{"id":415737,"date":"2026-08-31T13:54:30","date_gmt":"2026-08-31T06:54:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=415737"},"modified":"2026-08-31T13:54:30","modified_gmt":"2026-08-31T06:54:30","slug":"4-makanan-khas-grobogan-selain-swike","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-makanan-khas-grobogan-selain-swike\/","title":{"rendered":"4 Makanan khas Grobogan selain swike yang wajib masuk daftar wajib jajan wisatawan"},"content":{"rendered":"<p>Grobogan memang bukan nama pertama yang muncul di kepala saat merencanakan liburan. Kabupaten ini jarang sekali masuk daftar destinasi andalan para pelancong yang menginginkan pemandangan pantai atau udara sejuk pegunungan. Tapi, urusan perut, daerah ini punya cara sendiri untuk unjuk gigi.<\/p>\n<p>Selama ini, kalau bicara soal makanan khas Grobogan, yang paling kerap disebut adalah swike. Sayangnya, hidangan ini jelas bukan tipe makanan yang bisa dinikmati semua kalangan. Terutama, karena status kehalalannya.<\/p>\n<p>Namun, jangan buru-buru putar balik. Sebab, nyatanya Grobogan menyimpan sederet kekayaan kuliner lain yang wajib dijajal sebelum pulang.<\/p>\n<h2><strong>#1 Sayur Becek, kasta tertinggi olahan daging sapi di Grobogan<\/strong><\/h2>\n<p>Jangan terkecoh oleh embel-embel \u201cbecek\u201d yang terkesan sembarangan. Sebab, sajian ini adalah bukti masyarakat Grobogan memperlakukan daging sapi dengan penghormatan tertinggi. Bahan utamanya adalah balungan atau tulang iga sapi yang direbus perlahan hingga sumsumnya meleleh ke dalam kaldu.<\/p>\n<p>Kejeniusan <a href=\"https:\/\/grobogan.go.id\/jelajah-grobogan\/sayur-becek\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sayur Becek<\/a> sebenarnya terletak pada daun kedondong sebagai kunci rahasia pengasam kuah. Pasalnya, alih-alih menggunakan asam jawa yang lembut atau jeruk nipis yang umum, daun kedondong memberikan sensasi asam fruity yang tajam dan sedikit sepat. Asam inilah yang memotong lemak sapi dengan sangat presisi guna menciptakan keseimbangan rasa yang agresif sekaligus adiktif.<\/p>\n<h2><strong>#2 Sego Pager, sarapan tradisional paling merakyat<\/strong><\/h2>\n<p>Kuliner Grobogan ini dinamakan demikian karena filosofi penyajian sayurannya yang mengelilingi nasi layaknya pagar pelindung. Komposisi utamanya adalah nasi jagung atau nasi putih yang disiram urap sayuran hijau. Umumnya, dedaunan yang digunakan adalah daun pepaya, kenikir, atau daun singkong yang kemudian ditaburi parutan kelapa berbumbu kencur.<\/p>\n<p>Lauknya bisa berupa tempe atau tahu bacem yang khas panganan merakyat. Sekilas, santapan khas Grobogan ini memang seperti sayur pecel biasa, tapi rasanya jauh lebih kaya. Ada sensasi pahit, pedas sekaligus hangat dari kencur, serta manis gurihnya kelapa. Kalau membuka pagi dengan Sego Pager, dijamin perut akan kenyang tanpa membuat lambung terasa begah.<\/p>\n<h2><strong>#3 Ayam Pencok, bukan sekadar ayam panggang biasa<\/strong><\/h2>\n<p>Ayam kampung panggang ini bukanlah ayam bakar kecap yang biasa ditemukan di banyak warung makan. Sebab, daging ayam kampung mudanya dipanggang utuh di atas bara kayu. Alhasil, tersembul aroma smoky yang meresap hingga serat terdalam.<\/p>\n<p>Belum lagi, terselip kejutan dari bumbu pencoknya. Yakni kelapa parut yang disangrai bersama kencur dan cabai mentah. Teksturnya memang jadi sedikit berpasir. Namun, sensasi kontras ini malah menyeimbangkan kelembutan daging ayam kampungnya saat menyatu di rongga mulut.<\/p>\n<h2><strong>#4 Sayur Lompong, eksotisme kuliner Grobogan berbahan batang talas<\/strong><\/h2>\n<p>Mengolah batang talas atau lompong adalah ujian memasak dengan teknik tingkat tinggi. Kalau salah penanganan, sayur ini akan meninggalkan rasa gatal yang menyiksa. Untungnya, masyarakat Grobogan sudah piawai menaklukan bahan alam yang satu ini.<\/p>\n<p>Pertama, lompong dimasak perlahan dalam kuah santan encer yang kaya rempah dan cabai. Karena sifat serat batangnya yang berongga, lompong mampu menyerap rasa gurihnya santan dan pedasnya bumbu ke dalam setiap pori-porinya. Sensasi saat mengigitnya mengingatkan penikmat hidangan sayur ini pada tekstur spons yang lembut berair dengan semburan kuah santan pedas.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, jangan tergesa-gesa melaju saat melewati jalur Grobogan yang dikenal bak medan perang kendaraan. Di balik jalanannya yang brutal, Grobogan ternyata siap menyambut perut lapar siapa saja yang mau bertandang. Sebab, mahakarya kuliner bisa jadi justru terpendam di sebuah daerah yang namanya jarang dilirik orang.<\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-sisi-lain-grobogan-yang-nggak-banyak-orang-tahu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Sisi Lain Grobogan yang Nggak Banyak Orang <span style=\"text-decoration: underline;\">Tahu<\/span><\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik jalanannya yang brutal, Grobogan ternyata siap menyambut perut lapar siapa saja yang mau bertandang.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":377314,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[18684,34721,34720,31679],"class_list":["post-415737","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-grobogan","tag-grobogan-ada-di-mana","tag-kuliner-khas-grobogan","tag-swike"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415737","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=415737"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415737\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":415742,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415737\/revisions\/415742"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/377314"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=415737"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=415737"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=415737"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}