboro selalu ramai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, berkunjung ke suatu tempat wisata yang penuh sesak juga rasanya nggak akan nyaman. Mau foto-foto susah, cari tempat duduk sudah penuh semua, belanja dan sightseeing pun nggak leluasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, ada tempat wisata yang \u201cJogja banget\u201d karena identitas dan kekhasan kota ini melekat di sana. Lokasinya pun nggak jauh dari pusat Jogja. Main ke sini dijamin nggak akan menyesal. Tempat ini adalah Kotagede.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semua yang kamu cari ada di sana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kotagede adalah kemantren (setara kecamatan) di sisi selatan Kota Jogja. Kalau dari Stasiun Tugu perjalanannya cuma setengah jam naik mobil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kotagede Jogja bukan kawasan wisata yang ramai seperti Malioboro. Tempat ini juga bukan satu jalan yang kanan-kirinya diapit toko-toko dan pusat perbelanjaan. Dia menawarkan wisata yang lebih tenang dan slow-paced.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menjadi ibu kota <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kesultanan_Mataram\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mataram Islam<\/a> pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Kotagede memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Ikon Kotagede yang paling populer adalah Kompleks Makam Pasarean Mataram dan Masjid Ageng Kotagede. Kotagede pun dikenal sebagai sentra produksi perak yang bisa kita lihat dan jajal langsung proses pembuatannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisatawan yang tertarik dengan sejarah Kotagede atau suka main ke museum juga bisa mampir ke Museum Kotagede. Kalau beruntung, wisatawan bisa sekalian ikut program yang diadakan secara rutin oleh museum, seperti belajar gamelan, sepedaan keliling Kotagede, dan main permainan tradisional Jawa. Museum ini sudahlah gratis, bagian depan sampai isinya pun cakep!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya ikon utamanya, bangunan-bangunan tua dalam bentuk tempat tinggal juga menghiasi tiap sudut Kotagede. Bahkan, gang-gang kecil di Kotagede pun menawarkan keestetikan yang mungkin nggak akan bisa kita temukan di tempat lain di Jogja. Nggak heran kalau pelancong yang mampir dan foto-foto di Kotagede pasti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feed<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-nya langsung jadi makin estetik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau perut sudah keroncongan, sesi santap-santapnya sekalian di Kotagede aja. Jajanan pasar dan street food bisa dijumpai dengan mudah dan murah meriah di Pasar Kotagede. Lalu malamnya bisa nongki di kafe-kafe cantik yang tersebar di Kotagede.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kotagede Jogja lebih nyaman untuk wisata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengeksplorasi sejarah, budaya, dan nuansa di Kotagede Jogja terasa jauh lebih nyaman dibandingkan Malioboro yang sudah penuh sesak. Sisi-sisi Kotagede pun belum banyak dikapitalisasi sehingga masih terasa otentikasinya. Kotagede relatif masih asli dalam mempertahankan warisan budayanya. Wisatawan pun bisa merasakan langsung vibes kehidupan warga lokal Kotagede.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat main ke Kotagede, sangat saya sarankan untuk mengulik langsung setiap sudutnya. Seperti yang tadi saya singgung, gang-gang di Kotagede estetiknya bukan main. Siapkan storage sebanyak-banyaknya, soalnya saya yakin siapapun nggak akan tahan untuk nggak foto-foto di Kotagede.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengeksplorasi Kotagede bisa dengan jalan kaki atau naik sepeda. Kalau jalan kaki, wisatawan bisa langsung \u201cganti<em> skin<\/em>\u201d menjadi warga lokal karena jalan-jalannya berdampingan langsung dengan rutinitas harian warga Kotagede.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengin naik sepeda pun nggak perlu repot bawa sepeda sendiri dari rumah. Museum Kotagede secara rutin mengadakan program sepedaan keliling Kotagede. Ada pula pilihan lain mengikuti <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/booking-lahan-camp-di-gunung-oleh-biro-open-trip-itu-nggak-masuk-akal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">open trip<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Kotagede yang mudah juga ditemukan di sosial media.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengeksplorasi Malioboro mungkin nggak akan terasa sama karena kanan-kirinya pertokoan dan keramaian, belum lagi macetnya. Kotagede menjanjikan wisata yang lebih nyaman dan berkesan lewat arsitektur bangunan, sejarah, budaya, dan nuansanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Noor Annisa Falachul Firdausi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BACA JUGA <\/span><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-paham-malioboro-jogja-yang-telanjur-dipercaya-orang\/\"><b>Salah Paham Terkait Jalan Malioboro Jogja yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang, bahkan oleh Orang Jogja Sendiri.<\/b><\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a> <i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kotagede Jogja bisa jadi pilihan destinasi bagi wisatawan yang sudah bosan dengan Malioboro yang ramai dan gitu-gitu aja. <\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":416553,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-416551","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=416551"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416551\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":416555,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416551\/revisions\/416555"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/416553"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=416551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=416551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=416551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}